Cakrawala

Masihkah Ada Dialog dan Debat yang Mencerahkan?

Written by Arfendi Arif

Ada suatu hal yang agak membingungkan setiap kali membaca berita di media. Mengapa begitu sering terjadi perang kata di antara para elit kita. Terkadang perang kata itu tidak lagi substansial, tetapi cenderung kasar dan menyerang pribadi.

Beberapa waktu lalu misalnya ada seorang pejabat menyebut seorang rektor otaknya sampah. Dan rektor membalas pejabat tersebut dengan menyebut penjilat kekuasaan. Pada kesempatan lain seorang pengamat menyindir seorang yang menyebut dirinya guru besar. “Mudahan saja otakmu  juga besar”, timpalnya.

Dalam kesempatan lain kita juga membaca pernyataan bersifat kritik berujung somasi atau bahkan dilaporkan ke polisi. Biasalah, bahwa kritik menggunakan bahasa yang keras ,terbuka dan apa adanya.

Kalau kita ikuti acara Indonesia Lawyer Club (ILC) TV One, saling tuding dengan bahasa nada tinggi dan saling cecar di antara nara sumber, bukan hal yang aneh lagi, terkadang kita lihat Karni Ilyas kerepotan mengatasinya.

Dialog yang cukup tajam dan saling serang ini secara vulgar cukup sering terjadi di medsos Twitter.

Debat di antara elit ini bila diperhatikan, di satu pihak bisa merupakan pembela kebijakan pemerintah–orangnya bisa kalangan pemerintah, simpatisan, dan partai pendukung. Sedang yang mengkritik bisa saja intelektual bebas, politisi partai di luar pemerintahan maupun LSM.

Kebanyakan debat atau topik perbincangan umumnya terkait dengan kebijakan pemerintah atau peristiwa yang sedang hangat dan jadi sorotan masyarakat. Dan suatu debat yang sehat  harus diapresiasi secara positif.

Akan tetapi perlu diingat bahwa suatu perdebatan dan pertukar pikiran, tujuannya adalah untuk mencari kebenaran. Kalau itu menyangkut kebijakan pemerintah fungsinya mencari solusi kebijakan yang tepat, yang adil, maupun membenahi agar kehidupan lebih baik dan meningkat kesejahteraannya.

Tapi, dalam situasi sekarang apakah bisa muncul suatu debat atau dialog mencari kebenaran yang sesungguhnya, atau suatu solusi yang tepat dan menemukan jalan keluar yang tepat?

Pertanyaan lain lagi adalah apakah debat atau talk show sejauh  ini pesertanya benar benar berbicara menggunakan hati nurani, tulus, tanpa ada beban dan motif di belakangnya?

Saya perhatikan beberapa debat, dialog, pernyataan, wawancara dan semacamnya,terutama mereka dari latarbelakang institusi dan pejabat ada beban, bahwa mereka punya missi membela kebijakan institusinya. Atau kalau mereka dari latarbelakang pendukung , simpatisan, kelompok atau  golongan mereka, sudah tidak lagi berfikir bebas. Mereka akan.membela kelompoknya. Jadi mereka tidak lagi punya otonomitas. Dalam konteks seperti ini  kita merasakan debat tersebut bukan lagi menemukan  kebenaran atau solusi yang tepat, melainkan ajang show dan pertunjukan, bahwa kami ini yang benar, kebijakan kamilah yang tepat, lembaga kami inilah yang profesional.Jadi debat debat seperti ini hanya mempertunjukkan aksi untuk membela lembaga dan institusinya, bukan upaya mencari kebenaran dan mencari solusi pemecahan yang tepat.

Dalam sebuah dialog atau upaya pertukarpikiran mencari kebenaran, peserta dialog seharusnya mensterilkan diri dari pikiran jabatannya, pangkat,  dan kedudukan. Dengan demikian dialog menjadi serius untuk mencari kebenaran, tidak ada rasa ketakutan akan hilangnya jabatan. Dan, dalam dialog juga seharusnya  tidak ada rasa angkuh dan sombong bahwa dengan jabatan saya dalam.kekuasaan, maka saya lah yang benar, yang lain salah.

Situasi politik sekarang ini tampaknya sulit menciptakan dialog yang mencerahkan, sebenarnya yang terjadi forum untuk memanfaatkan publikasi dan membangun citra. Citra lembaga maupun pribadi. Para jubir eksekutif misalnya akan membela dengan sekuat tenaga lembaga dan jabatannya. Sebab, tentu mereka akan dianggap gagal jika tidak bisa  membuat ekspose yang baik menyangkut jabatan yang diembannya. Dan, satu hal lagi yang nampak nyata saat ini, kaum intekektual yang masuk ke dalam lingkungan birokrasi, juga terlihat canggung berbicara, mereka tidak berperan sebagai intelektual untuk mencari kebenaran, tetapi menjadi corong pemerintah menjustifikasi dan memberikan argumentasi pembelaan kebijakan pemerintah.

Kedua, jabatan eksekutif dan legislatif sekarang ini dianggap power dan super, walaupun lembaga ini terkadang muncul dengan berita yang sumir, tapi toh tiap pemilu minat untuk menjadi eksekutif dan legislatif tidak.pernah surut.  Banyak orang yang secara ekonomi maupun profesi sudah lumayan baik, tapi masih tetap.mengejar jabatan eksekutif maupun legislatif. Dapat kita lihat misalnya para pengacara, pengusaha sukses, intelektual, ilmuan dan lainnya, masih suka berburu jadi  anggota dewan dan eksekutif,

Dari adanya superioritas jabatan inilah kemudian berpengaruh dalam discourse, wacana dan ajang debat, yang menganggap dengan jabatan yang disandangnya itu includ merasa dirinya yang  paling mungkin benar.

Kita juga tidak bisa memungkiri dalam perdebatan, dialog dan pertukaran pikiran  berbagai masalah kehidupan bangsa baik sosial, politik, ekonomi dan lainnya muncul pemikiran dan pandangan yang berbobot, pemikiran yang memberikan jalan keluar dari problem yang sedang dihadapi. Maka ada baiknya pemikiran-pemikiran tersebut disaring oleh penentu kebijakan dan dilaksanakan kalau dinilai memang tepat.

Sekarang ini yang terlihat meski cukup banyak dialog dan diskusi berbagai topik masalah bangsa, namun kita melihat tidak mendapat respon yang baik dari pemerintah, DPR dan pengambil kebijakan, misalnya,  debat dan perbincangan yang ramai ,bahkan sampai demontrasi tentang UU KPK dan UU Cipta Kerja, tetapi toh UU itu tetap disahkan.

Jadi, apakah segala acara talk show, debat dan forum dialog itu hanya sekadar exercise intelektual atau tayangan untuk menaikkan rating acara televisi, chanel youtuber yang sekarang menjamur. Dan jadi tayangan hiburan.  Silakan jawab!

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda