Cakrawala

Laut, Islam, dan Kita

Written by Arfendi Arif

Dunia yang kita diami ini terdiri dari lautan dan daratan. Daratan sudah banyak dihuni dan dieksploitasi manusia, tapi lautan masih banyak mengandung misteri dan rahasia yang belum terpecahkan.

Begitu pentingnya sumber alam lautan ini  sehingga bukan saja menjadi pembicaraan para ahli, tapi kitab suci Al-Quran pun  jauh hari sudah menjelaskannya.

Nampaknya disinilah Al-Quran menunjukkan mukjizatnya sehingga apa yang diungkapkan terlihat relevansinya di tiap zaman dan menjadi petunjuk bagi manusia dalam menjalani kehidupan ini.

Bahwa laut itu penting bagi  kehidupan bisa dilihat dari sisi kehidupan dunia dan dilihat pula dari sisi  Al -Quran sendiri. Dari sisi kehidupan manusia, laut sebagai medan kehidupan insani memiliki luas yang lebih besar dari daratan, memiliki potensi kekayaan yang cukup besar baik berupa kekayaan tambang , perikanan, energi terbarukan dan lain sebagainya. Luas lautan di dunia 70,8 persen atau 361,1 juta km persegi, sisanya daratan.

Betapa Al -Quran mengangap penting masalah lautan ini terlihat dari jumlah ayat yang cukup besar. Menurut catatan Dr. H. Hamzah Ya’kub, dari 6000 lebih ayat Al Quran terdapat 100 ayat yang berkaitan dengan masalah bahari dan maritim serta yang berhubungan dengannya.

Dengan demikian menunjukkan betapa Al-Quran menekankan kepada  manusia  supaya memperhatikan ciptaan-Nya, selain tentunya untuk memperlihatkan Kemahakuasaan Allah sehingga menambah keimanan manusia, juga sebagai sumber rezeki yang bisa dimanfaatkan bagi kesejahteraan manusia.

Penelitian yang secara komprensif dilakukan Dr. H. Hamzah Ya’kub terkait ayat-ayat Al-Quran yang berhubungan dengan kelautan  membagi pada 5 bidang. Yaitu berhubungan dengan fungsi laut (oceanografi), maritim ; cuaca (meteorologi), dan astronomi ( Lihat Dr. H.Hamzah Ya’kub, Tinjauan Ekonomi Maritim Dalam Al -Qur’an ( PT Alma’arif, Bandung, 1980).

Sebagai spesialis dan concern di bidang sains dan teknologi, Dr.H.Hamzah Ya’kub telah menulis beberapa  risalah dan hikmah hubungan Al Quran yang paralel dengan soal yang kita paparkan ini diantaranya  hubungan tauhid dengan bidang pertanian, tentang ruang angkasa, peternakan dan zoologi, serta Islam dan pembangunan. Kemudian,dalam hubungan Al-Quran dengan kelautan ini Dr.H. Hamzah Ya’kub membuat daftar secara detil ayat ayat yang berhubungan dengan pelayaran dan perkapalan,meteorologi, dan astronomi.

Semangat Al Quran dan Laut

Yang mengemuka dalam kehidupan dunia ini baik di tiap negara secara nasional  maupun internasional adalah memanfaatkan laut untuk kepentingan ekonomi. Negara-negara yang memiliki garis pantai yang panjang atau wilayah laut yang luas pastilah mendayagunakan sumber lautnya  untuk menghasilkan pemasukan yang  besar. Sektor yang bisa dikembangkan di antaranya penangkapan ikan, perdagangan, transportasi laut, pengeboran minyak dan lain sebagainya. Dalam penangkapan ikan ,misalnya, ada negara yang luas pantainya terbatas atau perikanannya sudah terkuras, terpaksa melakukan pencurian ikan di wilayah laut negara lain (illegal fishing).

Bahwa laut adalah sumber rezeki yang diberikan Allah dikatakan dengan tegas dalam Al-Quran. ” Allah yang menjadikan lautan untuk kamu, guna melayarkan kapal di atasnya dengan perintah- Nya dan supaya kamu dapat mencari karunia-Nya dan mudah-mudahan kamu berterima kasih ( al-Jatsiyah : 12).

Dalam surat an-Nahl ayat 12 Allah berfirman. ” Dan Dialah yang memudahkan laut, supaya kamu bisa makan dari padanya daging yang lembut, dan kamu bisa keluarkan dari laut perhiasan yang bisa kamu pakai, dan engkau lihat kapal-kapal berjalan padanya supaya kamu bisa cari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.”.

Ayat di atas dengan jelas mengungkapkan potensi perekonomian di lautan, banyak sektor yang bisa dikembangkan yaitu sektor perikanan, sektor maritim, pertambangan, perkapalan dan banyak lainnya.  Artinya,   Al-Quran 15 abad lalu telah berbicara bagaimana memanfaatkan laut untuk meningkatkan kesejahteraan dan mengangkat taraf hidup rakyat agar lebih baik.

Dalam dunia moderen sekarang ini menjadi terbukti negara yang bisa memanfaatkan lautnya akan menjadi negara yang kaya dan mendapat hasil yang melimpah. Sebab, laut bukan saja menghasilkan sektor perikanan dan perhiasan, juga barang tambang
yang  nilai jualnya sangat besar. Di samping itu laut juga menjadi alur transportasi murah dan memberikan efek positif  pula kemajuan industri perkapalan dan pariwisata. Dan, negara yang memiliki laut yang luas menjadi indikator  tingkat ekonomi sebuah negara.

Sisi lain bertaburnya ayat-ayat tentang laut dalam Al-Quran menunjukkan orisinilitas dan keaslian Al-Quran yang bersumber dari wahyu Allah. Sebab, tidak mungkin Nabi Muhammad yang  ummy atau buta huruf dan tinggal di sebuah jazirah yang tandus dan gersang berbicara tentang laut dan  suatu yang bersifat futuristik, berdaya jangkau masa depan dan menentukan bagi kehidupan manusia.

Meskipun Al-Quran telah 15 abad lalu memberikan motivasi pentingnya memperhatikan laut, namun saat ini boleh dikatakan tidak ada negara Islam yang unggul di sektor lautan, baik ditilik dari segi ekonomi, perdagangan, militer, maritim, kepelabuhanan dan semacamnya. Dari segi ekonomi, perdagangan dan militer pada umumnya dikuasai oleh negara-negara maju yang  umumnya non-muslim dari negara barat, dan sebagian negara Asia seperti Cina, Singapura, Korea dan lainnya.

Indonesia meskipun disebut negara kepulauan  (archipelago state) terbesar di dunia dengan jumlah pulaunya 17 500 pulau,  dan 5,8 juta km2 luas wilayah laut (daratan hanya 2,01 juta km2), belum bisa memanfaatkan secara maksimal potensi lautnya.

Jangankan memaksimalkan potensi lautnya, untuk memelihara dan menjaga keamanannya saja Indonesia cukup kewalahan.

Catatan para ahli dan lembaga yang pernah menghitung besaran kekayaan laut Indonesia pada tahun 2009 potensi kekayaan laut kita tiap tahun mencapai 156,8 miliar dollar AS atau setara Rp 1.568 triliun, perinciannya perikanan sebesar Rp 319,4 triliun, wilayah pesisir lestari Rp 560 triliun, bio teknologi laut sebesar Rp 400 triliun, wisata bahari Rp 20 triliun, transportasi laut Rp 200 triliun (lihat Dr. Ir. Mohammad Jafar Hafsah, Mewujudkan Indonesia Berdaulat Pangan, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, hal. 173).

Jumlah kekayaan yang besar tersebut secara ekonomi belum bisa diproses secara baik oleh Indonesia, sehingga merupakan potensi yang masih mati atau terpendam. Bahkan, untuk mengamankannya saja Indonesia kerepotan. Menurut badan pangan dunia atau Organisasi Pangan dan Pertanian  Dunia (PAO) dari 6,4 juta ton potensi ikan Indonesia di laut, sebanyak seperempatnya dijaring secara ilegal atau dicuri. Diperkirakan besarnya kerugian per-tahun Ro 30 triliun ( Mohammad Jafar Hafsah, ibid hal. 179).

Untuk mendongkrak kemajuan ekonomi  kelautan Indonesia, menurut pengamat ekonomi kelautan dan mantan Menteri KKP Rokhmin Dahuri, empat hal perlu dilakukan.

Pertama, penegakan hukum dan kedaulatan di laut dengan cara menyelesaikan seluruh masalah perbatasan wilayah laut, pemberantasan semua kegiatan ilegal, penanggulangan kegiatan yang merusak lingkungan dan SDA, serta penguatan dan pengembangan kekuatan hankam laut.

Kedua, menerapkan tata ruang kelautan nasional secara konsisten untuk menjamin kepastian dan efisiensi investasi serta kelestarian ekosistem laut.

Ketiga, peningkatan produktivitas, efisiensi, dan daya saing sektor ekonomi  kelautan secara ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Keempat, kebijakan politik-ekonomi (fiskal-moneter, perdagangan,hukum, keamanan, otonomi daerah, infrastruktur, ilmu pengetahuan dan teknologi, perpajakan, dan ketenagakerjaan) harus dibuat kondusif bagi tumbuh kembangnya ekonomi kelautan (lihat Rokhmin Dahuri, Masa Depan Indonesia Kelaut Saja, Roda Bahari, Bogor, Agustus, 2013, hal  123-124).

Bagi umat Islam Al-Quran adalah kitab suci dan wahyu Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad. Percaya kepada Al-Quran dan ajarannya merupakan bagian dari rukun Iman yang enam yang menjadi inti keimanan dan theologi Islam. Jika ajaran Al-Quran tentang laut dipraktekkan secara total dan sebagai konsekwensi Iman kepada Allah  maka itu bisa menjadi kekuatan yang dahsyat  menggerakkan ekonomi. Bukankah spirit  kapitalisme muncul dari etika agama atau protestan etik?

Atau bisa juga kemajuan Barat dalam mengelola ekonomi kelautan karena mereka men-takeover ajaran Islam tentang laut. Sementara kita meninggalkannya!

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda