Tasawuf

Rahmat Menjelang Ajal

Dua malaikat ganteng, rapi, dan wangi menyertai malaikat pencabut nyawa, membungkus ruh Anda dengan kain sutera dan membawanya hingga sidratul muntaha.

Rabbana la tarzigh qulubanaa ba’da idz hadaitanaa wahab lanaa mil-landunka rahmah. Innaka antal wahhaab. (Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati Kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau. Sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi) Q.S 3:8

Demikianlah di antara doa-doa yang sering kita ucapkan. Menurut Al-Ghazali, sesat dalam konteks ayat tersebut adalah ketika kita menghadapi kematian. Maklumlah, ketika jiwa mencapai puncaknya alias sekarat, ia akan menghadapi berbagai tantangan dari fitnah (baca; cobaan).. Iblis, misalnya. Seketika itu juga ia mengutus para pendukung dan kroninya untuk mendatangi si calon mati. Makhluk-makhluk buruk rupa ini, ajaibnya, mendadak berubah rupa, menjadi para pendahulu yang telah tiada—–orang-orang yang sangat dicintai si calon mati, yang biasa menasihatinya. Bisa ayah, ibu, saudara-saudara, atau kawan terdekat. Misinya: mengajak mati kufur.

Maka, untuk menghindari fitnah yang tidak perlu, kita tak putus-putusnya mengharap rahmat Allah untuk tetap mengukuhkan iman kita sampai akhir hayat. Kata Ghazali, ada yang menyebut rahmat yang dimaksudkan ayat itu adalah Jibril. Malaikat ini akan datang selagi kita sekarat (Amin Allahumma Amin), megusap wajah kita yang sudah layu. Dan yess! Memperoleh kebahagiaan yang tiada tara ini kita pun tersenyum. Jangan Anda bayangkan dulu, di kiri kanan para kerabat sedang menunggu dengan sedih. Sebab, kematian tidak pernah berkompromi kapan ia akan datang. Maka, di antara kita ada yang mati ketika sedang salat, sibuk bekerja, dalam perjalanan di darat, laut maupun udara, atau ketika kita sedang menikmati hiburan, La ysstaqdimuuna sa’tan wa laa yasta’khiruun. Kata Allah, kita tidak bisa menunjukan atau menundanya, walau hanya sekejap.  

Tapi bukan Jibril sang pencabut nyawa. Karena itu, kita belum sepenuhnya mati. Kabarnya, ketika malakul maut alias si pencabut nyawa datang kepada orang-orang yang tergolong bakal hidup bahagia di kampung (atau kota?) akhirat, dia diiringi dua malaikat berwajah rupawan. Berpakaian bagus dan rapi, dan alamak…… parfumnya itu yang tidak ketulungan wanginya. Semerbak! Kedua makhluk Allah yang ganteng-ganteng ini (jangan dibayangkan dia laki-laki sebab malaikat bukan laki-laki dan bukan pula perempuan) akan membungkus sang ruh dengan kain sutera (kualitasnya bergantung pada derajat ketakwaan kita kepada Allah) dan membawanya ke angkasa, menembus langit-langit Allah hingga sidratul muntaha.

Ada hadis riwayat Anas ibn Malik, dari Umar ibn Khattab Nabi bersabda: “Seorang laki-laki yang mati, lalu tiga orang menyaksikan kebaikannya, orang itu berhak masuk sorga.”

Umar pun bertanya, “Jika hanya dua orang.” jawab Nabi. “Dan aku,” kata Umar, “tidak menanyakan kepada beliau, bagaimana jika hanya seorang.”

Tapi, bagaimana ketika seorang hamba meregang nyawa?

Kata Rasulullah, “Sungguh, satu kali mati adalah jauh lebih sakit daripada tiga ratus kali pukulan pedang.” Tubuhnya bercucuran keringat, kedua mata menjuling, ujung hidung mengembang, tulang-tulang iga terangkat, warna kulit pun pias. Kondisi demikian terjadi pada siapa saja: orang salih maupun bergajul. Bahkan, Muhammad s.a.w., sebagaimana dipaparkan Aisyah r.a., saat sekarat, terlihat sedemikian rupa. Beliau terbaring di pangkuan Aisyah, yang terlinang air mata menyaksikan perubahan demi perubahan menjelang Rasulullah wafat. Putri Abu Bakr ini pun bersyair:

Demi jiwaku, kutebus deritamu keluhan dan kepedihan

Tak pernah tersentuh sekali pun sebelumnya derita seperti ini

Padahal dirimu tak pernah bergetar oleh peristiwa mengejutkan

Aku tak pernah melihat wajahmu seperti kuda melenguh keras ketika warna mayit memucat sedang cahaya wajahmu bersinar terang.

*Ditulis bersama Iqbal Setyarso mantan wartawan Panji Masyarakat yang kini aktif di lembaga kemanusiaan ACT (Aksi Cepat Tanggap), Jakarta.

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda