Aktualita

Wasiat Letjen Sayidiman Suryohadiprodjo : Waspada Invasi Senyap dan Kembali ke UUD 1945 Asli

Written by B.Wiwoho

Sepanjang berkarier sebagai wartawan dan aktivis senjak akhir 1971, saya mengamati dan alhamdulillah mengenal, ada seorang putera bangsa yang aktif menulis, diskusi, berkomunikasi  aktif via WhatsApp (WA) bahkan menjadi pembicara dalam webinar di era digital ini sampai di usianya yang sangat sepuh, lebih dari 93 tahun. Yang lebih luar biasa adalah kecintaan dan kepeduliannya kepada  bangsa dan negara, yang tak pernah surut.

Dialah Letjen TNI (Purn) Sayidiman Suryohadiprojo. Pak Sayidiman lahir di Bojonegoro  21 September 1927, putera Bupati Pasuruan, Bawadiman Kartohadiprodjo, yang wafat Sabtu 16 Januari 2021. Sungguh merupakan suatu kehormatan bagi saya, menjadi teman berkomunikasi baik melalui telpon dan jaringan pribadi (japri) maupun grup WA, terutama jika ada anggota grup yang mengungkapkan atau meneruskan informasi yang isinya bernuansa pembelahan bangsa, seperti mengecap kadrun, cebong, kampret, memuja tokoh yang dikagumi secara berlebihan sehingga ibarat tak boleh ada setitik noda. Sebaliknya mengecam tokoh lawan ibarat tiada  kebaikannya sama sekali sebagai manusia.

Yang lebih menjadi beban moral, beliau berkenan menulis Pengantar  untuk buku perjalanan ziarah saya ke Afrika Selatan yang sekarang masih dalam proses penyelesaian disain grafis penerbit IIMaN, insya Allah berjudul MEMBACA NUSANTARA DARI AFRIKA, Menelusuri Jejak Para Pejuang yang Terbuang.

Untuk buku itu Pak Sayidiman mengingatkan agar kita Belajar dari Invasi Senyap Perusahaan Dagang VOC.  Apa yang dituliskan sungguh bagai suatu berwasiat.  Pada hemat beliau, penting bagi kita untuk memahami bagaimana bangsa-bangsa di Nusantara dapat dikalahkan Belanda denganpenetrasi senyap atau tanpa kekuatan senjata.

Hal ini relevan dengan keadaan masa kini karena bangsa Indonesia menghadapi berbagai ancaman dan tantangan dari luar. Kekuatan dari luar yang ingin menguasai Indonesia melancarkan tindakan ekonomi, seperti investasi, yang kemudian mengakibatkan penguasaan bagian wilayah tertentu dari wilayah kita karena tidak menyadarinya. Usaha itu tidak jarang disertai tindakan suap sehingga para pemimpin kita mengikuti kehendak pihak luar.

Dalam bidang pertambangan, pihak Indonesia mengizinkan pihak luar membawa tenaga kerja asing dengan alasan tenaga kerja Indonesia belum mampu atau tidak memiliki kecakapan. Pihak luar kemudian membawa tenaga kerja dalam jumlah besar hingga melampaui jumlah penduduk di tempat usaha tambang tersebut.

Ironisnya, hal itu disetujui para pemimpin yang kemudian tidak sanggup memaksa para tenaga kerja asing untuk kembali ke negaranya sendiri ketika pekerjaan sudah selesai.  Tenaga kerja yang dibawa dari luar itu kemudian menjadi penduduk wilayah tadi dan pihak luar tersebut membangun wilayah itu seakan-akan wilayah negaranya sendiri. Maka, terjadi masalah gawat yang mengganggu kedaulatan negara kita.

Hal serupa, tulis pak Sayidiman lebih lanjut,  juga terjadi ketika Indonesia membangun infrastruktur, seperti pelabuhan, bandara, dan jalur kereta api. Bantuan keuangan dari luar yang jumlahnya besar belum tentu dapat dibayar kembali sehingga pihak pemberi bantuan kemudian menguasai proyek tersebut. Hal seperti itu disebut investment trap dan sudah banyak terjadi di Afrika dan di Sri Lanka, yang berakibat pada penguasaan pelabuhan di sana. Apa bila abai, hal serupa tidak mustahil bisa terjadi pula di Indonesia.

Selain itu, pihak luar menggunakan kelompok orang Indonesia untuk melakukan usaha yang menguntungkan mereka. Kegiatan yang dinamakan proxy war ini sejak awal abad ke-20 sudah terjadi, demikian wasiat Pak Sayidiman.

Saya mengenal pak Sayidiman  tak lama setelah saya menjadi wartawan. Di awal 1970-an itu, kami para wartawan mengenal ada tiga cendekiawan jenderal yakni Kharis Suhud, Hasnan Habib dan Sayidiman Suryohadiprojo. Ketiganya  sama-sama pernah menjadi duta besar. Jika bepergian ke luar negeri, saya tergolong orang yang enggan berkunjung ke kedutaan besar RI, kecuali ada memang ada acara. Tapi terhadap beliau-beliau saya berusaha menyempatkan diri untuk sowan.

Hubungan saya dengan pak Sayidiman menjadi akrab sejak kami pergi menunaikan ibadah haji bersama tahun 1988. Kami ikut rombongan haji plus yang dilayani oleh biro perjalanan haji Tiga Utama, dan merupakan kloter istimewa yang hanya berlangsung sekali yaitu selama 10 hari. Berangkat dalam kloter terakhir dan pulang kloter pertama.  Jamaah peserta rombongan ini pada umumnya keluarga atau pasangan suami isteri seperti keluarga Kapolri Mohammad Sanusi, Bambang Trihatmojo dan Dr.Abdul Gafur. Namun ada juga bujangan lokal yaitu Pak Sayidiman, Laksamana Arifin, Kolonel Prasetyo Sudarto dan saya. Walhasil kami berempat jadi kompak, terutama apabila berangkat sholat. Bila tawaf, saya bertugas membaca doa tawaf secara keras dan beliau bertiga mengikutinya.

Tentang sahabat seperjalanan haji, belum lama ini beliau bertanya, berikut petikan percakapan WA-nya:

[10/24/2019, 06:33] Sayidiman Suryohadiprojo: Pak Bambang Wiwoho saya mau tanya. Ketika kita bersama menjalankan ibadah Haji tahun berapa ? Saya kok lupa th 1987 atau 1988 ? Pak Bambang tahu,  dari kelompok kita siapa yg masih ada kecuali kita berdua ? Saya tahu laks Arifin mantan KSAL dan pak Sanusi mantan Ka Polri sudah tiada. Mohon saya diingatkan. Trm ksh. Salam, Sayidiman.

[10/24/2019, 07:12] B.Wiwoho: Sugeng enjang pak Sayidiman. Kita menunaikan haji th 1988. Yg masih ada  selain kita berdua yg saya tahu al adl Dr.Abdulgafur, Bambang Trihatmojo, Bambang Ryadi Sugomo dan bbrp pengusaha lainnya.

Meskipun tipe serius, nanti bisa dilihat dari kutipan WA kami, tapi beliau juga memperhatikan hal-hal peribadi. Tak jarang menanyakan keadaan teman-teman di grup di WA, bahkan menanyakan anak saya Wahyu Wiwoho yang menjadi penyiar di Metro TV, pun tentang rambut serta kumis yang tidak saya cukur semenjak pandemi Covid:

[6/12/2020, 14:16] Sayidiman Suryohadiprojo: Pak Bambang berapa lama saya nanti boleh bicara di uraian awal ? SS

[6/12/2020, 14:49] B.Wiwoho: Berapa lama sebaiknya pak Sayidiman. Kita fleksibel saja pak.  Tp kalau boleh saya usulkan sekitar 20 menit kmdn tanya jawab. Cukup apa tdk 20 menit pak?

[6/12/2020, 14:50] Sayidiman Suryohadiprojo: Baik

[6/12/2020, 14:51] Sayidiman Suryohadiprojo: 20 menit

[6/13/2020, 08:53] Sayidiman Suryohadiprojo: Pak Bambang bgm anda nilai pertemuan kmrn ? Saya pangling lihat anda pakai kumis &  jenggot yg putih. Anak saya tanya apa para Peserta pertemuan kmrn tahu bhw saya bln September 3 bulan lagi akan berumur 93 th ? Saya jawab : akan saya tanyakan. Salam, SS

[6/13/2020, 11:36] B.Wiwoho: Sebagian besar tahu Pak Sayidiman, 21 September yad insya Allah genap 93 th.

[6/13/2020, 11:39] B.Wiwoho: Responnya bagus Pak, sbgmn bisa kita lihat di NusantaraRaya. Juga sejumlah teman menelpon, sangat respek dg uraian dan ketegasan Bapak, termasuk penilaian thd budaya bangsa dan kepemimpinan.

[6/13/2020, 11:41] B.Wiwoho: Rekaman acara kemarin sekarang  bisa diikuti di You Tube, di channel Panjimasyarakat.com.

Tegas Lugas Soal Pancasila

Sebagaimana dituangkan dalam berbagai tulisan antara lain dalam buku Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945, lebih-lebih dalam bukunya Masyarakat Pancasila, yang diluncurkan bersamaan pada tanggal 6 Februari 2020 di Gedung Majelis Permusyawaratan Rakyat, Pak Sayidiman selalu tegas dan lugas. Dalam webinar tentang RUU HIP DALAM BERBAGAI PERSPEKTIF, PERLUKAH UU HIP?  Jumat 19 Juni 2020 misalkan, meski tidak bisa hadir karena bertepatan ada acara lain, beliau berpesan:

[6/19/2020, 07:18] Sayidiman Suryohadiprojo: Pak Bambang saya tak ikut Zoom. Tapi pendapat saya kalau boleh dititipkan : BATALKAN semua kegiatan bersangkutan dgn RUU HIP. Tidak hanya Ditunda saja.

Menanggapi kemarahan seorang Perwira Tinggi Purnawiran Angkatan Darat dalam sebuah grup WA tentang Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila dan RUU Pembinaan Ideologi Pancasila beliau menasihati:

[3/7/2020 15.56] Sayidiman Suryohadiprojo: Lebih baik kita tenang dan percaya bhw pak Try dan pak Saiful Sulun berusaha yg terbaik utk bangsa kita.

[4/7/2020 08.22] Sayidiman Suryohadiprojo: Pak Bambang slmt pagi. Sekrg saya sdh tahu kondisi sebenarnya. Sumbernya adalah konferensi pers yg diadakan pak Try setelah ia ketemu Ketua MPR bersama  pak Saiful dan pak Kiki. Pak Saiful dan pak Kiki heran apa yg dikatakan pak Try. Sebab itu pagi ini jam 10 pak Saiful dan pak Kiki akan rumuskan ratifikasi pertemuan yg dilakukan dgn Ketua MPR .  Sebenarnya yg disampaikan kpd Ketua MPR tidak hanya soal RUU PIP tapi juga perlunya Kaji Ulang UUD 1945. Saya telah minta kpd pak Kiki dan pak Saiful agar usaha kita diarahkan ke pembatalan RUU HIP. Dgn bgtu RUU PIP pun tak perlu. Semoga skrg jelas. Salam, Sayidiman

[4/7/2020 10.09] B. Wiwoho: Semoga segera clear dan kita kompak kembali. Sembah nuwun informasi nya pak Sayidiman.

Ketegasan pandangan pak Sayidiman dituangkan dalam buku Mengapa Harus Kembali ke UUD 1945. Masyarakat Pancasila tulisnya, harus mempunyai sistem politik yang sesuai. Oleh sebab itu bangsa Indonesia harus kembali ke UUD 1945 yang asli , konstitusi sebelum ada Amandemen 4 kali sejak tahun 1998 hingga 2002. Sebab dalam UUD 1945 yang asli tercantum sistem politik yang sesuai Pancasila

Dengan sistem politik ini Masyarakat Pancasila dapat menjalankan demokrasi atau kedaulatan rakyat  disertai stabilitas politik yang mantap.  Sedangkan sistem politik dalam UUD setelah di Amandemen bertentangan dengan Pancasila.

Banyak hal dan topik yang sering kami diskusikan berdua, ada soal kebangkitan ekstrim kiri dan kanan, soal telepon genggamnya di “hack” lantaran mengkritik keras penguasa, soal mengapa sampai ribuan orang begitu menokohkan Habib Rizieq Shihab hingga rela menginap di bandara, soal tuduhan eks PKI terhadap Angkatan Darat dan lain-lain

[10/6/2020, 10:38] Sayidiman Suryohadiprojo: Pak Bambang apa anda tahu orang bernama Tedjo Untung. Ia bilang Pemberontakan G30S PKI itu Hoax. Itu pembunuhan yg dilakukan AD. Siapa orang itu yg ucapannya ada di FB ?

[10/6/2020, 11:05] Sayidiman Suryohadiprojo: Pak Bambang ini nampaknya sedang ada usaha membebaskan PKI  dari G30S.  Di FB diuraikan bhw BK  mengatakan mau jadikan Pak Yani presiden RI kedua. Pak Harto tak setuju. Dia yg lakukan pembunuhan. Semua anak PY percaya kata tullsan itu. (Wiwoho: BK adalah Bung Karno, FB = Face Book, PY = Pak Yani).

Demikianlah, beberapa kutipan wasiat dari pejuang, guru bangsa dan orangtua kita Sayidiman Suryohadiprojo. Di tengah ketidakpastian politik dewasa ini, kita sangat kehilangan. Kita membutuhkan nasihat dan dorongan semangatnya. Tapi Allah Yang Mahaagung menyayangi dan memanggilnya pulang.  Semoga almarhum Pak Sayidiman mendapat tempat nan mulia serta bahagia di sisi-Nya. Di lain pihak, semoga kita bangsa Indonesia mendapat hidayah, inayah dan berkah-Nya dalam mengemban dan mewujudkan wasiat-wasiat pak Sayidiman.

Selamat istirahat Pak Sayidiman, salam takzim.

About the author

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda