Adab Rasul

Kekuatan Persaudaraan Dalam Islam

Written by B.Wiwoho

Kisah-kisah kehidupan junjungan Nabi Besar Muhammad saw, terutama dalam kesederhanaan seperti makan-minum-tempat tidur dan berpakaian, kesabaran, sangat peduli kepada sesama, tidak membalas dendam dan tidak memiliki rasa takut kecuali kepada Allah dan lain-lain,  mengajarkan kepada kita suatu kekuatan dalam menghadapi kehidupan.

Muhammad Husain Haekal dalam bukunya yang tersohor, Hayat Muhammad, menulis Nabi Muhammad memberikan teladan yang begitu tinggi kepada manusia tentang arti kekuatan dalam menghadapi hidup, suatu kekuatan yang tak dapat dipengaruhi oleh perasaan lemah, tak dapat diperbudak oleh kekayaan, oleh harta benda, oleh kekuasaan atau oleh apa saja yang menguasainya, selain Allah.

Kekuatan yang manifestasinya  telah diberikan oleh Rasulullah sebagai teladan  tertinggi itu, telah mendasari rasa persaudaraan di dalam Islam, persaudaraan sesama muslim yaitu persaudaraan yang murni, ikhlas dan mulia, yang bersih sama sekali dari pamrih pribadi.

Rasa persaudaraan dan hubungan itu selain dicontohkan juga ditegaskan dalam beberapa hadis, antara lain riwayat Bukhari dan Muslim,  sebagaimana diceritakan oleh Abu Musa, Rasulullah bersabda, “Seorang mukmin bagi mukmin lainnya bagaikan sebuah gedung yang sebagiannya menguatkan sebagian yang lain,” (Beliau bersabda sambil menyilangkan jari-jari tangannya).

Oleh sebab itu pula dalam kesempatan lain beliau berwasiat, “Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya, dan seorang muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.”  (HR. Bukhari).

Hadis yang dikisahkan oleh sejumlah sahabat ini mengingatkan agar setiap muslim menjaga lisan dan tangan, menjaga mulut dan perbuatannya terhadap keselamatan muslim atau kaum muslimin yang lain; seorang muslim harus menjaga hubungan baik dengan muslim yang lain.

Kekuatan persaudaraan yang seperti itulah yang membuat takjub tokoh dunia Mahatma Gandhi yang digambarkan sebagai berikut: “Saya takjub, manusia  seperti apakah yang hingga hari ini menawan hati jutaan manusia. Saya semakin yakin bahwa bukanlah pedang yang membuat Islam berjaya. Kesederhanaan yang teguh, nabi yang sama sekali tidak menonjolkan diri, kesetiaan yang luar biasa kepada janji, kasih sayang yang amat besar kepada para sahabat dan pengikutnya, keberanian yang tak mengenal rasa takut, serta  keyakinan yang mutlak kepada Tuhan dan misinya; inilah, dan bukan pedang, yang mengantarkan segala sesuatu di hadapan mereka dan mengatasi setiap masalah. Ketika saya menutup halaman terakhir volume 2 (biografi Muhammad), saya sedih karena tiada lagi cerita yang tersisa dari hidupnya yang agung. (MajalahYoung India , 1928, Volume X).

Kasih sayang antara sesama muslim diungkapkan oleh Rasulullah dalam sebuah hadis yang sangat terkenal yakni, “ Perumpamaan  kaum mukminin di dalam kasih-mengasihi, sayang-menyayangi dan hormat-menghormati laksana  satu badan yang apabila salah satu anggota badan merasa sakit, maka akan menjalar dan dirasakan seluruh tubuh, sehingga tidak bisa tidur dan panas.” (HR.Bukhari dan Muslim).

Sudahkan kita menjadi mukminin yang menghayati hadis tersebut, dan menikmati serta mengamalkan kasih sayang yang seperti itu? Semoga.

Kedua perawi hadis tersebut juga mengisahkan betapa junjungan kita Nabi Muhammad menurut Ibnu Umar,  masih menambahkan lagi peringatannya, “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, tidak boleh menganiaya dan tidak boleh membiarkan orang lain menganiayanya. Siapa yang membantu memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantu memenuhi kebutuhannya. Siapa yang membebaskan kesulitan seorang muslim, di dunia, maka Allah akan membebaskan kesulitannya besok di hari kiamat. Dan siapa yang menutupi (merahasiakan) aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya kelak di hari kiamat.”

Nampaknya masih belum cukup, Abu Hurairah mengisahkan penegasan Nabi, “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, yang tidak boleh mengkhianati, menipu dan membiarkannya. Tiap muslim atas muslim lainnya adalah haram kehormatannya, harta kekayaan dan darahnya. Takwa adalah di sini (sambil menunjuk dada). Adalah berbuat kejahatan bagi seseorang yang menghina saudaranya yang muslim.” (HR.At-Tirmidzi).

Sahabat-sahabatku, itulah adab pergaulan, hubungan persaudaraan di antara sesama muslim yang digariskan junjungan kita Kanjeng Nabi Muhammad. Sudahkan kita menjadi muslim yang menghayati hadis-hadis tersebut, dan menikmati serta mengamalkan kasih sayang yang seperti itu? Semoga.

Marilah kita meneladani dan menjaganya, bukan hanya sekadar hiasan bibir, namun juga dalam amal perbuatan. Dewasa ini banyak saudara-saudara kita yang menderita dalam kehidupannya, baik karena penyakit Corona, pemutusan hubungan kerja, penurunan penghasilan, harga-harga kebutuhan pokok yang melambung dan atau sebab-sebab lain yang mengakibatkan terjadinya penderitaan pada mereka.

Janganlah karena perbedaan mazhab, airan dan perbedaan politik partisan, membuat kita tidak taat kepada Allah dan Rasulullah, bahkan melanggar aturan dan larangan-Nya. Setidaknya, marilah kita hayati kata-kata bijak “Tego larane ora tego patine. Tega sakitnya tapi tak tega kematiannya.”

Allaahumma sholli alaa muhammadin nabiyyil ummiyyi wa alaa aalihi wasallim.

About the author

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda