Bintang Zaman

Abu Hurairah (1): Akrab dengan Kelaparan

Tokoh kita ini biasa berpuasa sunah tiga hari awal bulan Qamariah (bulan Arab dalam penanggalan Hijri), mengisi malam harinya dengan membaca Alquran dan salat tahajud. Akrab dengan kemiskinan, dia sering mengikatkan batu ke perutnya, guna menahan lapar. Dalam sejarah ia dikenal paling banyak meriwayatkan hadis. Dialah Bapak Kucing Kecil (Abu Hurairah), begitu orang mengenalnya.

“Aku sudah dengar pergunjingan kalian. Kata kalian, Abu Hurairah terlalu banyak meriwayatkan hadis Nabi. Padahal, para sahabat Muhajirin dan Anshar sendiri tak ada yang meriwayatkan hadis Nabi sebanyak yang dituturkan Abu Hurairah. Ketahuilah, saudara-saudaraku dari kaum Muhajirin disibukkan dengan perniagaan mereka di pasar. Sementara saudara-saudaraku dari Anshar disibukkan dengan kegiatan pertanian mereka. Dan aku seorang papa, termasuk golongan kaum miskin shuffah (yang tinggal di selasar masjid). Aku tinggal dekat Nabi untuk mengisi perutku. Aku hadir (disamping  Nabi) ketika mereka tidak ada, dan aku selalu mengingat-ingat ketika mereka melupakan.”

Itulah ungkapan Abu Hurairah  dalam menanggapi orang-orang yang tidak suka padanya lantaran sering mengutip kata-kata Nabi. Dialah  sahabat yang sangat dekat dengan Nabi. Ia dikenal dengan salah satu ahli shuffah,yaitu orang-orang papa yang tinggal di selasar atau  pondokan masjid, yang juga juga diperuntukkan buat para musafir  yang kemalaman). Begitu dekatnya dengan Nabi, sehingga beliau selalu memanggil Abu Hurairah untuk mengumpulkan ahli shuffah, jika ada makanan yang hendak dibagikan.

Karena kedekatannya itu, Nabi pernah mempercayainya menjaga gudang penyimpan hasil zakat. Suatu malam seorang mengendap-endap hendak mencuri, tertanagkap basah oleh Abu Hurairah. Orang itu sudah hendak dibawa ke Rasulullah. “Ampun Tuan, kasihani saya.” Pencuri itu memelas. “Saya mencuri ini untuk menghidupi keluarga saya yang kelaparan.”

Abu Hurairah tersentuh  hatinya, maka dilepasnya pencuri itu. “Baik, tapi jangan ulangi perbuatanmu ini.”

Esoknya hal ini dilaporkan kepada Nabi. Nabi tersenyum. “Lihat  saja, nanti malam pasti ia kembali.”

Benar pula, malam harinya pencuri itu datang lagi. “Nah, sekarang kamu tidak akan kulepas lagii. ”Sekali lagi orang itu memelas, hingga Abu Hurairah tersentuh hatinya. Tapi, ketika hal itu dilaporkan kepada Nabi, kembali beliau mengatakan hal yang sama. “Lihat saja orang itu akan kembali nanti malam.”

Ternyata pencuri sialan itu benar-benar kembali. “Apa pun yang kamu katakan, jangan harap kamu bisa bebas. Sudah dua kali kulepas, kamu tak kapok-kapok juga.”

Eh, pencuri itu malah menggurui. “Abu Hurairah, sebelum kamu tidur, bacalah ayat kursi agar setan tidak menyatroni kamu.”

Merasa mendapat pelajaran berharga, Abu Hurairah terharu. Ah, ternyata orang baik-baik, pikirnya`

“Apa yyang dikatakan orang itu memang benar,” sabda Nabi ketika dilapori pagi harinya. “Tapi orang itu bukan orang baik-baik. Dia adalah setan. Dia dikatakan itu supaya dia kamu bebaskan.”

Abu Hurairah memang  salah seorang tokoh kaum fakir mskin. Ia sering lapar ketimang kenyang. Ia sosok yang teguh berpegang pada sunah Nabi. Ia kerap menasihati orang agar janga larut dalam kehidupan duna dan hawa nafsu. Ia tak membedakan antara kaum kaya dan kaum mskin, petinggi negeri atau rakyat jelata dalam menyampaikan kebenaran. Ia pun selalu bersyukur kepada Allah, dalam keadaan susah dan senang.

Bersambung

Ditulis bersama Iqbal Setyarso,  mantan wartawan Panji Masyarakat yang kini aktif di lembaga kemanusiaan ACT (Aksi Cepat Tanggap), Jakarta. Sumber: Panji Masyarakat, 29 Desember 1999   

About the author

Hamid Ahmad

Redaktur Panji Masyarakat (1997-2001). Sebelumnya wartawan Harian Pelita dan Harian Republika. Kini penulis lepas dan tinggal di Pasuruan, Jawa Timur.

Tinggalkan Komentar Anda