Jejak Islam

Ziarah Kepada Leluhur Penyebar Islam di Nusantara (3)

Written by Panji Masyarakat

Nuansa Makam di Luar Jawa

Perkembangan Islam di Jawa secara umum memiliki hubungan dengan luar Jawa. Seperti pada peta aliran masuknya Islam, diduga kuat bahwa Islam masuk ke Nusantara melalui Aceh. Meskipun untuk itu tidak tertutup kemungkinan adanya aliran – melalui kedatangan kapal-kapal dagang para musafir – yang langsung misalnya ke Tuban, Giri, Banjar, Ternate dan sebagainya. Hal ini mengingat Aceh bukan satu-satunya pelabuhan dagang di Nusantara, lainnya adalah Banten, Tuban, Gresik, Kalapa, Makssar, Ternate, dan sebagainya.

Boleh jadi Barus pernah menjadi bandar pelayaran samudera pada masanya. Karena itu, hipotesis aliran masuknya Islam ke Aceh kemudian menjadi dua aliran, melalui pantai barat dan timur Sumatera. Namun ada pula dugaan bahwa Islam dibawa dari arah utara, mengingat pada abad 2-3 H sebagian penduduk salah satu tempat di daratan Cina diberitakan telah menganut Islam, seperti tampak pada pertaggalan beberapa inskripsi nisan. Sejauh ini, dugaan terakhir belum dikaji secara mendalam.

Dari aspek epigrafis, saya berpendapat adanya perbedaan antara bukti-bukti epigrafis masukan anasir asing dan bukti-bukti epigrafis yang menonjolkan kreativitas lokal. Di Kuatakarang, Samudera, Aceh Utara, terdapat sebuah nisan yang bahan dan bentuknya sama dengan nisan Maulana Malik Ibrahim. Yakni nisan dengan nama wafat Nahrisyah dengan tahun wafat 831 H (1428 M), dibuat dari marmer, mengandung silsilah raja-raja nenek moyang Nahorsyah sampai dengan Sultan Malikush Shaleh. Inskripsi ditulis dengan gaya Kufi. Nisan ini sepenuhnya menyerap anasir asing.

Sebaliknya, bentuk-bentuk dan hiasan nisan di Barus, termasuk nisan yang bertuliskan Siti Tuhar Ami Suri (696 H/1297 M) dan nisan-nisan yang termasuk kategori “batu Aceh”, memperlihatkan dominasi gaya lokal,  seperti bentuk-bentuk antropomorfik di Barus. Hal tersebut tampak pula pada bentuk-bentuk nisan yang tersebar di Kabupaten Solok, Tanah Datar dan Agam di Sumatera Barat. Di sebagian provinsi ini tampak menonjol penampilan anasir-anasir megalitis dan Hinduistis. Tipe-tipe nisan tersebut jelas sebarannya di situs-situs megalit Kabupaten Lima Puluh Koto.

Tipe-tipe “Batu Aceh” dikenal luas di Nusantara, baik di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi.Lombok, maupun Sumbawa. Meskipun tentu saja tidak seluruh unsur tipe Aceh itu tercakup dalam peta sebaran. Tipe serupa juga terdapat di Penyengat, Pulau Bintan, Palembang, dan Lampung.

Makam-makam di daerah Sulawesi Selatan umumnya memperlihatkan corak lokal, kaya akan hiasan floralistik, antropomorfik, dan beberapa di antaranya menyerap unsur-unsur megalitis. Hal terakhir ini tampak misalnya pada penggunaan arca-arca manusia sebagai nisan, dengan jirat makam yang menyerupai konstruksi serta struktur percandian. Di luar Indonesia, tipe ini tersebar di Thailand Selatan, Malaysia dan Brunei Darussalam, bahkan mungkin juga di Filipina Selatan.

Simbiosis anasir pra-Islam dan Islam pada sejumlah makam di Sulawesi Selatan mungkin analog dengan hal yang terjadi di pada kompleks makam di Solok, Tanah Datar, dan Agam di Sumatera Barat. Bila referensi bentuk makam-makam Islam di daerah itu mengacu pada bentuk-bentuk menhir di situs-situs Kabupaten Lima Puluh Koto yang megalitis, maka di Sulawesi Selatan, arca-arca yang digunakan sebagai nisan makam Islam, bentuk dan pengayaan arca-arca nisannya sangat mirip dengan bentuk dan gaya relief-relief mansia yang dipahatkan pada sarkofagus “waruga” di Minahasa yang megalitis.     

Bersambung

Penulis: Prof. Dr. Hasan Muarif Ambary (1939-2006).  Semasa hidupnya dikenal sebagai arkeolog, pakar kepurbakalaan Islam. Guru besar UIN Syarif Hidayatullah ini pernah menjabat Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Sumber: Majalah Panjimas, 27 Novemberr- 12 Desember  2002.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda