Cakrawala

Akhlak Kepemimpinan

Written by Saeful Bahri

‘Leadership ia capacity to translate vision into reality‘ (Warren Bennis)

Persoalan kepemimpinan memainkan peran yang penting dalam kehidupan. Segala asa dan cita-cita sebuah komunitas dapat terwujud menjadi nyata, jika dipimpin oleh seseorang pemimpin yang berkualitas. Pemimpin yang mampu menerjemahkan segala impian dan keinginan menjadi kenyataan.

Manusia ditakdirkan oleh Sang Pencipta sebagai pemimpin di atas bumi. Mengemban misi kekhalifahan sebagai wakil Tuhan yang bertugas membangun kemakmuran dan kemaslahatan. Dengan berpijak pada nilai-nilai yang Allah titipkan kepada para nabi, maka misinya sebagai khalifah akan terwujud.

Skala kepemimpinan dari yang kecil sampai yang besar, memiliki aturan yang sama. Aturan itu adalah menegakan nilai-nilai universal dalam kepemimpinan. Nilai-nilai perenial yang tak lekang oleh zaman. Nilai-nilai itu antara lain keadilan, kejujuran, dan kebermanfaatan.

Ternyata, pemimpin sukses yang tercatat dalam lembar sejarah, adalah para mistikus yang berpijak pada nilai-nilai universal itu. Sebagaimana yang diungkap oleh Gay Hendricks dan Kate Ludeman dalam bukunya The Coporate Mystic. Keduanya menemukan orang-orang suci, mistikus, sufi di perusahaan besar dan organisasi modern. Hendricks dan Ludeman menyebutkan para pemimpin sukses yang mereka temui adalah para penjaga etika yang menjunjung nilai-nilai spiritual. Para pemimpin mistikus itu menjunjung tinggi kejujuran, menegakan keadilan, menggunakan pikiran, tubuh dan ruh sebagai alat untuk mengambil tindakan dan membuat keputusan. Mereka memimpin dengan hati.

Pemimpin mistikus itu menjadi penyelamat dan pembawa maslahat orang-orang yang mereka pimpin. Dalam bahasa agama, akhlak kepemimpinan menjadi tolak ukur keberhasilan atau kegagalan seorang pemimpin mengemban misinya.

Akhlak kepemimpinan menjadi pegangan penting untuk menilai seorang pemimpin. Apakah kekuasaan yang diemban untuk mewujudkan kemaslahatan banyak orang, atau untuk kepentingan dirinya, keluarganya, atau kelompoknya. Karena itulah 14 abad yang silam, Rasulullah SAW, menyatakan dalam sabdanya; ada tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan di hari yang tidak ada naungan kecuali naungan Allah SWT. Dari tujuh golongan itu yang pertama adalah pemimpin yang adil.

Ketidakadilan akan memunculkan kekacauan dan penyelewengan kekuasaan. Rakyat miskin dan lapar akibat rendahnya akhlak kepemimpinan. Di mana kepemimpinan dikuasai oleh nafsu untuk memperkaya diri, rakus, dan ingkar janji.

Tugas seorang pemimpin memang berat. Karena itulah ajaran Islam melarang seseorang meminta-minta jabatan. Sebab manusia bisa salah dan khilaf. Karena  itulah  amat mudah bagi seorang yang berkuasa untuk melakukan segalanya. Jika tidak berpijak pada akhlak kepemimpinan ia akan terjebak ke dalam nafsu kekuasaan.

Dalam panggung sejarah, kita dapat melihat banyak contoh pemimpin dunia yang disanjung dan dihormati kaumnya. Tak sedikit yang dihujat dan dicampakan oleh kaumnya. Karena tidak berprinsip pada keadilan.

Diakhir tulisan ini, mari kita simak kisah kepemimpinan seorang Umar bin Abdul Aziz, khalifah dinasti Umayah. Kala ia mengarahkan bawahannya untuk membagikan bantuan sosial kepada rakyatnya.

Kisah ini diawali dengan kedatangan pejabat keuangan yang melaporkan bahwa kondisi keuangan negara surplus luar biasa. Ia meminta arahan dari sang khalifah, ke mana uang akan disalurkan.

Umar bin Abdul Aziz memberi perintah.

“Tulisah seruanku ini dan umumkan ke seluruh wilayah kaum muslimin!”

Pertama. Siapapun yang bekerja untuk pemerintah dinasti Umayah dan belum memiliki rumah, buatkan rumah untuk mereka dengan biaya negara.

Kedua. Siapapun yang bekerja untuk pemerintah dinasti Umayah dan belum memiliki kendaraan, belikan untuknya kendaraan (kuda) atas tanggungan negara.

Ketiga. Siapapun di antara kaum muslimin yang memiliki hutang, lunasi hutangnya atas tanggungan negara.

Keempat. Siapapun dari pemuda dan pemudi muslim yang sudah layak untuk menikah, nikahkan mereka dengan biaya dari negara.

Dengan kebijakan-kebijakan itu tidak ada lagi pegawai pemerintah yang tidak punya rumah dan kendaraan, lunaslah semua hutang kaum muslimin dan raut wajah bahagia para pemuda dan pemudi yang melepas masa lajangnya atas biaya negara.

Kisah ini di atas belum berakhir, ada lanjutan yang mengejutkan dari sang khalifah. Sang menteri kembali menghadap Umar bin Abdul Aziz, melaporkan bahwa kas negara masih melimpah, sedangkan ia sudah mengerjakan semua yang khalifah perintahkan.

“Apa yang harus kami lakukan lagi?”

 “Bagikan harta negara yang kita punya kepada fakir, miskin dari golongan Yahudi dan Nasrani!”

Sang menteri melaksanakan perintah khalifah. Namun tidak lama setelah itu ia melaporkan kembali masih ada sisa harta yang di bayt mal.

“Apa yang harus kami lakukan selanjutnya, wahai khalifah?”  tanya menteri.

 “Belikan gandum dan tebarkan di atas gunung, agar tidak ada yang mengatakan bahwa burung-burung yang tinggal di wilayah kau muslimin mati kelaparan!” Sang khalifah memberi perintah.

Bayangkan oleh Anda, makhluk Allah dari golongan hewan pun merasakan kasih sayang sang khalifah. Inilah salah satu akhlak kepemimpinan yang membawa rahmat bagi alam semesta.

Inilah sosok pemimpin yang mementingkan rakyatnya, pemimpin yang memandang jabatan sebagai tanggung jawab yang besar di hadapan Allah. Pemimpin yang menebar kebaikan kepada seluruh makhluk Allah, termasuk kepada sekelompok burung. Sampai hari ini rakyat Turki dan Aljazair mengenang jejak sang khalifah, dengan menebarkan gandum di atas gunung. Agar burung-burung tak ada yang mati kelaparan saat musim dingin datang. Wallahu a’lam

About the author

Saeful Bahri

Alumni dan guru Pondok Pesantren Daar el Qolam, Tangerang, Banten. Pernah belajar di UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten, Universitas Indonesia, dan Universiti Kebangsaan Malaysia. Selain mengajar di almamernya, ia juga menulis beberapa buku di antaranya Lost in Pesantren (2017), 7 Jurus Betah di Pesantren (2019), yang diterbitkan Penerbit Republika Jakarta.

Tinggalkan Komentar Anda