Aktualita

Syekh Ali Jaber Beri Solusi Problem Kebangsaan

Written by Saeful Bahri

Bukan karena saya punya kelebihan, Saya hanya berusaha menjadi orang baik, menjadi orang yang bermanfaat untuk masyarakat, untuk negara. Apalagi semenjak saya mendapatkan penghargaan sebagai WNI, makanya tugas saya betul-betul menjaga amanah dan kepercayaan itu. Menjaga nama baik Indonesia dan selalu berusaha memberi sesuatu yang bermanfaat, yang berkesan. Intinya, menjadi orang yang mulia akhlak,” Syekh Ali Jaber

Kepergian Syekh Ali Jaber 14 Januari 2021 lalu menyisakan duka yang dalam bagi bangsa Indonesia, khususnya umat Islam. Di saat umat masih membutuhkan petuah dan nasihatnya ia pergi dalam usia relatif muda, 44 tahun. Namun demikian nama Syekh Ali Jaber akan tetap terpatri di kedalaman hati, Terkenang dalam sanubari anak-anak negeri. Kepergiannya berkalung doa dan bernisan bangga.

Sosok Syekh Ali Jaber mengingatkan kita kepada hubungan batin masyarakat muslim di Nusantara dengan masyarakat muslim di Timur Tengah.  Bukan sesuatu yang baru. Indonesia menjadi tanah impian bagi para perantau dari Timur Tengah. Begitupun, Timur Tengah, Khususnya Mekkah dan Madinah, menjadi tanah impian bagi masyarakat muslim Indonesia sejak dahulu kala.

Sejarah mencatat masuknya Islam ke Indonesia bukan melalui jalur politik atau penaklukan sebagaimana yang terjadi di Mesir atau Andalusia. Islam membumi di negeri ini karena sentuhan para ulama yang datang dari Timur Tengah. Lebih dari itu ada jaringan dan transmisi yang kuat di antara keduanya. Jaringan itulah yang memberi corak dan warna kehidupan bermasyarakat dan beragama di Nusantara.

Tidak berlebihan jika kita mengatakan bahwa Syekh Ali Jaber adalah format baru dalam membangun jejaring dakwah masyarakat Timur Tengah di Indonesia. Ia  memilih Indonesia sebagai tempatnya berdakwah. Memperkaya khazanah keislaman generasi muslim dari berbagai usia. Begitu besarnya rasa cinta beliau kepada Indonesia, sehingga ia memutuskan untuk berpindah status warga negara dan membangun mahligai keluarga dengan menikahi wanita Indonesia. Pendakwah kelahiran tahun 1976 ini, semakin menegaskan hubungan batin yang tak pernah putus.

Bagi para peminat sejarah Islam di Indonesia masa lalu, kiprah Syekh Ali Jaber adalah narasi yang tergambar jelas oleh mata bagaimana peran ulama Timur Tengah dalam membangun dakwah di negeri ini. Dan bagaimana penerimaan masyarakat Indonesia terhadap ajaran dakwah yang disampaikannya.

Sisi lain, kita dapat melihat dengan jelas personifikasi sang ulama dengan keluhuran akhlaknya kala menghadapi tantangan saat berdakwah. Syekh Ali Jaber dengan sangat mudah dan ringan melakukan sesuatu yang kita anggap sulit dan berat. Yaitu memberi maaf kepada pelaku yang berbuat zalim kepadanya.

Baginya, peristiwa penusukan itu adalah ketentuan Allah SWT yang bisa jadi untuk menguji akhlaknya. Apakah ia menjadi seorang pemarah atau pendendam. Dan kita semua tahu bagaimana ia memilih untuk bersikap dan merespon peristiwa itu. Dalam tafsiran orang awam, Syekh Ali Jaber telah memenuhi syarat orang-orang baik yang Allah cintai, sebagaimana disebutkan dalam Alquran; menahan amarah dan memberi maaf kepada orang yang berbuat salah kepadanya (QS Ali Imran: 134)

Sosok beliau memberi solusi problem kebangsaan yang masih menjadi masalah sampai hari ini. Yaitu nasionalisme dan kemauan memaafkan. Dari beliau kita menyaksikan bagaimana seorang keturunan bangsa lain menaruh cinta yang besar terhadap negeri ini. Padahal bisa saja ia mengajak anak istrinya untuk memilih Saudi Arabia sebagai pilihan bernegara. Bisa saja ia memilih tinggal dan hidup nyaman di Madinah bersama keluarganya.

Tapi mengapa ia memilih untuk hidup di negeri ini. Mendatangi sudut-sudut negeri, menyapa penduduknya dengan keramahan ajaran agama yang dianutnya. Ia juga berupaya keras agar bisa menguasai bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi dakwahnya. Dari contoh nyata itu mengajarkan kepada kita sebagai orang asli Indonesia, bagaimana mencintai negara. Ada rasa bangga dan penghargaan yang tinggi terhadap negara seperti yang ia ucapkan sesaat setelah pemerintah memberikan status WNI kepadanya.

Kedua. Kemauan memaafkan. Hampir satu dasawarsa ini kehidupan masyarakat Indonesia terbelah karena sudut pandang politik yang berbeda. Perbedaan itu memproduksi hujatan dan ujaran kebenciaan satu sama lain. Dendam dan sakit hati masih tersimpan di hati. Karena itulah, dari Syekh Ali Jaber kita bisa belajar memaafkan. Melepaskan belenggu yang mengunci hati. Karena memberi maaf sama sekali tidak merendahkan pelakunya, justru meninggikan derajat dan kemuliaan di mata Tuhan dan manusia. 

Jika kita mencintai Syekh Ali Jaber, cukup sudah kita meratapi kepergiannya. Cinta kepadanya harus kita wujudkan dengan meneladani sikap-sikapnya. Setidaknya dua hal yang saat ini menjadi masalah besar kita bersama, yaitu rasa cinta kepada tanah air dan kemauan untuk memaafkan kesalahan atau perilaku buruk orang lain kepada kita. Kita mulai lembaran baru kehidupan berbangsa dan bernegara yang harmonis, saling menghargai dan menghormati satu sama lain. Rasa cinta kepada tanah air dan kemauan memaafkan akan membawa negeri ini dalam kedamaian dan kesejahteraan. Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur

About the author

Saeful Bahri

Alumni dan guru Pondok Pesantren Daar el Qolam, Tangerang, Banten. Pernah belajar di UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten, Universitas Indonesia, dan Universiti Kebangsaan Malaysia. Selain mengajar di almamernya, ia juga menulis beberapa buku di antaranya Lost in Pesantren (2017), 7 Jurus Betah di Pesantren (2019), yang diterbitkan Penerbit Republika Jakarta.

Tinggalkan Komentar Anda