Bintang Zaman

Abu Hurairah (4): Riwayat Sang Sasaran Tembak

Written by Hamid Ahmad

Khalifah Umar ibn Khattab pernah melarang Abu Hurairah menyampaikan hadis, dan hanya menyampaikan ayat Quran. Mengapa? Dan mengapa pula larangan itu kemudian dicabut?

Siapa sangka, sebenarnya sahabat Nabi yang banyak menghapal hadis ini awalnya adalah orang yang lemah ingatannya. Dalam beberapa riwayat disebutkan, betapa Abu Hurairah ini mengeluh, ia tidak kuat menghapal. Lalu ia memohon Nabi Muhammad s.a.w. mendoakannya agar setiap hadis yang didengarnya, segera melekat kuat dalam ingatan. Kemudian Nabi menyuruh Abu Hurairah membentangkan pakaiannya saat beliau bersabda. Kemudia pakaian itu dibalutkan ke tubuh Abu Hurairah. Setelah itu semua yang didengarnya dari Nabi s.a.w. melekat dalam ingatannya.

Abu Hurairah dalam sejarah dikenal sebagai sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis Nabi (5.374 hadis). Enam lainnya adalah: Abdullah ibn Umar (2.630 hadis), Anas ibn Malik (2.286 hadis), Aisyah (2.210 hadis), Abdullah ibn Abbas (1.660 hadis) dan Jabir ibn Abdullah Al-Ansari (1540 hadis). Hadis Abu Hurairah yang disepakati Imam Bukhari dan Muslim jumlahnya 325 hadis, oleh Bukhari sendiri sebanyak 93 hadis, dan oleh Muslim sendiri 189 hadis. Hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah juga terdapat dalam kitab-kitab hadis lainnya. Karena begitu banyaknya hadis yang dia riwayatkan, timbul pertanyaan di banyak benak kaum muslimin. Hal itu kemudian menjadi jelas setelah dia memberikan klarifikasinya.

Dalam sejarah pernah terungkap, Khalifah Umar ibn Khattab pernah melarang Abu Hurairah menyampaikan hadis dan hanya membolehkan menyampaikan ayat Alquran. Boleh jadi lantaran beredar kabar Abu Hurairah tidak lagi tepat untuk itu. Larangan khalifah baru dicabut setelah Abu Hurairah mengutarakan hadis mengenai bahaya hadis palsu. Hadis itu bermakna, “Barangsiapa yang berdusta padaku (Nabi) secara sengaja, hendaklah mempersiapkan diri duduk dalam api neraka.” Hadis ini
diriwayatkan Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ad-Darimi, dan Ahmad ibn Hanbal.

Belakangan, tokoh kita ini juga menjadi sasaran tembak para pengeritik hadis modern, baik dari kalangan orientalis, seperti Ignaz Goldiziher maupun cendekiawan muslim, seperti Muhammad Amin dari Mesir. Menurut ahli hadis KH. Ali Mustafa Ya’qub, kalau dulu (di masa hidupnya) orang memang tulus bertanya, sekadar ingin tahu, mengapa ia banyak meriwayatkan hadis. Tapi di zaman modern ini, kritik kepada Abu Hurairah mengandung maksud tidak baik. Ia hanya menjadi sasaran antara
saja. Sasaran utamanya adalah hadis Nabi sendiri, yaitu untuk menggoyahkan keyakinan umat terhadap hadis-hadis Nabi. “Seperti kata pepatah, “Tebanglah pohon, maka dahannya pasti roboh’. Sebab, Abu Hurairah merupakan sahabat periwayat hadis terbanyak, maka dia menjadi sasaran kritik pertama,” ujarnya.

Konon, dalam satu riwayat, Umar pernah memukul Abu Hurairah. Tapi setelah diteliti sanadnya (silsilah periwayat), riwayat ini palsu alias bohong. Sebab, sumber riwayat ini tak lain seorang Syiah yang sangat membenci Umar. “Karenanya, riwayat seperti ini gugur dari pertimbangan,” tulis Ali Mustafa dalam bukunya Kritik Hadis. Tapi mengapa orang Syiah tidak suka pada Abu Hurairah? Ali Mustafa menduga, itu dikarenakan Abu Hurairah merupakan pendukung Utsman (dia mengawal rumahnya saat dikepung pemberontak) dan dinasti Umayah (menjadi pegawainya di Madinah).

Sebaliknya, ia tidak memperlihatkan dukungan kepada Ali (tidak mau diangkat jadi gubernur dan setidaknya ia bersikap netral ketika terjadi konflik antara Ali dan Muawiyah). Kedua, yang dia riwayatkan bukanlah hadis-hadis yang berisi pujian atau pengistimewaan kepada Ali dan keluarganya.


Ditulis bersama Iqbal Setyarso, mantan wartawan Panji Masyarakat yang kini aktif di lembaga kemanusiaan ACT (Aksi Cepat Tanggap), Jakarta. Sumber: Panji Masyarakat, 29 Desember 1999

About the author

Hamid Ahmad

Redaktur Panji Masyarakat (1997-2001). Sebelumnya wartawan Harian Pelita dan Harian Republika. Kini penulis lepas dan tinggal di Pasuruan, Jawa Timur.

Tinggalkan Komentar Anda