Adab Rasul

Mendahulukan Orang Lain Adalah Kekuatan Persaudaraan

Written by B.Wiwoho

Sangat banyak kisah mengenai sifat itsar atau mendahulukan kepentingan orang lain dari pada diri sendiri, yang ditunjukkan para sahabat, yang tertulis dalam kitab-kitab hadis.

Perang Yarmuk yang merupakan perang antara Muslim Arab dan Kekaisaran Romawi Timur pada tahun 636 atau 4 tahun setelah wafat Rasulullah, meninggalkan kisah legendaris tentang kesetiakawanan.

Perang itu sendiri oleh beberapa sejarawan, dipertimbangkan sebagai salah satu pertempuran penting dalam sejarah dunia, karena menandakan gelombang besar pertama penaklukan Muslim di luar Arab, dan cepat masuknya Islam ke Palestina, Suriah, dan Mesopotamia yang rakyatnya menganut agama Kristen. Pertempuran ini merupakan salah satu kemenangan Khalid bin Walid yang paling gemilang, dan memperkuat reputasinya sebagai salah satu komandan militer dan kavaleri paling brilian di zaman Pertengahan. Pertempuran terjadi pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, khalifah Rasyidin kedua.

Ijinkan penulis mengutip peristiwa legendaris tersebut untuk menggugah kembali kekuatan persaudaraan di dalam Islam, yang merupakan inti khotbah pertama dan kedua Rasulullah di Madinah.

Abu Jahm bin Hudzaifah r.a mengisahkan, tatkala berlangsung perang Yarmuk, ia mencari sepupunya yang ikut bertempur, dengan membawakan sekantung air sebagai pengobat haus setelah bertempur. Sewaktu ditemukan, sepupunya tergeletak di suatu tempat dalam keadaan sekarat. Abu Jahm berkata, “Aku minumkan air untukmu.” Dengan isyarat sepupunya mengiyakan. Namun tiba-tiba terdengar rintihan seseorang. Sang sepupu menyuruhnya dengan isyarat lagi agar memberikan minuman kepada orang yang merintih tadi. Ternyata orang itu adalah Hisyim bin Abil ‘Ash. Ketika Abu Jahm mendatanginya, di dekatnya tergeletak pula seseorang yang merintah dan sedang sekarat. Hisyam memberinya isyarat agar mendekati orang tersebut. Begitu sampai, ternyata yang bersangkutan telah syahid. Akhirnya Abu Jahm balik ke Hisyam, ternyata ia pun telah syahid. Ia langsung kembali ke sepupunya, rupanya ia pun telah syahid. Sebuah kisah tentang kekuatan persaudaraan sesama muslim. Masya Allah, walhamdulillah.(Fadhail A’mal, Pustaka Nabawi 2003).

Jika dalam khotbah pertama dan kedua yang telah penulis ungkapkan dalam artikel-artikel terdahulu, Kanjeng Nabi Muhammad saw. menggariskan etika, adab dan kekuatan persaudaraan, maka hal itu juga disinggung kembali dalam khotbah haji terakhir beliau.

Kali ini penulis ingin menyajikan kutipan dari penulis kelas dunia non muslim, yaitu Karen Armstrong dalam bukunya Muhammad, Prophet for Our Time, tentang khutbah junjungan kita pada tanggal 8 Zulhijjah 10 H, di desa Namira dalam kawasan padang Arafah tersebut.

Tulis Armstrong, “Beliau mengingatkan mereka untuk saling menegakkan keadilan, memperlakukan perempuan dengan baik, dan meninggalkan permusuhan dan balas dendam yang diilhami oleh spirit jahiliah. Kaum Muslim tak boleh berperang melawan Muslim yang lain. ‘Ketahuilah bahwa setiap Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain, dan segenap kaum Muslim adalah bersaudara. Namun tak seorang pun dari kalian yang dihalalkan mengambil sesuatu milik saudaranya kecuali yang diberikan atas dasar kerelaan hatinya. Jangan sekali-kali kalian berlaku zalim terhadap diri kalian sendiri.’ Muhammad mengakhiri khutbahnya. ‘Ya Allah, bukankah telah kusampaikan?’ “.

Dalam artikel Batu Pertama Peradaban Islam (https://panjimasyarakat.com/2020/11/19/batu-pertama-peradaban-islam/), penulis ungkapkan, begitu tiba di Madinah Rasulullah meletakkan batu pertama dalam pembinaan peradaban Islam, yakni persaudaraan umat manusia. Persaudaraan yang akan mengakibatkan seseorang tidak sempurna imannya sebelum ia dapat mencintai saudaranya, seperti mencintai dirinya sendiri, sebelum dapat mencapai kebaikan dan rasa kasih sayang tanpa suatu sikap lemah dan mudah menyerah.

Kepada sahabat-sahabatnya selanjutnya Rasulullah berkata, “Jangan aku dipuja, seperti orang-orang Nasrani memuja anak Mariam. Aku adalah hamba Allah. Sebutkan sajalah hamba Allah dan Rasul-Nya.”

Sekali pernah ia mendatangi sekelompok sahabat sambil bertelekan sebatang tongkat. Para sahabat berdiri menyambutnya. Tapi Baginda Rasul berkata, “Jangan kamu berdiri seperti orang-orang asing yang mau saling diagungkan.”

Demikian, Rasulullah adalah orang yang duduknya seperti duduk seorang hamba. Jika tiba di suatu majelis yang sudah banyak orang duduk, tak mau ia menggeser duduk orang lain. Ia duduki tempat yang masih kosong. Makannya pun adalah makan seorang hamba yang tak pernah sungguh-sungguh kenyang.

Nafsu dan kehendak Rasulullah dikendalikan oleh kalbu, oleh rahsa dengan kesucian jiwa yang bersih dari segala noda. Jiwa yang dipenuhi kearifan dan kebijakan yang menjunjung tinggi asas kemaslahatan. Sinergi dari nafsu, kalbu dan akal atau ciptanya, menghasilkan suatu perbuatan yang mengalirkan cinta bagi kehidupan yang dilandasi oleh kekuatan iman. Dengan itu Kanjeng Nabi bergaul dengan para sahabatnya, penuh kasih sayang lagi rendah hati.

Maka tak mengherankan bila Karen Amrstrong mengakhiri bukunya dengan menyatakan, jika kita ingin menghindari kehancuran, dunia Muslim dan Barat mesti belajar bukan hanya untuk bertoleransi, melainkan juga saling mengapresiasi. Titik berangkat yang baik adalah dari sosok Muhammad; seorang manusia kompleks, yang menolak kategorisasi dangkal yang didorong oleh ideologi, yang terkadang melakukan hal yang sulit atau mustahil untuk kita terima, tetapi memiliki kejeniusan yang luar biasa dan mendirikan agama dan tradisi budaya yang didasarkan bukan pada pedang, melainkan pada “Islam” yang berarti perdamaian dan kerukunan.

Jika Karen Armstrong saja menilai seperti itu, maka bagi kita, kalau bukan Kanjeng Nabi Muhammad saw. siapa lagi yang harus kita teladani, wahai saudaraku umat Muhammad? Masya Allah laa quwwata illa billah.

About the author

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda