Cakrawala

Bisnis Agama

Dalam masyarakat yang emosional  dan subjektif, ketika kehidupannya dilanda krisis akibat kehilangan pegangan, panutan dan tuntunan,  agama atau sesuatu yang bersifat spiritual menjadi tempat pelarian untuk bersembunyi, menghindar atau mencari jawaban dari kenyataan hidup yang pahit. Maka  agama pun menjadi komoditi atau “barang dagangan” yang sangat dicari dan dibutuhkan. Kondisi seperti ini merupakan sasaran empuk bagi para pengusaha dan pedagang yang berlindung di balik jubah agama untuk menjual harapan kehidupan yang lebih baik. Umat beragama merupakan konsumen fanatik untuk produk-produk berlabel keagamaan sehingga menguntungkan bagi para kaum “kapitalis agama” yang bekerjasama dengan “tengkulak agama”. Fenomena ini  pula yang kini sedang melanda masyarakat kita.

Steve Bruce dalam God is Dead: Secularization in the West (2002) mengstakan bahwa agama sepi peminat. Jualan agama tidak laku. Gereja-gereja ditinggalkan jemaatnya, mereka menjadi atheis dan agnostik. Tetapi sifat dasar manusia dalam pencarian ruang spiritual mengakibatkan Islam berkembang pesat di Eropa dan Amerika.

Abad Digital adalah ruang tanpa batas yang menyebabkan seluruh data dan informasi yang selama ini tertutup atau disembunyikan menjadi terbuka dan dapat diakses oleh siapa saja dan dimana saja. Abad digital mengakibatkan hilangnya monopoli kebenaran yang dulu dimiliki oleh para Guru, Pendeta, Pastor, Ulama dll. yang merupakan tempat untuk bertanya. Abad digital menyebabkan Dogma dan Doktrin Agama dipertanyakan, diperdebatkan kemudian ditinggalkan dan secara alamiah Abad Digital menyebabkan terjadinya kekosongan ruang spiritualitas. Kekosongan itu diisi oleh Islam sehingga Islam dianggap sebagai musuh peradaban karena menghambat laju kapitalisme yang sudah eksis sejak revolusi industri.

Agama samawi (Yahudi, Kristen dan Islam) yang lahir di Timur yang merupakan filosofi kehidupan tetapi ketika dibawa ke Barat, berubah menjadi kapitalisasi kehidupan sehingga agama diikutsertakan dalam proses penjajahan dan penindasan yang dikenal dengan slogan Gold-Glory-Gospel. Di Amerika dan Eropa, fenomena agama yang berobah menjadi Industri telah membuktikan bahwa bisnis agama memiliki banyak peminat dan pembeli. Baik Islam (dari berbagai aliran dan organisasi) maupun Kristen dari berbagai denominasi dan jonggregasi yang telah menuai kesuksesan dan keuntungan besar.

Munculnya “politisasi agama” di Amerika, Eropa dan Indonesia telah mengubah agama yang bersifat individual menjadi “agama publik” yang tidak lagi “bersembunyi” di ruang-ruang privat tetapi menjelma menjadi fenomena publik di panggung-panggung politik, sosial, dan budaya.

Sejarah agama politik pernah berlangsung pada era awal runtuhnya kekuasaan imperium Romawi yang menganut paganisme yang menyebabkan Eropa masuk kedalam Abad Kegelapan (Dark Age) selama kurang-lebih 600 tahun. Semua sendi kehidupan bermasyarakat diatur dan diputuskan oleh dewan gereja. Para rohaniawan menjual ayat untuk masuk surga. Ilmu pengetahuan dikalahkan dengan dogma dan norma agama.

Di Indonesia, paska lengsernya Soeharto 1998, fenomena “agama publik” dengan munculnya “agama politik” ditandai dengan berdirinya berbagai Parpol berlabel Islam serta berbagai macam kelompok dan organisasi Islam sektarian yang mengusung beragam ideologi, mazhab, pemikiran, dan wacana keislaman. Dahulu di era orde baru, kyai atau ustadz adalah orang yang rata-rata usianya di atas 60-an dan hidup sederhana tetapi saat ini ustadzatau kyai adalah orang muda yang hidup mewah dan sering tampil di media. Para politisi, pejabat dan tokoh masyarakat yang sebelumnya berperilaku sekuler, ketika terlibat dengan kasus hukum atau hendak melakukan hajatan politik, tiba-tiba tampil dengan atribut agama. Artinya agama hanya digunakan sebagai tempat untuk menutupi aib dan kebohonggannya. Kebebasan beragama di era Reformasi, mengakibatkan banyak lembaga bisnis berobah menjadi lembaga agama sebagai kedok untuk melakukan money laundering.

Dikalangan non-Muslim muncul gereja-gereja yang disponsori oleh para konglomerat dan taipan yang merupakan tempat konsolidasi politik untuk merebut kekuasaan yang berujung pada penumpukan kapital. gereja di zaman sekarang bukan lagi mengasihi sesama, tetapi sebagai ladang bisnis untuk memperkaya para pendeta yang berakibat banyak para jemaat enggan ke gereja sehingga pendapatan gereja berkurang. Naiknya pamor politik Kristen/gereja seiring dengan naiknya Jokowi Ahok ke pentas politik nasional. Ini dapat dipahami karena lawan-lawan politik Jokowi/Ahok menggunakan sentimen agama. Analoginya seperti anak-anak PKI lebih nyaman dengan Megawati, padahal Megawati bukanlah PKI. Begitu juga dengan Jokowi yang bukan non-Islam alias muslim. Munculnya Jokowi dan Ahok ke pentas politik merupakan awal kebangkitan non-Muslim di pentas politik nasional yang merasa disingkirkan selama Orde Baru berkuasa.

Sesuai konsep dialektika, gerak politik non-muslim direspons oleh umat islam dengan berbagai gerakan yang bersifat historis maupun teologis. Akhirnya pertarungan Jokowi dari awal kemunculannya hingga saat ini merupakan pertarungan terbuka antara Muslim vs Non-Muslim. Hal ini tabu untuk diucapkan tetapi bisa dirasakan oleh semua pihak. Tetapi konflik terbuka antar agama hanya ditingkat akar rumput (gass root),  karena ditingkat para pemimpin agama, mereka bersatu bahkan berbagi lahan bisnis sesuai dengan tulisan “In God We Trust” yang terdapat pada mata uang us dollar yang dimulai sejak Civil War 1864.

“Agama politik” bukan saja “politik elite” tetapi juga “politik massa”, bukan hanya “politik pemerintahan” tetapi juga “politik kemasyarakatan”. Banyak kaum Muslim dan Non-Muslim dengan antusias dan keikhlasan, berbondong-bondong membeli aneka produk “agama politik” dengan harapan mendapatkan surga dan pahala. Akibat kehilangan pegangan, sebagian kaum Muslim di Indonesia, khususnya masyarakat Islam perkotaan, melarikan diri ke agama” sehingga bisnis Islam politik yang ditawarkan dan dipromosikan oleh sejumlah elit muslim politik, elite Muslim agama dan ormas keislaman laris-manis.

Para aktor atau penjual agama politik ini tidak perlu bermodal besar untuk mengeruk keuntungan. Mereka cukup bermodalkan keturunan kyai dengan sebutan “Gus” dan sejumlah ayat Kitab Suci, ditambah sejumlah perkataan (Aqwal) para pemuka agama yang mana, hadis, maupun aqwal tersebut sudah diseleksi dan disesuaikan dengan narasi, selera, agenda, dan kepentingan mereka, walaupun ada segunung teks, wacana, sejarah, dan tradisi keislaman yang kontra “Agama politik”, tetapi selalu diabaikan karena tidak mendukung proyek ekonomi-politik-kekuasaan yang mereka rencanakan. Dengan mencantumkan teks-teks sakral-agamis, maka gagasan dan wacana konsep “Islam politik” menjadi seolah-olah suci dan mendapat legitimasi teologis dengan stempel ketuhanan.

“Islam politik” sebagai suatu konsep maupun sebagai suatu gerakan politik merupakan produk dari pemikiran dan kebudayaan manusia. Tetapi sebagian masyarakat muslim tidak memperdulikannya, yang penting ada dalil keislamannya. Jika sudah kelihatan Islami, maka produk “Islam politik” siap untuk di-launching dan masyarakat sudah mengantri untuk membelinya. Itulah yang terjadi saat ini dan juga masa-masa yang lalu di mana sebagian kaum Muslim rela berbondong-bondong menjadi pengikut setia para “kapitalis” Muslim yang menjual agama untuk kepentingan materi dan kekuasaan. Akhirnya, agama bukan menjadi way of life tetapi telah menjadi komoditi alias barang dagangan. (*)

About the author

Jhon Helmy Memphi

Pengamat sosial, tinggal di Jakarta

Tinggalkan Komentar Anda