Adab Rasul

Sunah Rasul dan Kebiasaan Orang-Orang Sukses

Written by B.Wiwoho

Di era milenial ini, dengan mudah kita bisa membaca biografi para tokoh dan penemu kaliber dunia. Pada umumnya mereka adalah para pekerja keras yang ulet, tekun, sabar, pandai bersyukur dan yakin visinya untuk kemanfaatan orang banyak akan terwujud berkat pertolonganTuhan Yang Maha Kuasa.

Di antara banyak buku tentang kisah sukses para tokoh, ada sebuah buku yang terbit sekitar awal 2000an yang berjudul THE SECRET, oleh Rhonda Byre, edisi Indonesia diterbitkan Gramedia 2007, The Secret, Mukjizat Berpikir Positif, yang menghimpun rahasia sukses 29 orang tokoh.

Sebagian rahasia sukses mereka ternyata sama, dan salah satunya adalah senantiasa memelihara, membangun rasa syukur serta menggalang niat untuk bisa melakukan sesuatu bagi kepentingan orang banyak. Mari kita ambil dua contoh.

Ahli pemasaran yang pernah menjadi seorang tuna wisma, DR.Joe Vitale, MSc.D mengungkapkan, apa yang dapat Anda lakukan saat ini untuk mulai mengubah hidup? Hal pertama yang dapat Anda mulai adalah membuat daftar hal-hal yang Anda syukuri. Ini akan  memindahkan energi dan mulai memindahkan pikiran anda. Jika sebelumnya Anda  berfokus pada apa yang tidak Anda miliki, keluhan dan masalah Anda, sekarang Anda melangkah ke arah yang berbeda ketika Anda melakukan latihan ini. Anda mulai bersyukur untuk semua hal yang menyenangkan Anda.

James Arthur Ray seorang pengajar kepribadian yang telah berhasil membantu mengembangkan sukses banyak orang, mengatakan, baginya syukur adalah suatu latihan yang penuh daya. Setiap pagi ia bangun dan berucap “Terima kasih”. Setiap pagi, tatkala kaki menyentuh tanah, “Terima kasih.” Kemudian ia  mulai memikirkan apa yang ia syukuri sambil menyikat gigi dan melakukan hal-hal yang biasa ia lakukan di pagi hari. “Saya tidak hanya memikirkannya sambil melakukan hal-hal rutin, tetapi saya juga mengungkapkan dan merasakan perasaan-perasaan syukur itu.”

Rahasia sukses dari banyak tokoh sepanjang sejarah menurut penulis Rhonda Byrne, adalah mereka menjadikan ungkapan rasa syukur itu menjadi bacaan batin di setiap waktu sepanjang hari dengan sepenuh penghayatan, sampai tak bisa menghitungnya berapa banyak,  seperti kita diajarkan berzikir dengan kalimat hamdallah, alhamdulillah, serta mengamalkannya dalam perilaku kehidupan sehari-hari.

Selama ini kita diajarkan meneladani enam kebiasaan Kanjeng Nabi Muhammad saw. tatkala bangun tidur, yaitu:                   

(1) Duduk sejenak seraya mengusap wajah dan menghilangkan kantuk dengan kedua telapak tangan.                                                                  

(2) Memanjatkan rasa syukur dengan membaca hamdallah. Lebih lengkapnya, “Alhamdulillaahilladzii ahyaanaa ba’damaa amaatanaa wa ilaihinnusyuur.“  Artinya, segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah Dia mewafatkan (menidurkan) kami, dan kepada-Nya kami dibangkitkan,” (HR. Al-Bukhari).                                                               

 (3) Membaca 10 ayat terakhir dari QS. Ali Imran, yang intinya mengagungkan kebesaran Tuhan serta berserah diri dengan sepenuh keyakinan akan perlindungan dan pertolongan-Nya.                   

(4) Membersihkan diri dengan menggosok gigi.                               

(5) Membersihkan lubang hidung.                                                          

(6). Mencuci tangan dan berwudhu.

Kebiasaan pertama sampai ketiga itu kini kita bisa ketahui,  sangat bermanfaat bagi kesehatan, khususnya memberikan kesempatan kepada peredaran darah dan metabolisme tubuh, sampai kembali stabil dan berfungsi sempurna setelah istirahat lama dalam tidur. Orang-orang yang jatuh tatkala bangun tidur atau dalam posisi tiduran, pada umumnya adalah yang langsung bangkit dan berjalan.

Ulama asal Banten yang bermukim dan tersyohor di Saudi pada abad 19, Imam Nawawi Al-Banteniy,  dalam kitabnya yang mengulas hadis-hadis shahih khususnya Al-Bukhari, Nashoihul ‘Ibad, mengutip sabda Rasulullah, “Barang siapa bangun pagi hari tidak niat berbuat zalim kepada siapa pun, maka diampuni kesalahannya. Dan barang siapa bangun di pagi hari dengan niat menolong orang yang teraniaya serta mencukupi kebutuhan orang muslim, maka memperoleh pahala sebesar Haji Mabrur.”

Ia melanjutkan dengan sabda Kanjeng Nabi yang lain, “Hamba-hamba yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah siapa yang paling bermanfaat untuk manusia, perbuatan yang paling utama ialah mewujudkan rasa senang ke dalam hati orang mukmin berupa membasmi kelaparan, menyingkap kesulitan atau membayarkan hutangnya; dan dua hal yang tiada sesuatu pun melebihi jahatnya ialah menyekutukan Allah dan mendatangkan bahaya terhadap kaum muslimin.”

Menjadi pertanyaan, apakah selama ini kita sudah membiasakan mengawali hari-hari dalam kehidupan kita dengan sejumlah keinginan, rencana dan niat untuk berbuat baik, beramal soleh bagi sesamanya, kepada lingkungan-lingkungan terdekat, sahabat dan masyarakat luas? Menorehkan kepedulian terhadap sesama? Kemudian berusaha mewujudkan sepenuh daya, sesuai kemampuan kita? Atau bahkan sekedar membalas doa sahabat pun tak sudi? Apalagi harus mengeluarkan waktu, tenaga dan biasa yang lebih besar. Naudzubillah.

Demikianlah Sahabatku, jika orang-orang non muslim saja bisa sukses dalam kehidupan karena mengamalkan perilaku spiritual sebagaimana yang diajarkan oleh junjungan Rasulullah, kita sebagai muslim tentu akan jauh lebih sukses bila mengamalkannya, dan yang terpenting lagi adalah berkah melimpah dari-Nya, bahagia lagi mulia dunia akhirat.

Maka marilah kita hayati  firman Allah SWT dalam surah Ibrahim ayat 7 : “Sungguh jika kamu bersyukur, niscara kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkarinya, sungguh azab-Ku sangat keras.” Para ulama mengingatkan, termasuk ingkar nikmat adalah tidak menggunakan nikmat Allah untuk taat kepada-Nya.

Dalam buku Bertasawuf di Zaman Edan, tentang syukur penulis membuatkan contoh bagaimana dengan mudah kita memahami nikmat-nimat Allah (halaman 217). Orang kaya hendaklah selalu bertafakur pada keadaan bagaimana dia sebelumnya, dan bagaimana seandainya ia menjadi fakir miskin. Orang sehat ingat tatkala jatuh sakit.

Pada intinya, lihatlah setiap nikmat itu pada lawannya. Bandingkan dengan hal-hal yang berlawanan terhadap nikmat tersebut. Insya Allah kita akan mudah memanjatkan puji syukur. Puji dan syukur menurut Imam al-Ghazali, merupakan tanjakan terakhir dalam perjalanan tarekat.

Puji adalah amalan-amalan lahiriah seperti wiridan, hamdalallah, tasbih dan tahlil. Sedangkan syukur adalah amalan-amalan batin yang selanjutnya memancar dalam amalan lahir berupa perbuatan, antara lain sabar, bergembira dan menggunakan nikmat tadi untuk hal-hal yang diridhai Allah, serta tidak menggunakannya untuk bermaksiat. Buah syukur adalah kegembiraan dan suka-cita, sedangkan syukur itu sendiri adalah buah dari iman.

Semoga kita dianugerahi hidayah dan inayah, sehingga bisa menempuh tanjakan puji syukur ini dengan baik, mengamalkannya dalam pikiran, ucapan, tindakan dan perilaku sehari-hari, sehingga kita berada dalam golongan hamba-hambaNya yang pandai menyukuri nikmat-nikmatNya.Amin.

Allaahumma sholli alaa Muhammadin nabiyyil ummiyyi wa alaa aalihi wasallim.

About the author

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda