Jejak Islam

Ziarah Kepada Leluhur Penyebar Islam di Nusantara (2)

Written by Panji Masyarakat

Makam Sultan dan Para Wali di Jawa

Kehadiran makam-makam Islam di Jawa berhubungan erat dengan perkembangan dan sosialisasi Islam dalam kehidupan masyarakat. Muslim dari berbagai kawasan India, Arab, danParsi telah mengadakan kontak dengan komunitas Jawa atau Nusantara pada abad-abad k-7-8 M, dan terus berlangsung di abad-abad sesudahnya. Tanda kedatangan Islam di Jawa tampak jelas dari adanya kubur di daerah Leran, Gresik, sebelah barat Surabaya. Salah satu nisan makam dalam kompleks itu berangka tahun 475 H (1086 M) dengan nama Fatmah binti Memun bin Hibatallah. Makam serupa juga terdapat di Padurangga (Phanrang), Vietnam. Keduanya memiliki gaya tulisan Kufi,

Inskripsi nisan di Phanrang berbunyi: “Ahmad,anak Abu Ibrahim, anak Abu’Arradah, yang Rahdar, nama samaran Abu Kamil, yang meninggal dunia pada malam Kamis 29 Safar Empat Ratus Tiga Puluh Satu” (1039 M). Ada sebuah lagi inskripsi nisan di Phanrang yang berisi ungkapan-ungkapan perundang-undngan yang berkaitan dengan pembayaran cukai, utang, dan sebagainya.

Di balik bidang yang berangka tahun  pada nisan Fatimah terdapat petikan surat Ar-Rahman: 55. Petikan ayat tersebut mengandung unsur sufi, sama halnya dengan petikan ayat yang didapati pada nisan Malikush Shaleh pada 1326 M di Aceh. Petikan ayat-ayat itu diduga memiliki korelasi kuat dengan aliran pembawa agama Islam awal di Indonesia. Masih di Gresik, empat abad berikutnya terdapat pula bukti inskripsi beraksara gaya Kufi. Yakni sebuah nisan dibuat dari batuan marmer yang diduga berasal dari Gujarat (Cambay). Terdapat dugaan, tokoh bernama Maulana Malik Ibrahim bukan pribumi Jawa atau Nusantara, tetapi seorang guru agama dari luar, dari Gujarat, Parsi, atau bahkan dari Arab. Meski demikian, gaya hias dan tulisan pada inskripsi nisan itu sangat dipengaruhi gaya hias dan tulis dari Parsi. Hal ini selanjutnya membuka peluang munculnya berbagai spekulasi mengenai daerah asal kedatagan Islam di Jawa atau di Nusantara.

Masih di daerah Jawa Timur yaitu di Troloyo, dekat Trowulan, bekas ibu kota Majapahit menjelang keruntuhannya, terdapat sebuah kompleks makam di Desa Sentonorejo. Areal makam sangat luas, dan setiap kelompok makam berpagar. Pada bagian barat laut terdapat kelompok makam raja Majapahit yang telah memeluk Islam, yang dapat ditandai ukiran lamang surya (matahari Majapahit) serta angka tahun, sebagian besar berasal dari abad ke-15 M. Di bagian lain terdapat pula sekelompok makam yang dipercayai oleh penduduk setempat sebagai makam para sunan (wali sanga) penyebar Islam di Jawa.

Seiring dengan semakin tumbuh dan berkembangnya Islam di daerah pesisir, kerajaan Majapahit lambat laun menuju keruntuhannya, antara lain akibat pertentangan internal kerajaan, dan pemberontakan para bupati, khususnya di daerah-daerah pesisir yang melepaskan diri dari kekuasaan pusat. Padahal daerah-daerah itu secara ekonomi sangat potensial bagi kelangsungan Kerajaan. Raden Patah, salah seorang putra raja Majapahit, memeluk Islam dan berkuasa di Demak. Menurut tradisi, Raden Patah dibantu para wali mendirikan masjid Demak, salah satu tiang utamanya dibuat dari tatal yang berasal dari keraton Majapahit.

Di Pasai terdapat seorang ulama terkemuka, Fatahillah (Falatehan), yang melarikan diri ketika dikejar Portugis dan kemudian diterima Sultan Trenggono. Setelah berhasil menguasai Jayakarta, saat itu sebelum Islam, Fatahillah dengan dukungan Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatulah) membebaskan Sunda Kelapa (1527). Pangeran Trenggono, sultan ketiga Demak, wafatpada 1546 ketika melakukan penyerangan ke Pasuruan di Jawa Timur. Sepeninggalnya, di Demak berulangkali terjadi pembunuhan antarkeluarga kesultanan.

Setelah menguasai Sunda Kelapa, Fatahillah atau Falatehan memberi nama wilayah itu menjadi Jayakarta. Cirebon oleh Sunan Gunung Jati diserahkan kepada putranya, Pangeran Pasarean. Banten diserahkan kepada putranya yang lain yakni Maulana Hasanuddin. Sunan Gunung Jati juga dikenal sebagai salah seorang semblian wali penyebar Islam di Jawa.

Salah satu aspek kesinambungan dalam tata cara pemakaman di awal ialah penggunaan bukit atau gunung sebagai tempat makam yang dianggap suci. Tradisi yang berasal ari masa pra-Islam ini berlanjut bahkan sampai sekarang. Bila di pedataran, maka areal pemakaman tersebut ditinggikan, sebagai penempatan bangunan prasejarah ataupu  candi. Aspek lain adalah pola-pola penempatan makam bagi tokoh yang paling dihormati. Bila tidak dibagian pusat (centre) kompleks pemakaman biasanya pada bagian paling belakang atau paling tinggi. Ini masih tampak misalnya pada pola-pola tata  ruang makam di Imogiri (Kesultanan Yogyakarta) atau Astana Anyar (Kesunanan Surakarta). Hal yang sama selanjutnya juga terdapat pada makam Sunan Gunung Jati, di mana bukit makamnya dibuat berundak sembilan. Para peziarah hanya diizinkan memasuki sampai tingkat tiga.              

Bersambung

Penulis: Prof. Dr. Hasan Muarif Ambary (1939-2006).  Semasa hidupnya dikenal sebagai arkeolog, pakar kepurbakalaan Islam. Guru besar UIN Syarif Hidayatullah ini pernah menjabat kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Sumber: Majalah Panjimas, 27 Novemberr- 12 Desember  2002.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda