Cakrawala

Menanti Lahirnya Pemimpin Mulia

Written by Arfendi Arif

Pemimpin adalah orang yang ditakdirkan oleh sejarah untuk selalu dibicarakan. Bukan hanya ketika mereka hidup, bahkan ketika sudah tidak ada di dunia pun mereka masih menjadi bahan perbincangan.

Di antara massa atau orang banyak, pemimpin merupakan  sedikit orang yang terpilih untuk tampil di depan. Ia digerakkan oleh cita-cita, harapan dan suatu yang dinilai akan lebih baik dari situasi yang ada.

Orang seperti Sukarno, Hatta, Natsir, Agus Salim dan banyak tokoh bangsa dan pahlawan  lainnya adalah figur besar sepanjang masa. Ia dikenang karena berbuat sesuatu yang  tidak mungkin dilupakan orang. Maka jadilah mereka pemimpin mulia. Memang, pada umumnya di dunia tidak ada seratus persen pemimpin mulia  itu dimuliakan, pasti  ada noktah atau kekhilafan sejarah yang mereka lakukan, namun itu tidak berarti amal kebajikan yang telah mereka perbuat   menjadi sirna semua. Sejarah para tokoh -tokoh besar adalah kombinasi antara perbuatan agung dan kekhilafan yang mungkin terjadi. Dan, sejarah pemimpin di negara kita, mereka ternoda ketika sudah memegang kekuasaan, yang  menyebabkan memudarnya integritas, karakter dan watak positif yang selama ini dimiliki di masa perjuangan kemerdekaan.

Barangkali hal ini sudah menjadi hukum sejarah bahwa pemimpin mulia lahir kebanyakan di masa krisis. Generasi Sukarno-Hatta lahir di masa penjajahan, Orde Baru lahir dengan menumbangkan Orde Lama. Demikian juga Orde Reformasi lahir setelah menjatuhkan Orde Baru. Siapa yang menjadi aktor dan dianggap pemimpin tiap masa krisis ini kita sudah tahu semua.

Namun, ketika zaman sudah normal apakah muncul pemimpin mulia yang baru? Pertanyaan inilah yang sekarang sedang menunggu jawabannya. Soalnya adalah apakah sekarang ada krisis untuk hadirnya pemimpin mulia?

Tiap masa dan generasi pasti ada tantangan. Ini juga merupakan sunnatullah. Bahkan, tantangan sekarang ini terasa amat berat. Sejak adanya wabah pendemi covid 19 Indonesia mengalami keterpurukan ekonomi. Aktifitas ekonomi baik di  kalangan pengusaha bermodal besar, menengah, UMKM dan rakyat kecil hampir terhenti. Namun, disamping tantangan yang bersifat ekonomi, juga tantangan lain juga muncul seperti kesenjangan sosial, disintegrasi masyarakat, konflik yang laten, krisis hukum dan kepercayaan terhadap pemerintah, dan lainnya.

Seperti dipaparkan di atas pemimpin mulia lahir ketika bangsa memiliki tantangan. Namun, tantangan di masa normal ini berbeda dengan tantangan zaman kolonial. Pada zaman kolonial musuh yang dihadapi nyata dan kongkrit yaitu penjajahan. Sebaliknya, yang dihadapi era zaman normal ini adalah bangsa sendiri karena perbedaan kepentingan, perbedaan paham, perbedaan ideologi, persaingan ekonomi, perbedaan ide dan lainnya.

Namun, suatu hal yang terjadi di zaman normal ini adalah bahwa rasa kebersamaan dan nilai-nilai solidaritas mengalami degradasi dan pelunturan yang jauh dibandingkan zaman perjuangan kemerdekaan.

Pada zaman normal ini nilai kehidupan  materialistik, konsumtif dan pola hidup hedonisme begitu kuat pengaruhnya. Ini tentu saja akibat dampak dari pembangunan yang menimbulkan perobahan gaya hidup, dimana semuanya diukur dengan tingkat penghasilan dan kekayaan atau asset.

Dan yang paling cepat mengalami perubahan aset ini tentulah para  pengusaha, karena memang mereka melakukan aktifitas bisnis yang tujuan utamanya adalah mencari kekayaan.

Tetapi, belakangan ini kekayaan yang cepat bertambah juga terjadi  di kalangan pejabat pemerintah, baik politisi, eksekutif dan anggota DPR. Bila kita baca laporan harta kekayaan pejabat kepada KPK  sungguh luar biasa, hampir rata-rata memiliki  harta puluhan miliar, bahkan ratusan miliar dengan aset aset lain seperti tanah, properti, mata uang asing, puluhan kendaraan, properti, rumah, surat berharga dan lainnya. Bahkan, ada sebagian anggota dewan yang tadinya hanya punya motor  setelah jadi anggota dewan bisa memiliki kekayaan miliaran rupiah.

Namun, dari mana kekayaan itu diperoleh, memang ada  yang didapat  secara tidak wajar. Dari kasus yang ada di KPK sudah cukup banyak anggota dewan, menteri, bupati, ketua partai, bahkan penegak hukum yang masuk penjara karena terbukti korupsi.

Karena atmosfer kehidupan sosial, politik dan budaya dimana pengaruh uang dan kekuasaan begitu kuat, pemimpin yang memiliki orientasi kemuliaan dan  kerakyatan tampaknya sulit lahir dalam situasi sekarang. Padahal, ciri pemimpin mulia adalah punya perhatian pada rakyat kecil yang hidupnya menderita. Sekarang ini rakyat lebih banyak dijadikan objek retorika dengan janji janji politik saat kampanye. Setelah itu hubungan pemimpin dengan rakyat tidak lagi terjalin dengan baik. Pemimpin sudah sibuk dengan tugasnya, dan terkadang karena pengaruh money politik dalam pemilu pemimpin berusaha menutupi pengeluaran yang dipakai saat kampanye. Jadi ujung ujungnya kembali orientasi politik.pemimpin pada uang dan kekuasaan. Menjadi pemimpin mulia bukanlah target utama.

Padahal, kemuliaan seorang  pemimpin bisa didapat ketika mampu mengeluarkan rakyat yang sedang kesusahan untuk ditingkatkan kesejahteraannya. Namun, sejauh ini hal itu sulit terjadi. Angka kemiskinan dan pengangguran masih cukup tinggi. Pendapatan masyarakat masih tergolong rendah, dan tidak memadai untuk hidup layak secara fisik maupun non fisik seperti meningkatkan pendidikan  dan kualitas diri.

Harapan lahirnya pemimpin mulia untuk ikut membantu masyarakat yang tidak sejahtera rasanya sulit.  Sebagai contoh sederhana saja, kita tidak pernah mendengar ada wakil rakyat, menteri, gubernur, bupati, walikota,dirjen dan lainnya yang berinisiatif memberikan sebagian dari gajinya di saat krisis baik ketika ada wabah Covid 19 ini atau ketika ada bencana alam. Padahal, seperti terungkap di berbagai pemberitaan media gaji dan tunjangan setingkat dirjen, gubernur  BI, komisaris dan lainnya, luar biasa besarnya.  Padahal, di luar negeri lazim saja pejabat negara meminta gajinya dipotong membantu masyarakat yang sedang ditimpa musibah

Ini menandakan bahwa iklim dan budaya kepemimpinan sekarang tidak kondusif melahirkan pemimpin mulia dan pemimpin yang berjiwa negarawan. Jadi, kalau nanti banyak pemimpin sekarang ini mudah dilupakan, karena memang begitulah arus dan kehendak zaman yang sedang terjadi. Apa yang ditanam, itulah yang dipetik

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • tabloid-panjimasyarakat
  • Hamka
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • 23-april-19972-1024x566
  • hamka