Jejak Islam

Damaskus, Pusat Peradaban Islam Abad VII-VIII Masehi (2)

Written by Panji Masyarakat

Pada dasarnya peradaban Arab-Islam ini adalah peradaban Iran dan Aram yang dipengaruhi peradaban Yunani, yang berkembang di bawah perlindungan khilafat dan dinyatakan dengan lidah Arab. Di dalam peradaban Arab-Islam inilah kesatuan peradaban Laut Tengah dari Asia Barat mencapai mutunya yang tinggi.

Damaskus mulai dipakai secara resmi sebagai ibu kota Kerajaan Umaiyah oleh Khalifah Muawiah pada 661 M., menggantikan Kota Madinah yang selama ini dijadikan pusat ibu kota pemerinthan sejak masa Nabi Muhammad s.a.w. (571-632 M) hingga empat khalifah berikutnya  yang dikenal dengan nama Khulafaur Rasyidin (632-661 M). Ketika Sayidina Ali terbunuh pada 661 M yang naik ke tingkat pimpinan adalah Muawiah. Sejak itu muncul Dinasti Umaiyah hingga 750 M. Damaskus sekaranf masih memiliki tanda-tanda yang mencerminkan ekspresi tokoh-tokoh elite politik dan keagamaan yang timbul bersama dengan penaklukan bangsa Arab. Setiap versi mencerminkan sebuah seleksi dan sintesa dari warisan peradaban Timur Tengah. Peradaban zaman kuno erat sekali berkenaan dengan kultur bangsa Yahudi, Kristen, Hellenistik Bizantium, dan kultur Sasania.

Eskatologi dan teologi Kristem, filsafat Hellenistik dan neo-Platonis menjadi bagian dan filsafat dan mistisisme Islam. Kitab suci kenabian, ritual, dan preseden-preseden hukum terserap ke dalam hukum (syariat) Islam. Ilmu pengetahuan, sistem protokoler, kesenian dan arsitektur, preseden administratif, dan konsep-konsep politik, baik dari Sasania maupun Bizantium, diterima oleh imperium Umaiyah dan Abbasiyah.

Penerimaan warisan masa lalu tersebut sebagian berlangsung secara tidak sengaja dan sebagian secara sengaja. Di dalam era baru ini, warisan masa lalu merupakan sesuatu yang nyata hidup. Mayoritas masyarakat Timur Tengah, sebelum kedatangan Islam, adalah penganut Kristen, Yahudi, dan Zoroaster. Agaknya, sistem keluarga, kampung, ketetanggaan, kesukuan, dan bentuk-bentuk  organisasi komunitas kecil lainnya tidak terpengaruh oleh sejumlah penakluk bangsa Arab dan imperium muslim. Selain kegiatan ekonomi, sejumlah institusi dasar dalam bidang pertanian dan perdagangan masyarakat perkotaan tetap bertahan. Institusi imperial Sasania dan Bizantium, mencakup konsep seorang penguasa dan tanggung jawabnya terhadap agama, diterapkan secara langsung oleh para khalifah Arab muslim.

Keyakinan keagamaan monoteistik dan bentuk-bentuk perkumpulan organisasi menjadi model utama yang menandai pembentukan komunitas muslim. Orang-orang yang baru memeluk Islam membawa pola pengajaran, kultur, dan identitas politik mereka yang lama ke dalam agama Islam.

Dengan penaklukan yang dilakukan oleh orang Arab atas daerah-daerah “Bulan sabit yang Subur” serta Persia dan Mesir, mereka pun telah memiliki pusat-pusat peradaban yang pertama di seluruh dunia. Dengan keinginan besar serta kekuatan yang belum pernah ditunjukkan, sekarang kaum muslimin dari negeri Arab itu mulailah mengasimilasi, menerima, dan mempergunakan warisan intelektual dan estetika itu dengan bantuan dan kerja sama dari bangsa-bangsa taklukannya. Di Ktesifon, Damaskus, Yerusalem, dan Iskandariah mereka melihat, mengagumi, dan meniru buah tangan arsitek, seniman, jauhari (orang pandai), dan pemilik pabrik. Mereka datang ke pusat-pusat peradaban tua ini, mereka melihat dan mereka ditawan oleh kebudayaan itu.

Apa yang dalam zaman sekarang dinamai “peadaban Arab”, baik sumber, struktur dasar, maupun sifat-sifatnya yang utama, sebenarnya bukanlah dari negeri Arab. Sumbangan Arab yang sesungguhnya dalam peradaban hanyalah dalam lapangan keagamaan. Selama zaman khilafat  (pemerintahan) bangsa Siria, Persia, Mesir, dan bangsa-bangsa lain, baik yang sudah menjadi muslim ataupun tetap menganut agama Kristen dan Yahudi serta Zoroaster, merekalah sebenarnya yang menjadi pendukung seluruh penerangan dan penyelidikan pengetahuan, serupa halnya dengan hubungan bangsa Yunani yang dikalahkan oleh bangsa Romawi yang menaklukkannya.

Pada dasarnya peradaban Arab-Islam ini adalah peradaban Iran dan Aram yang dipengaruhi peradaban Yunani, yang berkembang di bawah perlindungan khilafat dan dinyatakan dengan lidah Arab. Dalam arti lain, peradaban ini adalah lanjutan dari peradaban Samiyah tua di daerah “Bulan Sabit yang Subur”, yang berasal dan dikembangkan oleh peradaban Assiro-Babilonia, Funisia, Aram, dan Ibrani. Di dalam peradaban Arab-Islam inilah kesatuan peradaban Laut Tengah dari Asia Barat mencapai mutunya yang tinggi.                   

Bersambung
Penulis: Prof. Dr. HasanMuarif Ambary (1939-2006).  Semasa hidupnya dikenal sebagai arkeolog, pakar kepurbakalaan Islam. Guru besar UIN Syarif Hidayatullah ini pernah menjabat kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Sumber: Majalah Panjimas, 13-26 November 2002.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • 23-april-19972-1024x566
  • tabloid-panjimasyarakat
  • Hamka
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • hamka