Adab Rasul

Rendah Hati Bukan Rendah Diri

Written by Ahmad Lukman A.

Era media sosial ternyata membawa konsekuensi tidak sedikit. Tiba-tiba ruang publik kita diisi dengan pelbagai kalangan yang merasa menjadi ahli. Ketika ada kecelakaan pesawat, gempa, vaksin atau peristiwa alam lain sontak sejumlah orang berpendapat dengan pede-nya tanpa mengingat apakah mereka punya keahlian atau kompetensi di bidang tersebut. Pokoknya berpendapat dulu, urusan lain belakangan.  

Bahkan ada yang menyindir era saat ini sebagai The Death of Expertise ­seperti karya nonfiksi Tom Nicholsyang berarti matinya keahlian.  Keahlian dikalahkan oleh orang-orang yang asal bersuara, asal beda, dan menyombongkan diri seolah-olah rasa rendah hati menguap begitu saja. Begitu banyak contoh di setiap kejadian bagaimana orang-orang berlomba menjadi opinion leader agar pendapatnya diikuti masyarakat. Padahal orang pun tahu atau malah tak mau tidak mau tahu bahwa orang tersebut bukan ahli di bidangnya.  

Sikap rendah hati adalah sikap menyadari keterbatasan kemampuan diri dan ketidakmampuan diri sendiri sehingga dengan itu seseorang tidak menjadi angkuh atau sombong. Hamka menekankan bahwa sifat ini membuat orang yang memiliknya tidak mencampuri urusan yang tak ia pahami, tahu membatas diri pada yang ia ilmui. Hamka mengingatkan orang yang begitu tahu bahwa ia orang yang segala tahu menandakan bahwa ia kurang pengetahuannya. Hamka menyamakan rendah hati sebagai tahu diri.

Soal rendah hati ini, Rasulullah SAW sudah berpesan sejak jauh hari. Dari lyadh bin Himar RA, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap rendah hati, sehingga tidak seorang pun membanggakan diri terhadap yang lain, dan tidak seorang pun menuntut yang lain. “(HR. Muslim). Hadits ini menganjurkan kepada kita untuk bersikap rendah hati dan menjauhkan diri dari sikap sombong. Orang yang berpengetahuan dan berakal seharusnya bersikap rendah hati karena mengandung nilai yang tinggi. Rendah hati mengandung nilai yang tinggi dimana orang yang semakin merendahkan hati maka semakin tinggi derajatnya. Dalam kitab Al Arba ’una Haditsan fi Al Akhlaq ma ’a Syarhiha karangan Ahmad Mu’adz Haqqi disebutkan bahwa rendah hati ada dua yaitu rendah hati terpuji yakni meninggalkan sikap sombong dan membanggkan diri terhadap sesama hamba Allah. Rendah hati lainnya adalah rendah hati yang tercela yakni rendah hati karena mengharapkan dunia.

Sebaik-baik manusia, ujarnya,  adalah yang rendah hati terhadap tingginya kedudukan, zuhud terhadap kemampuan dan kekuatannya. Kesombongan diri sendiri (dalam pelbagai bentuk) terjadi karena ketakjuban pada diri sendiri dan kedengkian akal yang menyertainya. Ketika kita sombong, maka Allah jelas tidak akan rela dan akan menghinakannya dengan orang yang lebih tinggi kedudukannya atau ilmunya.

Ini artinya, rendah hati bukanlah rendah diri merasa inferior dibanding orang lain. Sikap rendah hati menjadi sangat penting di suasana media sosial yang riuh rendah seperti saat ini. Tidak perlu kita merasa rendah diri karena tidak mau ikut-ikutan berkomentar terhadap sesuatu yang kita tidak tahu ilmunya. Bukannya Rasulullah telah mengajarkan bagaimana menjadi manusia yang rendah hati dan tahu diri atas keterbatasan kita masing-masing.

About the author

Ahmad Lukman A.

Berpengalaman menjadi wartawan sejak tahun 2000 dimulai dengan bergabung di Majalah Panji Masyarakat. Lalu, melanjutkan karir di media berbasis teknologi mobile. Lulus dari S2 Ilmu Komunikasi UI dan memiliki antusiasme pada bidang teknologi dan komunikasi.

Tinggalkan Komentar Anda