Cakrawala

Keadilan dan Penegakkan Hukum, Jalan Menuju Takwa

Written by Arfendi Arif

Salah satu akhlak yang paling terpuji dianjurkan ajaran Islam adalah bersikap adil. Bukan saja perintah ini terdapat dalam Al-Quran dan hadist tetapi dipraktekkan para sahabat nabi yang saleh. Bersikap adil merupakan ajaran fundamental dan utama dalam Islam. Keadilan diterapkan bukan hanya di lingkungan intern Islam, tetapi untuk golongan lain di luar umat Islam.

Secara sederhana keadilan itu bisa didefinisikan yaitu kemampuan untuk menghormati hak orang lain. Filosof Romawi Cicero mengatakan, adil itu perasaan tidak mau menimpakan mudharat kepada orang lain. Dan mengembalikan apa yang wajib dikembalikan kepada pemiliknya yang berhak.

Hamka, menyebutkan ada 4 unsur yang terdapat dalam keadilan, yaitu menghormati hak orang lain; memperbaiki barang yang tidak baik yang diberikan pada orang lain walaupun kecil, menepati janji,: dan menghargai jasa orang.

Dari paparan di atas cukup jelas yang namanya keadilan adalah kehidupan dalam masyarakat dimana hak-hak setiap orang merasa terlindungi tanpa kekhawatiran diganggu, dilukai atau dikuasai orang lain baik karena perbedaan status sosial, ekonomi, pendidikan, agama, ras, kekuasaan dan lain sebagainya.
.
Lawan dari keadilan adalah kezaliman yaitu suatu suasana ketidaknyamanan akibat nafsu superioritas manusia sehingga terjadi penindasan  dari golongan yang merasa kuat pada yang lemah. Maka, dalam situasi ketiadaan keadilan keamanan orang menjadi terancam, yang dirasakan hanya suasana yang mencekam. Karena itulah dalam Islam kezaliman itu diharamkan.

Tiada Pilih Kasih

Islam mengatakan keadilan itu dekat dengan takwa. Artinya, jalan takwa sudah hampir tercapai dengan seseorang mempraktekkan keadilan dalam hidupnya. Allah berfirman dalam Al-Quran,” Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa” (al-Maidah ayat 8). Dan takwa itu sendiri salah satu maknanya adalah orang yang dekat dengan Allah. ” Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa” (al-Baqafah ayat 194).

Khalifah Umar bin Khattab mengatakan adil itu adalah bukti kedekatan dan ketakwaan seseorang jepada Allah. Jadi jelaslah bahwa sifat adil itu sangat penting sehingga dapat mencapai puncak tertinggi dalam kehidupan beragama, yakni ketakwaan kepada Allah yang merupakan dambaan umat beragama (Islam).

Sementara itu dalam Al-Quran dijelaskan adil itu diberlakukan bukan hanya dalam kepemimpinan, tapi juga di berbagai lingkungan. Dalam surat 6 .(an-An’am) ayat 152 disinggung sikap adil dalam berkata-kata, dalammenggunakan timbangan dan takaran. ” Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermartabat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekadar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah kerabatmu, dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat”.

Ayat ini jelas menggambarkan bahwa keadilan harus diberlakukan dalam bertransaksi jual beli, jangan merugikan orang lain dengan mengurangi timbangan dan takaran. Sikap ini jelas sangat tercela dan masuk kategori perilaku yang tidak adil. Dalam surat 83 (al-Muthaffiin) ayat 1-3 Allah mengutuk orang yang berlaku curang seperti ini.” Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. Yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi”.

Sikap seperti itu jelas hanya mementingkan diri sendiri dan tidak merasakan kerugian orang lain. Keadilan dengan demikian haruslah juga diartikan dalam transaksi jual beli yang saling menguntungkan dan menyenangkan kedua belah pihak tanpa ada yang dirugikan atau dipaksa.

Begitu juga seorang harus adil dalam berkata-kata, menyampaikan kebenaran walaupun terhadap kerabat sendiri, tidak ada yang disembunyikan atau enggan menyampaikan kesalahan orang lain karena sungkan atau takut tidak disukai, atau merasa ada keuntungan yang hilang jika berani menyalahkan lawan bicara. Kebenaran yang disampaikan bisa mencegah seseorang untuk tidak terjerumus pada hal yang dapat merugikan. Dengan demikian adil dalam berkata-kata merupakan kemampuan untuk menyampaikan kebenaran walaupun ada resiko tidak disukai seseorang. Namun, hal ini sebenarnya menyangkut metode atau cara menyampaikan. Tentulah kebenaran itu janganlah diungkapjan dengan gaya yang vulgar atau kasar, tetapi dipilih cara yang yang bijaksana. Islam sendiri menyuruh cara yang  seperti itu sebagaimana firman Allah dalan surat-an-Nahl ayat 125. “Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik pula”.

Kemudian Islam juga menekankan keadilan dalam menegakkan hukum. Firman Allah dalam surat an-Nisa ayat 58 ” Sesunggihnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan menyuruh kamu apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu nenetapkan dengan adil”.

Memang kata adil itu mudah diucapkan, tetapi butuh perjuangan berat untuk memiliki sifat terpuji ini. Karena itulah dalam ayat 135 surat an-Nisaa Tuhan mengaitkan kata adil itu dengan nafsu. Artinya, janganlah manusia mengikuti nafsunya untuk berlaku tidak adil. Termasuk pula berlaku tidak adil ketika menjadi saksi dalam persidangan. ” Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi sakai karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya atau miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin nenyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan kata-kata atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan”.

Disini tepat sekali kata-kata Al-Quran bahwa kalau nafsu yang dominan mempengaruhi manusia maka keadilan menjadi tertutupi. Subjektivitas mempengaruhi manusia untuk berlaku tidak adil, apalagi kalau yang dihadapi adalah musuh atau orang yang kita benci maka disitu keadilan makin berat untuk diterapkan. Maka, jauh-jauh hari Islam telah mengingatkan agar manusia hati-hati dalam.menegakkan keadilan ini, janganlah subjektifitas atau nafsu itu mengemuka dan menghalangi manusia untuk berlaku adil. Inilah yang dimaksudkan dalam firman Allah dalam surat al-Maidah ayat 8. “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”

Dalam masyarakat kita saat ini kata keadilan dan hukum sedang menjadi sorotan. Masyarakat kita masih merasa ada ketimpangan dalam penegakkan hukum dan keadilan. Ia dianggap masih jauh dari harapan, dan kalah dengan kekuasaan.

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda