Tafsir

Tafsir Tematik: Dakwah, Juga untuk Pendosa (1)

Written by Panji Masyarakat

Mengapa disebutkan ‘menyerukan kebaikan’ dan ‘memerintahkan yang makruf’, padahal dua ungkapan itu searti? Memanggil kepada kebaikan menunjuk cakupan antarumat, sementara yang mengandung soal makruf dan mungkar untuk intraumat. Jika demikian, ‘kebaikan’ di situ tak lain berarti  Islam

.

Hendaklah ada dari  kalian suatu umat yang memanggil kepada  kebaikan dan memerintahkan yang makruf serta mencegah dari yang mungkar. Merekalah orang-orang beruntung. (Q. 3: 104).

Tiga kewajiban dikandung ayat ini. Pertama, dakwah kepada kebaikan. Kedua, perintah mengerjakan yang makruf. Dan ketiga, mencegah  orang dari yang mungkar. Demikian Ar-Razi.

Dakwah kepada kebaikan, utamanya adalah dakwah kepada penegakan keimanan akan Dzat Allah, sifat-sifat-Nya, dan penyucian-Nya dari segala penyerupaan dengan alam (al-mumkinaat). Dakwah ini mengandung dua kegiatan: asungan (targhib, encouragement) untuk mengerjakan semua yang seharusnya, yakni yang makruf, dan pengengganan (pembencian, tarhib, discouragement) untuk meninggalkan semua yang tak layak atau yang mungkar. (Razi, VIII: 182-183). Ketiga-tiganya merupakan tugas umat, baik sebagai keseluruhan maupun sebagian. (baca: Misi yang Mulia dan Sederhana).

Tetapi, apakah ‘umat’ itu? “Jamaah,” jawab Ibn Jarir (Thabari, IV: 38). Juga Al-Qasimi (IV: 104). Berbeda dengan pengertian menurut Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Dengan kesadaran bahwa perintah ayat ini ditujukan kepada semua, mereka menunjuk kemungkinan penugasan kelompok tertentu untuk amar makruf nahi mungkar. Dalam pengertian itu maka umat “tidak berarti jamaah seperti disebut”, katanya. “Yang benar, umat itu lebih khusus dari jamaah.” (Rasyid ridha; IV: 36).

Sementara itu, untuk makna ‘kebaikan’, berbeda dengan Razi (di atas) yang merujuk bidang akidah, Ibn Jarir sudah lebih dulu memahaminya secara luas sebagai “Islam dan segala syariatnya.” (Thabari, loc.cit.). Sedangkan Abu Sulaiman Ad-Dimisyqi menyebut “tindak ketaatan kepada Allah”.  Ada juga yang mengartikannya sebagai  “jihad dan Islam”. (Abu Haiyan, III: 20). Sementara Abu Ja’far Al-baqir, daalam riwayat Ibn Mardawaih, mengutip arti kebaikan yang dimaksudkan, konon menurut Nabi s.a.w., sebagai “menuruti alquran dan sunnahku.” (Ibn Katsir: I: 390).

Adapun yang dengan bagus memndngnya dari segi tata kalimat adalah Zamakhsyari. “Kalau engkau bertanya: mengapa disebutkan ‘menyerukan kebaikan’ dan ‘memerintahkan yang makruf’ (padahal dua ungkapan itu searti; pen)? Jawabnya: seruan kepada kebaikan berstatus umum, untuk ‘semua kewajiban yang dibebankan, baik perbuatan maupun tindakan meninggalkan perbuatan’. Sedangkan amar makruf nahi mungkar berkedudukan khusus. Jadi dinyatakan yang umum lebih dulu, lalu dilekatkan yang khusus ke situ, sebagai pemberitahuan mengenai keutamaannya. Seperti firman Allah, Q. 2: 238: ‘Peliharalah segala salat (umum)  dan salat yang tengah-tengah (khusus)’.” (Zamakhsyari,  I: 453).

Sebanding dengan itu, Abduh dan Rasyid Ridha mengartikan ‘kebaikan’ dengan lebih dulu mempertimbangkan “wilayah kerja” yang disodorkan ayat ini – dan melihat adanya dua cakupan: “antarumat” dan “intraumat” (ini bahasa Kementerian Agama0. “Memanggil kepada kebaikan” menunjuk cakupan antarumat, sementara yang mengandung soal makruf dan mungkar untuk yang kedua. Kalau demikian, ‘kebaikan’ di situ tak lain adalah Islam. (Rasyid, IV: 27).      

Bersambung

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Sumber: Majalah Panji Masyarakat,  4 November  1998.      

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • tabloid-panjimasyarakat
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • hamka
  • Hamka
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • 23-april-19972-1024x566