Bintang Zaman

Abu Hurairah (3): Di Lingkungan Perpolitikan Sahabat Nabi

Written by Hamid Ahmad

Khalifah Umar mengangkat Abu Hurairah sebagai gubernur di Bahrain, tapi kemudian memecatnya karena muncul dugaan korupsi. Abu Hurairah membuktikan bahwa ia bersih. Tapi ia menolak ketika Umar mengembalikan lagi kedudukannya. Bagaimana kiprah politiknya pada masa Utsman, Ali, dan Muawiyah?

Tak Lagi Miskin

Ada cerita menarik menyangkut kehidupan Abu Hurairah dan masyarakat Islam zaman itu. Meski  seorang papa, boleh dibilang tunawisma, homeless, Abu Hurairah dapat  pinangan dari salah seorang majikannya yang cukup kaya. Ya, sang majikan menikahkan putrinya Bisrah binti Gazwan dengan pemuda miskin ini.  Ini menunjukkan betapa Islam telah mengubah persepsi orang dari membedakan kelas kepada persamaan. Dan Abu Hurairah dipandang mulia, bukan lantaran harta, tetapi karena karena kealiman dan kesalehannya. Perilaku islami telah memuliakanya. Lebih dari kemuliaan pada masa pra-Islam, yang memandang kebangsawanan dan kekayaan sebagai ukuran utama kemuliaan.

Sejak menikah, Abu Hurairah membagi malamnya atas tiga bagian. Yakni untuk membaca Alquran, untuk tidur dan keluarga, dan untuk mengulang-ulang hadis. Ia dan keluarganya meskipun kemudian menjadi orang yang berada, tetap hidup sederhana. Ia suka bersedekah, menjamu tamu, bahkan menyedekahkan rumahnya di Madinah untuk pembantu-pembantunya.

Tugas penting  pernah diembannya dari Rasulullah. Yaitu ketika ia bersama Al-Ala ibn Abdillah Al-Hadhrami diutus berdakwah ke Bahrain. Belakangan, ia juga bersama Qudamah diutus menarik jizyah (pajak) ke Bahrain, sambil membawa surat ke Amir Al-Munziribn Sawa At-Tamimi.

Dari Gubernur ke Gubernur

Mungkin karena itu, ketika Umar ibn Khaththab menjadi khalifah, Abu Hurairah diangkat menjadi gubernur Bahrain. Tapi pada tahun 23 Hijri Umar memecatnya gara-gara sang gubernur kedapatan menyimpan banyak uang. Menurut satu versi sampai 10.000 dinar. Dalam proses pengusutan, ia mengemukakan upaya pembuktian terbalik, bahwa harta itu diperolehnya dari hasil beternak kuda dan pemberian orang. Khalifah menerima penjelasan itu dan memaafkannya. Lalu ia diminta menduduki jabatan gubernur lagi, tapi ia menolak.

Penolakan itu diiringi lima alasan. ‘Aku takut berkata tanpa pengetahuan; aku takut memutuskan perkara bertentangan dengan hukum (agama); aku ogah dicambuk;  aku tak mau harta benda hasil jerih payahku disita; dan aku takut nama baikku tercemar,” kilahnya. Ia memilih tinggal di Madinah, menjadi warga biasa yang memperlihatkan kesetiaan kepada Umar, dan para pemimpin sesudahnya.

Tatkala kediaman Khalifah Utsman ibn Affan dikepung pemberontak, dalam peristiwa yang dikenal sebagai al-fitnatul kubra (bencana besar), Abu Hurairah bersama 700 orang Muhajirin dan Anshar tampil mengawal rumah tersebut. Meski dalam posisi siap tempur, Khalifah melarang pengikut setianya itu memerangi kaum pemberontak.

Pada masa kekhalifahan Ali  ibn bi Thalib, Abu Hurairah ditawari menjadi gubernur di Madinah. Ia menolak. Ketika terjadi pertemuan antara Khalifah Ali dan lawannya, Muawiyah ibn Abi Sufyan, ia bersikap netral dan menghindari fitnah. Sampai kemudian Muawiyah berkuasa, Abu Hurairah bersedia menjadi gubernur di Madinah. Tapi versi lain mengatakan, Marwan ibn Hakamlah yang menunjuk Abu Hurairah sebagai pembantunya di kantor gebernuran Madinah. Di Kota Penuh Cahaya (Al-Madinatul Munawwarah) ini pula ia mengembuskan nafas terakhir pada 57 atau 58 H. (676-678 M.) dalam usia 78 tahun. Meninggalkan warisan yang sangat berharga, yakni hadis-hadis Nabi, bak butiran-butiran ratna mutu manikam, yang jumlahnya 5.374 hadis

Bersambung

Ditulis bersama Iqbal Setyarso,  mantan wartawan Panji Masyarakat yang kini aktif di lembaga kemanusiaan ACT (Aksi Cepat Tanggap), Jakarta. Sumber: Panji Masyarakat, 29 Desember 1999   

About the author

Hamid Ahmad

Redaktur Panji Masyarakat (1997-2001). Sebelumnya wartawan Harian Pelita dan Harian Republika. Kini penulis lepas dan tinggal di Pasuruan, Jawa Timur.

Tinggalkan Komentar Anda