Pengalaman Religius

Dewi Hughes (1): Pernah Berislam Tanpa Sengaja

Written by Asih Arimurti

Pejalanan batinnya boleh jadi yang paling panjang di antara para selebritis. Lahir dari keluarga Hindu Bali, namun hidup dalam komunitas Islam yang kental, sementara lingkungan pendidikan formalnya dihabiskan di sekolah-sekolah Kristen. Dewi Hughes, perempuan yang dulu berpenampilan maksi yang populer sebagai presenter berbagai program televisi, akhirnya toh menemukan agamanya secara substansial dan formal.

Kalau berbicara tentang perjalanan batin, saya merasa paling beragam dalam menjalani hidup ini. Sebenarnya,  dari dulu saat masih kecil saya selalu punya pikiran begini, “Ih, hebatnya Siti Maryam.” “Hebatnya Ibrahim.” Hebatnya Nabi Muhammad.” “Hebatnya Ismail.” Mereka itu umat-umat pilihan Tuhan. Kok bisa sih dipilih Tuhan? Sehingga saya suka berkecil hati. “Ah, kita ini kan manusia biasa. Apa sih kita ini. Mana mungkin kita mendapatkan kemuliaan-kemuliaan seperti mereka.”

Tidak pernah terlintas kalau kita sebenarnya juga sama diperlakukan oleh Tuhan. Tapi, kadang  juga saya berfikir begini, “Ya Allah, mungkin tidak kita menjadi umat pilihan? Kayaknya enak ya menjadi umat pilihan-Nya. Disayang, dimuliakan. Diberi petunjuk-petunjuk. Dan sepertinya tidak semua makhluk diberi seperti itu.” Tapi akhirnya, pikiran-pikiran itu hilang seiring berjalannya waktu.

Islam Tanpa Syahadat

Anehnya sekarang ini kadang saya berpikir kembali dan merenungi, bukankah aku juga umat pilihan?. Apalagi kalau mengingat kepindahan keluarga kami dari Bali-karena Ayah memilih membuka usaha saja di Pulau Jawa. Tapi, mengapa kok Ayah pilih di daerah Banten, persisnya di kota Serang, yang amat kental basisnya Islam? Padahal, kan pulau Jawa itu luas, dari Jawa Timur hingga Jawa Barat.

Ya, itulah, kalau memang tenyata Tuhan sudah mempunyai rencana yang kita tidak tahu sama sekali. Nah, mungkin disanalah Allah memberi hidayah kepada Mama. Mama bilang, “Anak-anak, gimana nih, disini nggak ada Pura. Jadi, kita tidak bisa sembahyang. Gereja pun cuma ada satu. Ya sudah, terserah deh kalian mau pilih agama apa, yang penting bisa sembahyang.” Begitu kata Mama waktu itu. Nah, karena saya bersekolah di negeri, di SDN 03 Serang yang pelajaran agamanya wajib agama Islam, ya sudah, mau tidak mau saya ikutin. Padahal, TK saya itu TK Katolik-pindah ke Serang sewaktu mau masuk SD.

Pelan-pelan saya ikut sembahyang, ikut ngaji, yang saat itu saya belum benar-benar mengerti tentang Islam. Saya cuma bilang, “Ya sudah deh, Hughes masuk Islam,” begitu saja. Apalagi mama konsisten dengan anak-anaknya lakukan. Mama memanggilkan guru ngaji ke rumah namanya Teh Dedeh. Ia yang ngajarin saya ngaji, alif ba ta. Mengajarkan hapalan-hapalan surat pendek untuk salat, seperti al-Fatihah, al-Ikhlas, dan surat pendek lainnya.

Lucunya, meski perkembangan pelajaran agama saya sudah sebegitu jauhnya, saya masih belum punya perlengkapan untuk salat. Mukena dan sajadah saya tidak pnya. Mungkin juga mereka (keluarga, red) tidak tahu, jadi tidak membelikannya. Anehnya, saya juga tidak minta dibelikan, karena saya juga tidak bepikir kalau mukena itu ada di pasaran dan dijual bebas. Saya malah merobek gorden jendela rumah – yang memang kebetulan berwarna putih – untuk digunakan sebagai pengganti mukena. Saya libet-libetkan ke kepala, seperti memakai jilbab. Melihat seperti itu, Mama bertanya, “Kamu apa-apaan seperti itu?” Saya bilang, “Ma, ini namanya mukena. Teman-teman di sekolah semua memakainya kalau mau sembahyang.” Jawab Mama, “Ya, sudah, besok kita beli di pasar.”   

Bersambung

Ditulis bersama Akmal Stanzah (almarhum). Sumber: Panjimas, 16-29 Oktober  2002

About the author

Asih Arimurti

Wartawan Majalah Panji Masyarakat

Tinggalkan Komentar Anda