Jejak Islam

Ziarah Kepada Leluhur Penyebar Islam di Nusantara (1)

Written by Panji Masyarakat

Tradisi berziarah kepada makam leluhur merupakan sebuah fenomena yang menggejala di hampir seluruh lapisan masyarakat  Islam. Terutama di Pulau Jawa. Hal ini dapat kita lihat pada menjelang Ramadan  dn awal Idul Fitri.  Ziarah ini tampaknya merupakan suatu keharusan bagi suatu keluarga. Masyarakat Islam, usai salat Idul Fitri, sesudah bermaaf-maafan dan bersalam-salaman di kalangan keluarga dan kerabat, biasanya langah pertama yang mereka lakukan adalah nyekar kemakam para leluhur, apakah itu orangtua, nenek, kakekatau buyut.

Di Banten ziarah ke makam leluhur itu kondisinya cukup massal. Pada awal Idul Fitri atau bulan Maulid (Rabiul Awwal) atau bulan Dzul Hijjah  banyak sekali anggota masyarakat yang datang ke makam sultan Banten  untuk berziarah. Mereka berasal dari berbagai lapisan masyarakat  bawah, sampai ke mereka yang datang berziarah dengan mengendarai Mercy alias Mercedes  Benz.

Lebih menarik lagi, ada pula  sekelompok orang yang datang membawa kendaraan roda empat seperti bus atau kendaraan angkutan umum lainnya, yang semuanya baru, yang ikut diziarahkan sebelum dioperasikan.  Suatu hari, ketika sedang berada di Banten Lama, penulis  melihat sederetan bus-bus kendaraan umum yang sama sekali baru berderet di sekitarMasjid Agung. Kedatangan mereka ke Banten, ialah agar setelah diziarahkan ke makam sultan, mereka akan mendapa keselamatan dan keberkahan.

Statistik dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Serang mencatat bahwa tahun-tahun terakhir ini pengunjung yang berziarah ke makam sultan Banten mencapai satu setengah juta orang. Ini berarti kalau dirata-ratakan setiap harinya, ada sekitar lima ribu orang datang berziarah ke makam sultan Banten.

Gejala seperti ini tidak hanya terjadi di Banten tapi juga di komplek unan Gunung Jati Cirebon, makam Sultan Demak di Demak, yang setiap harinya selalu penuh dengan peziarah.

Muncul pertanyaan di benak kita mengapa kharisma sultan Banten dan para wali di Pulau Jawa mendapat penghormatan dari masyarakat begitu tinggi?

Secara sosial ini adalah sebuah gejala bahwa dengan berziarah ke makam wali atau sultan, mereka mengharapkan “berkah” dan “keselamatan”, suatu hal yang bila dilihat dari segi agama justru orang yang sudah wafat harus didoakan oleh kita-kita yang masih hidup.

Konsep Penguburan Islam

Perilaku hasil penguburan bersumber pada gagasan baik bersifat sosiologis maupun religius –ideologis. Sementara itu, sumber ketiga adalah kapasitas teknologi (kubur, kremasi, mumifikasi, penempatan sofisitifikasi dan lain-lain). Dalam sistem budaya, ketiga sumber tersebut berinteraksi serta mewujudkan produk berupa kubur, teknik penguburan serta konsep-konsep yang mendasarinya, termasuk upacara, mantera atau doa, pesta kematian, dan sebagainya.   

Dalam Islam konsep dasar kematian dapat dilihat dari salah satu sabda Rasulullah s.a.w., yang menyatakan bahwa apabila anak Adam meninggal putuslah segala hubungannnya dengan dunia, kecuali (1) doa dari anak yang saleh, (2) amalnya yang tidak putus, (3) ilmu yang terus diamalkan. Penyelenggaraan perawatan jenazah sampai pada pemakamannya merupakan kewajiban sebagian muslim (fardu kifayah). Namun Islam tidak mengenal pesta kematian atau perkabungan, di luar penyelenggaraan jenazah sampai pemakamannya. Begitu pula Islam tidak mengenal peringatan kematian 3, 7, 40, 100, dan 1000 hari. Jika itu diselenggarakan, semata-mata berdasarkan adat atau tradisi pra-Islam.

Tradisi penguburan Islam tidak mengenal penyertaan bekal kubur (funeral goods), dan tidak pula dikenal penggunaan peti mati, kecuali di dalam peti tersebut disertakan tanah yang bersentuhan langsung dengan sebagian badan si mati. Sunnah lain yang dapat dianggap mendasari tradisi penguburan Islam antara lain: (1) kubur lebih baik ditinggikan dari tanah sekitarnya , agar mudah diketahui (HR. Baihaqi); (2) memberi tanda kubur dengan batu atau benda lain pada bagian kepala (HR Abu Dawud); (3) dilarang menembok kubur (HR. Ahmad dan Muslim); (4) dilarang membuat  tulisan di atas kubur (HR. Nasai); (5) dilarang membuat bangunan di atas kubur (HR. Ahmad dan Muslim); (6) tetapi ada pula yang meriwayatkan bahwa sebaiknya kubur jangan ditinggikan, sedang yang terlanjur ditinggikan sebaiknya didatarkan (HR. Muslim); dan (7) dilarang membuat perkuburan menjadi masjid (HR. Bukhari dan Muslim).

Di Indonesia memang yang terjadi justru sebaliknya. Namun, seperti telah disinggung, ini bukan konteks akidah tetapi lebih pada tingkatan muamalah, yakni hal-hal teknis yang berakar pada tradisi pra-Islam. Dalam budaya Jawa terdapat penghormatan terhadap leluhur, sehingga makam disebut pasarean (tempat tidur), atau juga kasunyatan (ketenangan), terlebih apabila hal tersebut ditujukan pada para sultan atau wali penyiar Islam.

Bersambung

Penulis: Prof. Dr. Hasan Muarif Ambary (1939-2006).  Semasa hidupnya dikenal sebagai arkeolog, pakar kepurbakalaan Islam. Guru besar UIN Syarif Hidayatullah ini pernah menjabat kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Sumber: Majalah Panjimas, 27November- 12 Oktober  2002.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • 23-april-19972-1024x566
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • tabloid-panjimasyarakat
  • Hamka
  • hamka
  • KH-Ali-Yafie-804x1024