Tafsir

Tafsir Tematik: Misi yang Mulia dan Sederhana (6)

Written by Panji Masyarakat

Akan datang kepada orang-orang suatu zaman ketika bangkai keledai di tengah mereka lebih mereka sukai daripada seorang mukmin yang menyuruh mereka berbuat yang makruf dan mencegah mereka dari yang mungkar.

Hendaklah ada dari  kalian suatu umat yang menyerukan kebaikan dan memerintahkan yang makruf serta mencegah dari yang mungkar. Merekalah orang-orang beruntung. (Q. 3: 104).

Dengan Tangan, Lidah, atau Hati

“Barangsiapa mmerintahkan yang makruf dan mencegah dari yang mungkar,” demikian hadis Nabi, “ia khalifah Allah di bumi-Nya, khalifah Rasul-Nya dan khalifah kitab-Nya.”

Kata Saidina Ali: “Jihad paling utama adalah amar makruf  nahi mungkar.” Katanya pula, “Barangsiapa tidak mengakui yang makruf di hatinya , dan tidak mengingkari yang mungkar, ia dijungkirbalikkan: dijadikan bagian atasnya  di bawah.” Kata Abu Bakr r.a.: “Saudara-saudara hendaklah kalian memerintahkan yang makruf dan mencegah dari yang mungkar – kalau akan hidup baik.” (Razi, VIII: 183-184).

Sabda Nabi s.a.w., menurut Hudzaifah ibnul Yaman r.a.: “Demi Dia yang diriku dalam Tangan-Nya, kamu akan memerintahkan yang makruf dan mencegah dari yang mungkar atau Allah akan mengirimkan hukuman dari pihak-Nya, lalu kamu akan memohon-mohon, tetapi tidak dikabulkan.” (Ahmad, Turmudzi, Ibn Majah).

Hadis terakhir itu punya beberapa versi. Dalam riwayat Ibn Abi Syaibah, Ahmad, Abd ibn Humaid, Turmudzi, Abu Ya’la, Ibn Hibban, Daruquthni, dan Baihaqi, dari sumber Qais ibn Hazim ra.a., Abu Bakr dituturkan berdiri berkhutbah. Setelah mengucapkan puja-pujian kepada Allah, ia berkata: “Saudara-saudara. Kamu semua membaca ayat ini:  ‘Wahai orang-orang beriman, jagalah diri kamu. Tidak akan membahayakan kamu orang yang sesat asalkan kamu mengambil petunjuk’ (Q. 5: 105). Tetapi kamu meletakkan ayat ini tidak di tempatnya (menganggap bahwa, mentang-mentang sudah ada jimanan petunjuk, amar makruf nahi mungkar tak lagi penting; pen). Padahal aku mendengar Rasul Allah s.a.w. bersabda, ‘Kalau orang-orang melihat kemungkaran, tapi tidak mengubahnya, dikhawatrkan Allah akan meratakan hukuman kepada mereka’.”

Dalam riwayat Ibn Mardawaih, dari sumber Ibn Abbas, Abu Bakr itu duduk di mimbar Rasulullah s.a.w. di hari ia diangkat sebagai khalifah Rasulillah”. Lalu, tutur saudara misan Nabi ini, ia melafalkan puja-pujian dan selawat kepada Nabi s.a.w. Lalu meletakkan tangannya di tempat duduk yang dahulu diduduki oleh Nabi di mimbar beliau itu, kemudian berkata: ‘Aku mendengar Kekasih (Nabi s.a.w.), duduk di tempat dudukku ini, menerangkan ayat ini (membaca Q. 5: 105; pen), menafsirkannya. Tafsir beliau itu untuk kita. Beliau berkata, “Ya. Tidak ada satu kaum yang di tengah mereka diperbuat kemungkaran dan dilakukan kerusakan dengan perbuatan buruk, lalu tidak mengubahnya dan tidak menyatakan pengingkarannya, yang tidak mendatangkan hak bagi Allah untuk meratakan hukuman kepada mereka semua – kemudian mereka tidak dikabulkan”.’ Lalu ia memasukkan kedua jarinya ke dua telinganya, dan berkata: ‘Kalau aku tidak pernah mendengr itu dari Kekasih, tulilah telinga ini’.”

Tetapi cobaan memang dijanjikan bisa menimpa mereka yang mengabdikan dirinya dalam tugas amar makruf nahi mungkar. Dari Hudzaifah r.a.” Akan datang kepada orang-orang suatu zaman ketika bangkai keledai di tengah mereka lebih mereka sukai daripada seorang mukmin yang menyuruh mereka berbuat yang makruf dan mencegah mereka dari yang mungkar.” (Zamakhsyari, I: 452).              

Adapun hadis Nabi yang paling dikenal di dalam masalah ini adalah dari sumber Abu Hurairah r.a., dalam riwayat Muslim. Kata beliau, “Siapa saja dari kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tanganya. Kalau tak mampu, dengan lidahnya. Kalau juga tak mampu, maka dengan hatinya – dan itulah selemah-lemah iman.”


Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 28 Oktober  1998.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda