Pengalaman Religius

Dewi Hughes (4): Perubahan yang Bikin Gempar

Written by Asih Arimurti

Keputusan Dewi Hughes memeluk Islam ternyata bikin heboh di kampus dan lingkungan gerakannya. Selain kuliah, praktis ia  tidak punya peran apa-apa dalam aktivitas kampus. Merasa kurang nyaman, ia pun berniat pindah kuliah. Tidak jadi, setelah dinasehati seorang dosen. Bgaimana dengan kegiatannya sebagai MC setelah Hughes berjilbab? Mengapa ia nekad umrah walaupun dengan uang pas-pasan?  

Jadi, praktis keluarga Inet, khususnya kedua orangtuanya, yang berperan banyak terhadap proses masuknya saya memeluk Islam. Selebihnya saya banyak melihat dan belajar dari lingkungan yang ada. Setiap hari di kampus saya mengenakan jilbab, abaya, yang lurus panjang sampai ke mata kaki serta sepatu boot. Teman-teman di kampus yang melihat perubahan drastis itu menjadi gempar. Yang mengejutkan, teman-teman di kampus dan orang gereja mengejar-ngejar saya. Di kampus teman-teman seperti tak percaya seorang gadis funky, bercelana jeans, berkalung palang salib besar, tiba-tiba berubah memakai jilbab.

Begitu juga semua dosen, sama terkejutnya. Akibatnya, aku menjadi agak susah, bahkan merencanakan pindah kuliah ke Muhammadiyah. Tapi untunglah ada seorang dosen yang baik. Dia secara berseloroh mengatakan, “Apa kamu mau ijazahmu berwarna hijau?” ditanya seperti itu, aku jawab tidak mau. Lalu dia menasehatiku agar tetap kuliah baik-baik di Atmajaya. “Kamu akan sulit jika pindah-pindah kuliah,” kata dia,

Untungnya, dalam soal mata kuliah, tidak ada dosen yang menekan. Tapi memang dalam aktivitas kampus aku tidak mendapat peran apa-apa. Biasanya, jika ada tamu seperti menteri datang ke kampus, biasanya aku yang selalu ngemsi, memandu acara. Sebelumnya bila ada aktivitas seperti itu selalu Hughes. Tapi setelah berjilbab, aku tidak mendapat apa-apa. Terasa benar dropnya. Begitu job jadi MC di luar, banyak yang dibatalkan. Akhirnya, aku pikir, ya sudah.

Setelah satu tahun lamanya bertahan dengan jilbab, akhirnya kuputuskan melepas jilbab. Aku berjanji, “Ya Allah, nanti bila sudah mapan dan tidak ada lagi yang ngutak-ngutik soal  jilbab aku akan pakai jilbab kembali.” Walaupun begitu, aku tetap berpakaian panjang meski tanpa kerudung. Sampai kutemukan tutup kepala seperti sekarang ini (tahun 2002, red), yang menjadi cirinya Hughes.

Pernah ketika akan ngemsi di Puncak, Bogor, dan akan mengenakan jilbab, banyak yang mengatakan rezekiku bakal seret. Tapi, alhamdulillah, ternyata tidak. Malah sebaliknya. Setelah aku menikah tahun 2001, aku akui hidupku terasa mulai teratur. Suamiku mendukung  aku memakai jilbab, bahkan ia sangat melindungi. Pernah suatu kali ketika akan ngemsi pihak panitia meminta agar aku melepas jilbab. Suamiku menolak. Katanya, “Kalau tidak boleh pakai jilbab, tidak jadi juga tidak apa-apa. Sampai akhirnya aku putuskan tetap akan memakai tutup kepala. Sikapku itu, alhamdulillah, dapat dimaklumi oleh klien. Mereka tidak lagi mempersoalkannya dan memaklumi pada pilihanku.

Sejak resmi memeluk Islam, aku melihat orang-orang Islam dengan warna-warni umatnya. Lalu timbul pertanyaan dalam diriku, sebenarnya ajaran Islam itu seperti apa sih, kok prakteknya berbeda-beda. Pikir punya pikir, aku sampai pada satu kesimpulan bahwa aku harus melihat langsung ke pusatnya. Untuk itu, pada tahun 1998 keinginan  pergi umrah menjadi semakin tidak  terbendung. Walaupun waktu itu aku hanya punya Rp 11 juta. Untuk ongkos pulang pergi dan konsumsi selama di Tanah Suci aku harus mengeluarkan biaya Rp 10 juta. Jadi sisa yang Rp 1 juta itulah yang aku bawa ke Tanah Suci.

Bersambung  Ditulis bersama Akmal Stanzah (almarhum). Sumber: Panjimas, 16-29 Oktober  2002    

About the author

Asih Arimurti

Wartawan Majalah Panji Masyarakat

Tinggalkan Komentar Anda