Tasawuf

Stasiun Ke-3 Penempuh Jalan Tasawuf: Sabar

Written by A.Suryana Sudrajat

Sesungguhnya sabar itu ketika (kita) menghadapi cobaan pertama (H.R. Bukhari, Tirmidzi, dan Nasa’i)

Setelah melewati maqam hidup serba sederhana alias zuhud atau asketis, stasiun berikutnya yang harus dicapai penempuh jalan tasawuf adalah sabar (shabr). Menurut Imam Ghazali sabar adalah proses untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang penuh dengan nafsu syahwat, yang dihasilkan oleh suatu keadaan.      

Terdapat  dua macam sabar. Yakni  sabar terhadap apa yang diupayakan, dan sabar terhadap apa yang tanpa diupayakan. Sabar terhadap apa yang diupayakan  juga dibagi dua: sabar menjalani perintah Allah dan sabar dalam menjauhi larangan-larangannya. Kita memang harus berupaya untuk menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah. Dan kedua hal itu bukan perkara yang mudah, dan karena itu pula harus bersabar dalam melaksanakannya.  

Adapun sabar terhadap hal-hal yang tidak diupayakan, yaitu kesabaran dalam menjalani ketentuan Allah yang menimbulkan kesukaran bagi kita. Misalnya saat menghadapi musibah seperti kematian, penyakit, kehilangan harta benda, dan seterusnya.

Salah seorang sahabat Nabi yang masyhur dengan kesabarannya adalah Abu Bakr r.a., satu di antara tujuh orang pertama yang masuk Islam. Hafidz Abul Hasan Trubulusy meriwayatkan dari Aisyah r.a. katanya: “Ketika jumlah kaum muslimin di Mekah sebanyak 38 orang, Abu Bakr mendorong Nabi utuk berdakwah secara terang-terangan.

Kata Raslullah, “Abu Bakr, jumlah kita kan masih kecil.”

Setelah Abu Bakr sering mendorong Nabi maka beliau akhirnya menyuruh kaum muslimin secara terang-terangan  menerangkan kaumnya di tengah keluarganya masing-masing.

Pada suatu hari ketika Nabi duduk di sekitar Masjidil Haram Abu Bakr berdiri dan berdakwah. Beliau adalah orang pertama yang berdakwah dalam Islam sehingga orang Quraisy bangkit dan menghajarnya di salah satu pojok masjid. Waktu itu Utbah ibn Rabi’ah menghajar Abu Bakr dengan kedua terompahnya dan menginjak perutnya sampai luka parah.

Orang Banu Taim, puaknya Abu Bakr, datang ke masjid dan menolong Abu Bakr sehingga orang-orang Quraisy minggir. Ia ditutupi kain dan dibawa pulang ke rumahnya. Mereka mengira ia pasti mati.

Ini kisah yang lain tentang bab sabar. Syahdan, Imam Ahmad ibn Hanbal bersama beberapa kawannya singgah di rumah Hamdan ibn Sinan Al-Wasithi. Kata Hamdan, mereka tampak menderita lantaran kehabisan bekal di perjalanan. Hamdan kemudian memberi bantuan, dan hanya Imam Ahmad yang menolak. Imam lebih suka menjual jubah bulunya.

“Katakan kepada siapa saja yang suka menjualkan ini. Sampaikan  berapa harganya kepadaku, nanti aku beri persen,” kata Ahmad kepada Hamdan.

Hamdan lalu mengambil sekantung dirham, memberikannya kepada Imam. Ditolak.  Imam berkeras menjual bajunya.

“Itu orang salih. Ia tidak suka menerima pemberian yang sedikit,” istri Hamdan berbisik kepada sang suami. .

Si  istri menambahkannya hingga jumlahnya menjadi dua kali lipat. “Tetapi ditolaknya juga,” kata   Hamdan.. “Kemudiam beliau mengambil bajunya dariku dan ngeloyor.”

Sering orang bertanya mengenai sikapnya yang “aneh” itu, dan Imam selalu menjawab: “Wahai jiwa, tegaklah kamu. Jika tidak, kamu akan susah selamanya.”

Ahmad ibn Hanbal memang lebih suka menjual atau menggadaikan harta miliknya, bekerja apa saja, termasuk kuli kasar, ketimbang menerima bantuan dari orang. Jangan heran, meski bisa, imam yang satu ini jauh dari makmur. Kuncinya satu, yaitu  sabar meski untuk itu dia harus menderita.

Al-Junaid menegaskan, “Perjalanan dari dunia ke akhirat adalah mudah bagi orang yang beriman, tetapi hijrahnya di sisi Allah adalah sulit. Dan perjalanan dari diri sendiri menuju Allah adalah sangat sulit, tetapi yang lebih sulit adalah bersabar bersama Allah SWT.” Ketika ditanya tentang sabar, Al-Junaid menjawab: Sabar adalah meneguk kepahitan tanpa wajah cemberut.”

Ali ibn Abi Thalib r.a. mengatakan, “Hubungan antara sabar dan iman seperti hubungan antara kepala dan badan.”

Dzun Nun Al-Mishri berkata, “Sabar adalah menjauhi pelanggaran dan tetap bersikap rela sementara kita  merasakan sakitnya penderitaan, dan sabar juga menampakkan kejayaannya ketika kita ditimpa kemiskinan di lapangan kehidupan.”

“Abu Utsman berkomentar: “Orang yang paling sabar adalah yang terbiasa dalam kesengsaraan yang menimpa dirinya. Ada juga yang mengatakan, sabar adalah menjalani cobaan dengan sikap yang sama seperti menghadapi kenikmatan.”

Abu Abdullah ibn Khafif menyebut tiga macam sabar. Yakni sabar orang yang berjuang untuk sabar (mutashabbir), sabar orang yang sabar (shaabir) dan sabarnya orang-orang yang sangat sabat (shabbaar).

Abu Muhammad Al-Jurairi menjelaskan, “Sabar tidaklah membedakan keadaan bahagia atau menderita, disertai ketenteraman pikiran dalam keduanya. Bersikap sabar adalah mengalami kedamaian ketika menerima cobaan, meskipun dengan adanya kesadaran akan beban penderitaan.”

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda