Muzakarah

Mengubah Penampilan dengan Ayat

Written by Panji Masyarakat

Ada dukun di Ibu Kota Jakarta yang mampu mengubah penampilan. Khususnya pada wajah. Misalnya,  menjadikan hidung lebih mancung. Tidak melalui operasi plastik sebagaimana galibnya. Alatnya pun sangat sederhana. Yakni penjepit dan alat-alat semacam. Plus ayat-ayat Alquran seta doa-doa berbahasa Arab. Ternyata praktik ini laku keras. Tiap hari banyak yang antre. Tarifnya pun boleh dibilang mahal, sampai jutaan rupiah. Bagaimana pandangan menurut hukum Islam? Bolehkah ayat-ayat suci digunakan untuk maksud seperti itu? 

Sucahyo (Bekasi, Jawa Barat)  

Jawaban KH Ali Musthofa Ya’qub

Pertama-tama saya ingin mengingatkan, janganlah kita terkecoh bahwa kalau orang menggunakan ayat Alquran itu pasti boleh. Tak sedikit malah orang menggunakan ayat untuk mengelabui.

Nabi Adam pun terkecoh oleh iblis hingga mau makan buah Khuldi yang dilarang Allah, karena iblis menyebut nama Allah. “Demi Allah,” katanya. Saya sendiri pernah mengalami hal semacam itu. Suatu kali datang seorang pemuda ke rumah saya, menawarkan minyak wangi. Sementara saya melihat-lihat barang yang dia tawarkan, dia menyandungkan Salawat Badar, sedikit bergumam. Mungkin dia tahu saya seorang santri. Sayapun langsung percaya, dia ini pasti santri juga. Masa seorang santri mau menipu, pikir saya. Tak tahunya ia benar-benar mengecoh saya mentah-mentah.

Bukan berarti saya mengatkan dukun itu pasti menipu. Sebab, saya tidak tahu persis kan, apakah dia mengecoh atau tidak.

Mari kita lihat masalahnya. Menilik cerita Anda, praktek dukun itu telah mengubah ciptaan Allah. Pada prinsipnya perbuatan seperti ini dilarang. Tapi kalau ada sesuatu yang bersifat daruat, ada kebutuhan yang mendesak untuk menghilagkan mudarat (bahaya), maka itu dibolehkan. Misalnya, operasi bibir sumbing karena yang bersangkutan bicaranya tidak fasih. Contoh lain: operasi kembar siam atau menormalkan bagian tertentu dari mata yang menonjol, karena hal-hal itu menimbulkan mudarat. Dalam ilmu usul fiqih ada kaidah: “Kondisi darurat bisa menghalalkan suatu larangan”(Adh-dharuuratu tubiihul mahzuuraa) dan “Bahaya itu (seharusnya) dihilangkan” (Adh-dhararu yuzaalu).

Sedangkan kalau mengubah ciptaan Allah karena sematamata penampilan lebih bagus, lebih cantik, itukan menuruti hawa nafsu. Itu termasuk kategori iblis, orang itu telah masuk dalam perangkapnya. Sebab, ketika dikutuk Allah gara-gara tidak mau bersujud kepada Adam, iblis bersumpah, “… dan sungguh aku sesatkan mereka (hamba-hambaMu), sungguh akan aku bangkitkan angan-angan kosong pada mereka, sungguh aku suruh mereka (memotong telinga-telinga ternak), lalu mereka benar memotongnya, sungguh akan aku perintahkan mereka (mengubah ciptaanMu), lantas mereka benar-benar mengubah ciptaan Allah. Barangsiapa menjadikan setan sebagai pelindungnya, selain Allah, maka sungguh ia menderita kerugian yang nyata” (QS 4:119)

Mengenai hukum penggunaan ayat untuk maksud seperti itu, sekali lagi tergantung pada niatnya, tergantung masuk kategori apa perbuatan ayat tersebut. kalau ayat dipakai untuk kategori yang tidak dibolehkan, ya tidak boleh. Kalau sebaliknya ya tak masalah.

Namun masalahnya, saya sendiri tidak pernah mendengar ada ayat Alquran yang khusus untuk mengubah penampilan, mengubah bagian-bagian tertentu dari tubuh manusia. Yang ada adalah: Allah mungkin saja mengubah penampilan seseorang, menjadi lebih cantik misalnya, setelah ia membaca Alquran berulang-ulang, terutama ayat-ayat yang berkaitan dengan doa.

*Prof. Dr. KH Ali Musthofa Ya’qub (1952-2016), pendiri  Ma’had ‘Aly Pondok Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus Sunnah, Jakarta. Guru besar Ilmu Hadis Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) ini pernah menjadi Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, dan anggota Komisi Fatwa MUI Pusat.  Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 1  September  1999

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • tabloid-panjimasyarakat
  • Hamka
  • hamka
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • 23-april-19972-1024x566