Tasawuf

Stasiun Ke-5 Penempuh Jalan Tasawuf: Ridha

Written by A.Suryana Sudrajat

“Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah.”  (Q.s.  5:119; 98:8). Menurut Rabi’ah Al-Adawiyah, Tuhan  Sudah Tahu, Tak Perlu Mengingatkan-Nya

Stasiun berikutnya setelah sabar adalah ridha. Secara harfiah berarti senang hati atau rela. Dalam pengertian syariat agama berarti menerima dengan senang hati segala sesuatu yang diberikan Allah, baik berupa hukum maupun ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkannya.

Sementara kalangan tasawuf mengartikannya sebagai menerima yang terjadi dengan senang hati karena segala yang terjadi itu merupakan kehendak Allah.  Seperti dikatakan Dzun Nun Al-Mishri, ridha adalah kegembiraan hati dalam menghadapi takdir Allah. Secara lebih spesifik Rabiah Al-Adawiyah menyatakan, seseorang dikatakan mencapai ridha jika  kegembiraannya di waktu ditimpa bencana sama dengan kegembiraannya di kala mendapat  karunia.  Berkata Imam Al-Ghazali, ridha adalah  puncak keindahan akhlak.

Dikisahkan, Malik ibn Dinar, seorang sufi, pernah mendapatkan sahabatnya, Rabi’ah Al-Adawiyah,   sedang terbaring sakit. Kondisinya menurut Malik sungguh mengenaskan. Rabi’ah hanya beralaskan tikar lusuh dan berbantal batu bata. Kendinya, tempat menyimpan air wudu dan minum, sudah pecah pula.

Murid Hasan Al-Bashri itu tidak tega. “Aku punya beberapa teman yang kaya,” katanya. “Kalau kau perlu bantuan, aku bisa kontak mereka.”

“Malik, kamu  salah besar,” kata Rabi’ah. “Bukankah yang memberi mereka dan aku sama?”

“Memang,” sahut Malik.

“Apakah Allah akan lupa kepada hamba-Nya yang miskin karena kemiskinannya? Akankah pula Dia ingat kepada hamba-Nya yang kaya, seperti temen-temen ente itu, lantaran kekayaannya?”

“Ya, tidak tentunya.”

“Karena Dia mengetahui keadaanku, ngapain pula repot-repot mengingatkan­-Nya. Apa yang diinginkan-Nya, kita harus menerimanya.”

Ridha, perkenan Allah,  adalah stasiun terakhir  yang ingin dicapai para penempuh jalan tasawuf. Dan tentunya setiap muslim pada umumnya. Dalam sebuah munajatnya yang terkenal Rabi’ah Al-Adawiyah menyatakan:

“Ya Allah, jika aku beribadah lantaran takut neraka, bakarlah aku dalam api neraka-Mu. Dan jika aku beribadah karena mengharap surga-Mu, tutuplah pintunya bagiku. Tetapi jika aku beribadah hanya karena ridha-Mu, jangan sembunyikan keindahan-abadi-Mu dari pandangku.”

Kita mungkin rela mengikuti yang diperintahkan Allah dan menjauhi larangannya. Juga terhadap apa yang telah ditakdirkan Allah. Tapi apakah kita bisa mencapai level sama gembiranya saat menerima musibah dan karunia Allah? Tidak berharap apa pun, termasuk surga, kecuali ridha atau perkenan Allah?   

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda