Muzakarah

Bagaimana Menyumbang Panti Asuhan

Akhir akhir ini  saya lihat makin banyak saja pencari sumbangan. Ada yang mengaku petugas dari panitia pembangunan rumah ibadah, ada juga dari yayasan yatim piatu. Kita memang sebaiknya kian mempererat solidaritas. Sedekah dan zakat hendaknya lebih digalakkan lagi.

Sebenarnya, saya ingin sekali menyumbang yayasan-yayasan itu. Meski tidak banyak, kan ada juga zakat saya. Tapi masalahnya, ada desas-desus, orang sengaja mendirikan yayasan yatim piatu sebagai profesi karena mentok tidak dapat pekerjaan. Kabarnya banyak pengelola panti asuhan yang kaya berkat yayasannya itu. Bolehkah pengelola yayasan yatim piatu mengambil sebagian dari dana yang diperoleh untuk operasional yayasan? Apakah ini tak tergolong memakan harta anak yatim? Lalu dari sudut kita, penyumbang, perlukah kita meneliti bahwa dana yang kita sumbangkan benar-benar sampai pada yang berhak, tidak diselewengkan? Rifqa AthifahPengasinan, Bogor

Jawaban KH Ali Musthofa Ya’qub

Mengeksploitasi anak yatim untuk kepentingan diri sendiri itu zalim. Dalam Alquran ada larangan yang tegas mengenai hal ini. “Sungguh orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala” (Q.S. 4:10). Ayat sebelumnya memberi panduan, “Dan janganlah kamu memakan harta anak yatim secara berlebihan (israf) dan tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Dan barangsiapa mampu, maka hendaklah ia menahan diri, dan barangsiapa miskin, maka hendaklah ia menahan diri, dan barangsiapa miskin, maka hendaklah ia makan (dari harta anak yatim itu) menurut kepantasan.” (Q.S. 4:6).

Jadi, pihak pengelola harta anak yatim, apakah harta itu dan warisan atau sumbangan orang lain, jika memakan berlebihan, di luar kewajaran, dia zalim. Misalnya si pengelola, sesuai dengan kualifikasi kerjanya menurut kelaziman mendapat upah atau uang lelah sebesar Rp 300.000 per bulan. Kalau dia mengambil sebatas itu, boleh, tidak zalim. Tapi kalau dia mengambil sampai Rp 2 juta, ini tak dibenarkan meskipun harta anak yatimnya banyak.

Soal yayasan, dalam pengelolaannya tentu butuh biaya. Kalau dia mendapat uang lelah dan biaya operasional sebatas kewajaran, insya Allah juga tidak apa-apa, tak termasuk zalim. Namun, kalau sudah mengeksploitasi anak-yatim, demi keuntungan diri si pengelola sementara anak-anak yatimnya kecipratan sedikit saja, ini sudah zalim. Apalagi kaluau gara-gara yayasan ini pengelolanya jadi kaya, sedangkan anak yatimnya tetap melarat.

Sekarang dari sisi Anda. Kalau Anda tahu orang yang diserahi (pengelola yayasan) jelas-jelas zalim, sebaiknya dana itu tidak diberikan padanya. Maling kok dikasih uang, jelas ini salah. (Kecuali kalau Anda memang berniat sedekah padanya). Kalau Anda ragu saat mau menyumbang, ikuti sabda Nabi, “Tinggalkan apa yang meragukanmu, ke hal yang tidak meragukanmu.” Gampang saja kan?

Saudara Rifqa, dalam agama sebenarnya tak ada keharusan meneliti dulu ke mana dana zakat mau ditasharruf, disalurkan. Khususnya kalau sumbangan itu berupa sedekah. Asal dia sudah menyatakan harta itu diberikan di jalan Allah, tidak apa.

Lalu bagaimana kalau itu berupa zakat? Ada baiknya kita lihat status yayasan atau pengelolanya dalam hukum Islam: amil (penyalur zakat) atau wakil dari muzakki (pezakat). Kalau dia amil, maka dengan menyerahkan zakat Anda ke yayasan tersebut, gugurlah kewajiban Anda, tanpa perlu melihat apakah dana itu sampai ke tangan yang berhak (mustahiq).

Menurut saya, dia bukan amil. Sebab, amil dalam definisinya diangkat secara khusus oleh pemerintah. Lebih tepat dia wakil dari muzakki, wakil Anda dalam penyaluran zakat Anda. Artinya, jika zakat Anda tak disampaikan kepada anak yatim, kewajiban Anda belum lepas. Anda sebagai muzakki belum dianggap menuntaskan kewajiban zakat Anda.

Pada zaman banyak dusta ini, sebaiknya carilah yayasan yang benar-benar memegang teguh amanah. Apalagi banyak desas-desus adanya panti asuhan fiktif. Baik sekali kalau Anda mengetahui pasti, dana zakat Anda tidak diselewengkan. Muzakki sebaiknya memang melakukan satu hal sampai dia yakin dananya disalurkan secara tepat. Anda juga sangat berhak meminta laporan dari yayasan kepastian bahwa zakatnya benar-benar sampai kepada anak yatim (jika memang zakatnya diniatkan diberikan kepada anak yatim)

*Prof. Dr. KH Ali Musthofa Ya’qub (1952-2016), pendiri  Ma’had  ‘Aly  Pondok Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus Sunnah, Jakarta. Guru besar Ilmu Hadis Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) ini pernah menjadi Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, dan anggota Komisi Fatwa MUI Pusat.  Sumber: Majalah Panji Masyarakat,  15 September 199

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda