Pengalaman Religius

Dewi Hughes (3): Kembali ke Islam

Written by Asih Arimurti

Setelah melewati pergulatan batin yang cukup panjang Dewi Hughes, yang bernama asli Desak Made Hughesia Dewi ini mengucap dua kalimah syahadat pada tahun 1993 di Masjid Agung Al-Azhar. Ibunya yang Hindu pun  merestui pilihan sang anak. Membuatkan dia tumpeng sebagai rasa kegembiraan. Dan bahkan sering mengingatkan Dewi Hughes tentang salat dan puasanya. Mengapa dan bagaimana perubahan itu terjadi pada Hughes?    

Keberagamaanku berubah kembali saat saya mempunyai seorang sahabat yang beragama Islam. Inet namanya. Kami sama-sama di  jurusan bahasa Inggris  Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Katolik (Unika) Atmajaya, Jakarta. Inet sangat baik. Tidak sombong dan rajin beribadah. Begitu juga keluarganya. Mereka menerima saya apa adanya, padahal beda agama. Apalagi waktu itu, kalau pergi kuliah, saya selalu berpenampilan habis-habisan. Ya, layaknya anak muda. Hidung ditindik, pakai sandal japit, dan  beraksesoris yang aneh-aneh. Termasuk pakai kalung salib yang besarnya sampai ke pusar. Tapi mereka, keluarga Inet, biasa-biasa saja menerima saya main ke rumah mereka. padahal rumah Inet praktis menjadi tempat transit saya sebelum pergi ke sekolah penyiar sore harinya, setelah kuliah pada pagi hari. Jadi, praktis hampir setiap hari saya berada di rumah Inet.

Tanpa disengaja, hidayah itu muncul di situ. Keluarga Inet itu bisa menerapkan ajaran Katolik di rumahnya, tapi islami. Orangtuanya berpendidikan, rumahnya bersih, benar-benar mennjukkan bahwa Islam itu tidak kumuh. Islam itu intelek. Islam itu bersih.Kalau Jumat, ayah Inet berpakaian koko. Berpenampilan bersih dan wangi. Kalau saya tanya, “Mau ke mana,  Om?” Jawabnya: Ke masjid dulu ya, sebentar.”

Nah, sorenya anak-anak dari perkampungan belakang kompleksnya datang. Ada anak pembantu rumah tangga, anak pak satpam, sampai anak tukang topeng monyet, semua kumpul di ruang tengah. Keluarga Inet memang keluarga yang cukup terpandang. Mereka duduk di atas karpet yang sama, yang biasa diduduki Inet dan keluarganya. Jadi, mereka kaum dhuafa, diperlakukan sama dengan mereka. Tidak ada perbedaan. Mereka datang untuk mengaji, dan belajar bahasa Inggris yang memang diadakan oleh keluarga Inet. Yang mengajar bahasa Imggris mamanya Inet.

Untuk belajar ngaji sengaja didatangkan  seorang ustad. Nah, saat magrib, dan dikumandangkan adzan, wah indah sekali didengarnya. Meskipun aku hanya mendengarnya dari dalam kamar Inet. Kemudian anak-anak itu berlari ke tempat wudhu, berebut memgambil air wudhu. Aduh, indah sekali melihatnya. Apalagi, setelah belajar itu mereka diberi hadiah, kado berupa makanan. Dengan maksud menambah semangat mereka. maklum mereka berasal dari keluarga yang kurang mampu . Jadi, kadang, semangat untuk belajar kurang setelah anak-anak itu  pulang, giliran keluarga Inet yang mengaji. Mereka mengaji bersama-sama dengan suara yang cukup keras, hingga menghiasi seluruh ruangan.

Keadaan seperti itu lambat laun turut mempengaruhi batinku  tentang agama. Lama-lama aku jadi ikut mengajar anak-anak itu. Ikut membantu membungkus kado mereka. sampai akhirnya aku berani bertukar pikiran dan bertanya tentang Islam langsung ke Pak Ustad, khususnya yang selama ini menjadi kebingunganku. Kenapa ada agama Islam?  Kenapa Nabi itu  dimuliakan? Kenapa di Katolik itu ada trilogi Maha Kudus? Pikiran-pikiran semacam itulah yang membuat aku begitu lama mempelajari Islam?

Akhirnya, secara resmi saya mengucapkan dua kalimah syahadat pada tahun 1993 di Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, didampingi ayah Inet dan Om Partono, paman Inet. Mereka berdua inilah yang meneken surat pertanda aku resmi meeluk agama Islam. Sayangnya, Mama pada waktu itu tidak dapat hadir. Tapi beliau sudah merestui jalan yang aku pilih. Bahkan meski Mama beragama Hindu serta  keluargaku yang agamanya beda-beda itu, mereka membuatkan aku nasi tumpeng sebagai ungkapan kegembiraan. Orangtua saya sebenarnya tidak risau apa pun agama anaknya. Mereka hanya berprinsip anaknya haruslah jadi anak yang baik, anak-anak yang saleh dan salehah. Mama pun sering menasihatiku, apakah aku sudah salat, bagaimana dengan puasaku? “Jangan lupa, berdoa ya, Nak ya!’ Begitu Mama selalu memberi nasihat.

Bersambung  Ditulis bersama Akmal Stanzah (almarhum). Sumber: Panjimas, 16-29 Oktober  2002

About the author

Asih Arimurti

Wartawan Majalah Panji Masyarakat

Tinggalkan Komentar Anda