Bintang Zaman

Abu Hurairah (2): Mencintai yang Dicintai Nabi

Written by Hamid Ahmad

Abu Hurairah sangat mencintai Nabi. Sampai-sampai dia memilih dipukul Nabi karena melakukan kekeliruan keimbang mendapatkan makanan yang enak. “Karena nabi menjanjikan akan memberi syafaat kepada orang yang pernah merasa disikatinya secara sengaja atau tidak.”

Abu Hurairah, atau nama  lengkapnya Abdur Rahman (versi lain Abdu Syamsi ibn shakhr Ad-Dausi, dikenal  humoris. Banyak anekdot yang berasal darinya. Ia pun suka menghibur anak-anak kecil. Ia pecint kucing kecil. Ke mana-mana ia bawa binatang kesayangannya itu, sehinga julukan Abu Hurairah, alias bapak Kucing Kecil, pun melekat padanya.

Dibanding Nabi, umurnya lebih muda sekitar 30 tahun. Dia lahir di Daus, sebuah desa kecil di padang pasir Yaman. Hidup di tengah kabilah Azad, ia sudah yatim sejak kecil, yang membantu ibunya menjadi penggembala kambing.

Dia masuk Islam tak lama setelah pindah ke Madina pada tahun ke-7 Hijrah, bersamaan dengan rencana keberangkatan Nabi ke ekspedisi Khaibar. Tapi ibundanya belum mau masuk Islam. Malah sang ibu pernah menghina Nabi. Ini membuat Abdur Rahman sedih. Untuk itu, ia memohon Nabi berdoa agar ibunya masuk Islam. Kemudian ia kembali menemui ibunya, mengajaknya masuk Islam. Ternyata sang ibu telah berubah, bersedia mengucapkan dua kalimat syahadat.

Buruh Kasar         

Akan halnya kepindahannya ke Madinah adalah untuk mengadu nasib. Di sana ia bekerja serabutan, menjadi buru kasar bagi siapa pun yang membutuhkan tenaganya. Acapkali ia harus mengikatkan batu ke perutnya, guna menahan lapar yang amat sangat.

Dikisahkan, ia pernah kedapatan berbaring di dekat mimbar masjid. Gara-gara perbuatan aneh itu, orang mengira dia kurang waras. Mendengar kasak-kusuk di kalangan sahabat ini, Nabi segera menemui Abu Hurairah. Dia bilang ke Nabi, bahwa dia tidak gila. Hanya lapar. Nabi pun segera memberinya makanan.

Suatu kali, dengan masih mengikatkan batu di perutnya, dia duduk di pinggir jalan, tempat orang biasa berlalu-lalang. Dilihatnya Abu Bakr melintas. Lalu dia minta dibacakan satu ayat Alquran. “Aku bertanya begitu supaya dia mengajakku ikut, memberiku pekerjaan,” tutur Abu Hurairah. Tapi Abu Bakr hanya membacakan ayat, lantas berlalu.

Dilihatnya Umar ibn Khaththab. “Tolong ajari aku ayat Alquran,” kata Abu Hurairah. Kembali ia harus menelan ludah kekecewaan karena Umar berbuat hal yang sama seperti Abu Bakr.

Tak lama kemudian Nabi lewat. Dan tersenyum. ‘beliau tahu apa isi hati saya. Beliau bisa membaca raut muka saya secara tepat,” tutur Abu Hurairah.

“Wahai, Abu Hurairah!” Nabi memanggilnya.

“Labbaik,ya Rasulullah!”

“Ikutlah aku.”

Nabi mengajak Abu Hurairah ke rumahnya. Di dalam rumag didapati sebaskom susu. “dari mana susu ini?” Nabi bertanya. Beliau diberi tahu bahwa seseorang telah memberikan susu itu.

“Wahai Abu Hurairah!”

“Labbaik, ya Rasulullah!”

“Tolong panggilkan ahli shuffah,”kata Nabi. Susu tadi lalu dibagikan kepada mereka, termasuk Abu Hurairah. Sejak itulah, Abu Hurairah mengabdi kepada Rasulullah, bergabung dengan ahli shuffah di selasar masjid.

Sepulang dari ekspedisi khaibar, nabi melakukan perluasan masjid. Yakni ke arah barat dengan menambah tiga pilar lagi. Abu Hurairah terlibat pula dalam renovasi ini. Ketika dilihatnya Nabi mengangkat batu, ia meminta agar beliau menyerahkan batu itu kepadanya. Nabi menolak seraya bersabda, “Tiada kehidupan sebenarnya, melainkan kehidupan akhirat.”

Abu Hurairah sangat mencintai Nabi. Sampai-sampai dia memilih dipukul Nabi karena melakukan kekeliruan keimbang mendapatkan makanan yang enak. “Karena nabi menjanjikan akan memberi syafaat kepada orang yang pernah merasa disikatinya secara sengaja atau tidak.”

Begitu cintanya kepada Rasulullah sehingga siapa pun yang dicintai nabi, ia ikut mencintainya. Misalnya, ia suka mencium Hasan dan Husein, karena melihat Rasululah mencium kedua cucunya itu.      

Bersambung

Ditulis bersama Iqbal Setyarso,  mantan wartawan Panji Masyarakat yang kini aktif di lembaga kemanusiaan ACT (Aksi Cepat Tanggap), Jakarta. Sumber: Panji Masyaakat, 29 Desember 1999   

About the author

Hamid Ahmad

Redaktur Panji Masyarakat (1997-2001). Sebelumnya wartawan Harian Pelita dan Harian Republika. Kini penulis lepas dan tinggal di Pasuruan, Jawa Timur.

Tinggalkan Komentar Anda