Cakrawala

Bijak Menghadapi Musibah

Written by Saeful Bahri

Anugerah dan bencana adalah kehendak-Nya

Kita mesti tabah menjalani

Hanya cambuk kecil agar kita sadar

Adalah Dia di atas segalanya

Anak menjerit-jerit, asap panas membakar

Lahar dan badai menyapu bersih

Ini bukan hukuman, hanya satu isyarat

Bahwa kita mesti banyak berbenah

Memang, bila kita kaji lebih jauh

Dalam kekalutan, masih banyak tangan

Yang tega berbuat nista

.

Bagi Anda pecinta lagu-lagu Ebiet G Ade, tak akan asing kala membaca syair di atas. Barisan aksara itu akan meresap dalam jiwa, ketika kita mendengarnya bersenandung dengan petikan gitarnya yang indah.

Lirik di atas berjudul “Untuk Kita Renungkan”. Suara hati seorang Ebiet yang mengajak pendengarnya meluaskan renungan tentang bencana yang melanda sebuah negeri. Melihat lebih jauh sebab musibah yang meninggalkan duka dan luka dalam yang tidak hanya dirasakan oleh korban bencana, tapi juga  bagi kita yang tidak terdampak bencana.

Ebiet mengingatkan segala bencana bukan sebuah hukuman, hanya sebuah isyarat bahwa kita harus banyak berbenah. Ya berbenah. Melihat lebih jauh ke dalam diri kita bahwa ada tangan-tangan yang tega berbuat nista sehingga terjadi malapetaka.

Setiap bencana menjadi tragedi yang memilukan bagi kita sebagai manusia. Belum kering air mata melihat jatuhnya pesawat di Laut Jawa. Bertambah duka dengan berita gunung meletus, banjir bandang dan gempa bumi. Semua tidak semata-mata karena faktor alam dan keniscayaan yang tidak bisa dihindari oleh manusia. Tapi sebagai pemimpin di atas bumi ini, manusia harus berbenah dan membenahi pola pikirnya agar tidak melakukan hal-hal yang menyebabkan kerusakan dan kehancuran ekosistem alam.

Alam semesta didesain begitu sempurnanya. Ada gunung yang menahan angin, ada hutan yang menyerap air, ada sungai dan lautan yang dirancang untuk menampung kelebihan air yang tak dapat diserap oleh hutan. Namun, jika sistem itu dirusak oleh ketamakan manusia yang mengekploitasi alam, maka bencana akan datang melanda. Yang akibatnya tidak hanya dirasakan oleh perusaknya, tapi juga orang-orang yang tidak tahu apa-apa.

Teologi Bencana dan Akhlak Terhadap Alam

Bagi umat Islam, segala sesuatu yang terjadi karena kehendak Allah dan sepengetahuan-Nya. Al-Qur’an sebagai pedoman tertinggi umat Islam menjelaskan banyak hal tentang bencana atau musibah yang menerpa manusia sebagi bentuk ujian.  Namun, bukan berarti manusia menyalahkan Tuhan atas segala bencana yang terjadi.

Anugerah dan bencana adalah ujian yang Allah berikan kepada manusia. Sebab kehidupan yang Allah ciptakan adalah sarana untuk menguji manusia, siapa di antara mereka yang paling baik perbuatannya (QS. Al-Mulk: 2). Dengan demikian kesenangan dan kesulitan yang singgah dalam hidup manusia adalah ujian yang akan menentukan siapa yang paling baik sikapnya ketika senang atau ketika ditimpa musibah.

Begitu indah Allah SWT menciptakan alam dan segenap isinya. Gunung gemunung yang menyejukan, pantai dan lautan yang menenangkan, danau dan sungai yang menghadirkan kedamaian. Setiap saat berbondong-bondong manusia menghampiri keindahan alam itu.

Mereka datang ke gunung, mereka hampiri lautan, mereka dekati sungai dan danau dengan alasan menikmati keindahan alam. Kadang luput dari kesadaran manusia bahwa frase “menikmati keindahan alam’ justru menjadi benih-benih bencana dan malapetaka. Karena tujuan menikmati itulah yang menyebabkan perusakan terhadap keindahan-keindahan itu. Terjadilah kekacauan terhadap keseimbangan alam yang telah Allah ciptakan. Semestinya alam yang indah ini harus kita cintai bukan kita nikmati. Kehadiran kita ke tempat yang menghamparkan keindahan alam, harus diniatkan untuk mencintai alam bukan menikmatinya. Karena mencintai akan mengarahkan manusia untuk menjaga dan memelihara, tapi jika tujuannya menikmati, yang terjadi adalah kerakusan, keserakahan untuk menghabisi dan mengekploitasi.

Maka akhlak mulia yang menjadi misi kenabian tidak bermakna sempit dan parsial. Akhlak mulia bukan semata-mata membangun hubungan baik kepada manusia, tapi memperlakukan tempat tinggal manusia di atas bumi ini. Yaitu berahlak kepada alam, kepada lingkungan baik di gunung, di darat, maupun lautan.

Seperti yang tersebut di atas, alam semesta yang Allah ciptakan memang untuk kehidupan manusia, tetapi bukan semata untuk dinikmati tapi dicintai. Lihatlah tingkah orang yang punya paradigma menikmati alam. Mereka melakukan ekploitasi, membelah gunung, meratakan hutan, merusak pantai untuk urusan komersial.

Akhirnya akhlak kepada Allah dan akhlak kepada manusia harus dipahami dan dihayati oleh manusia sebagai sebuah cara hidup, dengan tujuan untuk menata relasi yang harmonis antara manusia dan alam. Agar tetap terjadi keseimbangan alam raya dan terhindar dari malapetaka

Mari kita  bersama-sama menghargai dan tunduk kepada sunnatullah. Agar terjaga keharmonisan manusia dengan manusia, manusia dengan Sang Pencipta, dan manusia dengan lingkungan hidup. Dengan mengubah cara berpikir kita dari menikmati alam kepada mencintai alam agar kita terdorong untuk menjaga dan melestarikannya. Semoga Allah selalu memberikan kita perlindungan dan pertolongan dari bencana yang disebabkan oleh keserakahan dan ketamakan manusia.

Sebagai penutup, kita kembali menyimak senandung Ebiet G Ade dalam bait terakhir lagunya. Bagaimana caranya membuat Tuhan tersenyum dengan tingkah kita, bukan membuatnya murka. 

Kita mesti berjuang memerangi diri

Bercermin dan banyaklah bercermin

Tuhan ada di sini di dalam jiwa ini

Berusahalah agar Dia tersenyum

About the author

Saeful Bahri

Alumni dan guru Pondok Pesantren Daar el Qolam, Tangerang, Banten. Pernah belajar di UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten, Universitas Indonesia, dan Universiti Kebangsaan Malaysia. Selain mengajar di almamernya, ia juga menulis beberapa buku di antaranya Lost in Pesantren (2017), 7 Jurus Betah di Pesantren (2019), yang diterbitkan Penerbit Republika Jakarta.

Tinggalkan Komentar Anda