Tasawuf

Stasiun Ke-4 Penempuh Jalan Tasawuf: Tawakal

Written by A.Suryana Sudrajat

Tawakal dilakukan antara lain agar keteguhan jiwa menghadapi lawan dan agar perhatian kepada usaha untuk menegakkan kebenaran tidak terpecah karena adanya lawan itu, dengan keyakinan bahwa Allah-lah  yang akan melindungi dan menjaga kita.

Stasiun berikutnya setelah sabar adalah tawakal  (bahasa Arab tawakkul). Secara harfiah berarti bersandar atau atau mempercayai diri. Dalam agama tawakal berarti bersandar dan mempercayakan diri kepada Allah. Tawakal, seperti dikatakan Nurcholish Madjid (1992)  merupakan sumber kekuatan jiwa dan keteguhan hati menempuh hidup yang penuh tantangan dan tidak sepenuhnya dipahami ini, terutama dalam perjuangan memperoleh ridha Allah.

Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dengan mengendarai unta. Lalu ia bertanya: “Ya Rasulullah, haruskah aku biarkan saja unta ini tanpa ditambatkan, atau kemudian aku bertawakal saja kepada Allah?” Rasulullah menjawab: “Tambatkan untamu, dan sesudah itu bertawakallah.”  (HR Tirmidzi).        

Dikisahkan, suatu ketika Khalifah Umar ibn Khaththab melewati sekumpulan orang. Khalifah bertanya: “Apa yang sedang kalian lakukan?” Mereka menjawab: “Kami sedang bertawakkal.” Apa tanggapan  Khalifah Umar kemudian? Beliau berkata: “Bukan. Tetapi kalian sedang menggantungkan nasib kepada orang lain. Tawakal sebenarnya adalah orang yang menaburkan benih di tanah, lalu menyerahkan keberuntungannya kepada Allah.” 

Jadi, meskipun kita menyandarkan diri kepada Allah, tawakal  yang sebenarnya bukan pasrah atau yang kita kenal dengan sikap nrimo. Tawakal adalah  menyerahkan segala keputusan kepada Tuhan, tetapi membarenginya dengan ikhtiar. Allah SWT berfirman: “Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya.” (Q. 86:3).

Terkait dengan sikap tawakal adalah ketergesa-gesaan (al-‘ajalah). Seorang sahabat pernah memohon kepada Nabi: “Ya Rasulullah, apakah tidak sebaiknya  Bapak berdoa dan meminta pertolongan buat kita?” Rupanya sahabat yang bernama Habba ibn Arat  itu  sudah tidak tahan menanggung cobaan yang diderita umat muslimin. Tapi Rasulullah memerah wajahnya. Beliau duduk, dan berkata: “Orang-orang sebelum kamu, dahulu, telah disiksa, digaruk dengan sisir besi, ada pula yang digergaji hingga terbelah dua. Tetapi siksaan yang kejam itu tidak membuat mereka berpaling dari agama mereka. Demi Allah, akan dimenangkan-Nya agama ini, sehingga seorang penunggang kuda pergi dari Shan’a ke Hadramaut dalam keadaan tidak takut selain kepada Allah atau serigala yang dikhawatirkan akan menerkam kambingnya. Tapi kamu selalu tergesa-gesa.”

Syahdan, Khalifah Umar ibn Abdil Aziz mendapat kritik cukup pedas dari putranya, Abdul Malik. Pasalnya, Umar tidak segera mengikis sisa-sisa penyimpangan dan kezaliman yang diwariskan para pendahulunya.

“Mengapa Bapak tidak segera bertindak? Kata Abdul Malik, penuh semangat. “Demi Allah, Tapi Rasulullah memerah wajahnya. Beliau duduk, dan berkata: “Orang-orang sebelum kamu, dahulu, telah disiksa, digaruk dengan sisir besi, ada pula yang digergaji hingga terbelah dua. Tetapi siksaan yang kejam itu tidak membuat mereka berpaling dari agama mereka. Demi Allah, akan dimenangkan-Nya agama ini, sehingga seorang penunggang kuda pergi dari Shan’a ke Hadramaut dalam keadaan tidak takut selain kepada Allah atau serigala yang dikhawatirkan akan menerkam kambingnya. Tapi kamu selalu tergesa-gesa.”

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda