Hamka

Pesan Buya Kepada Politikus

Written by Panji Masyarakat

Politik tidaklah tercela, yaitu memperlihatkan diri seakan-akan gentar menghadapi lawan, sehingga lawan itu memandang enteng kepadanya, dan bila lawan terpedaya lalu diserang dengan seluruh kekuatan. Ilmu politik itu mengatur bagaimana mengatur supaya masyarakat bersama dan kepentingan bersama jangan beradu dan bertumbuk dan bagaimana pimpinannya.

Kemerdekaan politik dengan sendirirnya membawa kemerdekaan berpikir dan kemerdekaan menyatakan pikiran. Kemerdekaan bangsa menimbulkan kegembiraan hidup dalam segala lapangan. Jaminan negara atas hidup warganya dan usaha mempertinggi ukurannya, menyebabkan timbulkan filosof-filosof Indonesia. Di samping orang yang memikirkan yang di hadapan mata, dia juga memikirkan yang seribu tahun lagi. Jika pendapat itu “ganjil” didengar oleh orang awam, dia tidak akan gentar menjelaskannya, karena keamanan dirinya terjamin.

Pendidikan politik perlu diberikan melalui iman. Iman itu dengan sendirinya memberikan juga pendidikan politik. Apabila orang telah terlatih membentuk masyarakat kecil di sekeliling langgar atau suraunya dan mesjidnya, niscaya ujungnya ialah kesanggupan mengatur masyarakatnya yang lebih luas. Sedang suatu saf yang dibina dengan “kerahan tenaga”. Imannya ialah rasa takut kepada manusia. Yang pertama menimbulkan cinta, sedang yang kedua menimbulkan dendam.

Peringatan kepada politikus, supaya kembali kepada pangkalan semula. Kita ini adalah manusia belaka. Manusia duduk sama rendah, tegak sama tinggi. Tidak perlu memperebutkan rezeki, membuncitkan perut suatu bangsa dengan merugikan bangsa yang lain, karena kalau pandai membaginya, persediaan makanan buat hidup masih cukup tersedia dalam perut bumi. Teori Darwin yang mengatakan bahwa beratus-ratus ribu tahun yang telah lalu berjenis-jenis binatang penghuni dunia telah musnah karena perebutan hidup, peraduan tenaga, sehingga yang lemah jatuh tersungkur dan yang kuat berhak terus hidup, tidaklah perlu diteruskan oleh umat manusia.

Politik penjajahan “kuno” bangsa Romawi dipakai pula, yaitu “pecahkan dan kuasai”. Akibat politik ini tidak sedikit membekas ke jiwa bangsa Indonesia. Mereka menjadi pendiam dan merasa rendah diri. Sikap rendah diri itu tergambar dalam nyanyian dan pantun orang tua. Lagu-lagu Gending Sunda, Kinanti Jawa, Sikambang di pesisir Sumatera Barat, Sinandung di pesisir Sumatera Timur adalah nyanyian sedih belaka. Sampai terkenal di seluruh dunia: bangsa Indonesia adalah bangsa yang sesabar-sabarnya di dunia.

Setiap orang diberikan kebebasan mendirikan partai politik, sehingga tiap-tiap orang yang bercita-cita merasa patut memasuki salah satu partai politik atau mendirikannya.  Setelah ditimbanginya, lalu dipertahankannya asas partai itu. Tetapi dalam praktik, banyak partai kerap kali menimbulkan banyak persengketaan. Kadang-kadang penumpahan darah. Orang perbuat bermacam-macam perbuatan kejam atas nama partai. Partai harus mempunyai disiplin. Tetapi jika dibagi setengah manusia partai itu mengurangi hak dan kemerdekaannya, bagi setengahnya lagi, yang pikirannya lebih luas, merasa dengan berpartai dia lebih merdeka menyatakan pendapatnya.

Sumber: Ensiklopedia Buya Hamka (2019)

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda