Tasawuf

Stasiun Kedua Penempuh Jalan Tasawuf: Zuhud

Written by A.Suryana Sudrajat

Zuhud terhadap dunia adalah membatasi keinginan untuk memperoleh dunia, bukannya memakan makanan kasar atau mengenakan jubah dari kain kasar. Mengapa Al-Ghazali mengibaratkan dunia ini bagai sepotong roti?

Setelah tobat, stasiun berikutnya yang harus dicapai para penempuh jalan tasawuf  adalah zuhud (zuhd). Hakikat zuhud,  seperti dikatakan Al-Ghazali, adalah tidak menyukai sesuatu yang bersifat keduniawian. Lawannya adalah hubbud-dunya alias cinta dunia. Orang tasawuf meyakini benar bahwa kesucian diri bisa diperoleh denga  melepaskan ikatan cintanya dengan dunia (hubbud-dunya).  

Kata Al-Hasan al-Bashri, “Dunia ini laksana mimpi atau bayangan fana. Seorang bijak tidak bakal tertipu.” Atau seperti kata Al-Ghazali, dunia ini ibarat sepotong roti. Jika kamu makan, makan kelezatannya hanya diperoleh saat itu saja, dan hilang ketika ditelan. Yang kemudian tertinggal adalah terasa berat pada perut. Lalu berubah menjadi bau busuk, dan bau itu perlu dikeluarkan. Dia mengingatkan bahwa di  dalam kezuhudan akhirat lebih baik ketimbang akhirat. Firman Allah yang dikutip Hujjatul Islam antara lain Q. 42: 20: “Barangsiapa yang menghendaki keuntungan diakhirat akan kami tambah keuntungan itu baginya, dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya satu bagian pun di akhirat.”

Mengutip gurunya, Syekh Abu Ali Ad-Daqqaq, Imam Qusyairi mengatakan bahwa kalangan ulama banyak yang berbeda pendapat sehubungan dengan zuhud. Ada yang mengatakan, zuhud dengan perkara yang haram saja, sebab perkara yang halal diterima Allah SWT  Apabila Allah memberikan berkat kepada Hamba-Nya berupa harta yang halal dn hamba itu bersyukur atas berkat itu, maka ia meninggalkan menurut upayanya, tanpa harus mengajukan hak izin untuk mengekangnya. Sebagian yang lain mengatakan, zuhud terhadap perkara yang halal merupakan suatu keutamaan. Apabila hamba yang berzuhud miskin  tetapi sabar terhadap keadaannya, bersyukur serta merasa puas atas segala sesuatu yang dianugrahkan oleh Allah kepadanya, maka hal itu lebih baik ketimbang berusaha menimbun kekayaan berlimpah di dunia.

Al-Qusyairi juga mengutip pendapat ulama lainnya. Misalnya, Sufyan Ats-Tsauri yang mengatakan bahwa zuhud terhadap dunia adalah membatasi keinginan untuk memperoleh dunia, bukannya memakan makanan kasar atau mengenakan jubah dari kain kasar.

Ulama lain yang ia sering kutip pendapatnya tentang zuhud adalah Ahmad ibn Hanbal. Menurut pendiri mazhab fikih Hanbali ini ada tiga macam zuhud. Pertama, zuhud kaum awam, yakni bersumpah menghindari perkara yang haram. Kedua, zuhud golongan khawwas, yaitu menjauhi sikap berlebih-lebihan. Ketiga, zuhud kaum ‘arifin, yaitu menjauhi apa pun yang memalingkan sang hamba dari Allah.

Gambaran perilaku hidup zuhud bisa kita baca dari kisah perjalanan hidup Abu Ishaq alias Ibrahim ibn Adham. Anak penguasa di Balkh ini seperti umumya anak raja,  hidup bergelimang kemewahan. Suatu hari ia minggat dari istana karena tidak menemukan sesuatu yang berharga dari gaya hidupnya yang wah itu. Dia berkelana dari satu tempat ke tempat lain, sebelum menetap di Suriah. Untuk mengongkosi hidupnya Ibrahim antara lain menjadi kuli pemetik gandum, penjaga kebun, bahkan tentara. Dan saat menjadi tentara inilah sufi besar ini gugur pada tahun 778 M, ketika turut ambil bagian dalam sebuah ekspedisi melawan Yunani. Berkaitan dengan hidupnya yang zuhud ia pernah berkata, “Tinggalkan dunia ini. Cinta pada dunia membuat orang tuli dan menjadi buta.”

Tapi benarkah para sufi adalah pembenci dunia?

Tidak, sebab untuk menafkahi diri mereka, mereka harus bekerja. Bukan meminta-minta atau hidup dari sedekah orang.   Mereka yakin, dunia adalah tempat bercocok tanam bagi akhirat. Nabi bersabda: “Dunia ini diciptakan untuk kamu, sedangkan kamu diciptakan untuk akhirat.”

Soalnya, bagaimana melepaskan ikatan cinta itu? Kata seorang sufi, kekayaan yang ada pada kita baru menjadi milik kita sesudah berpindah ke tangan orang. Rezeki memang tidak untuk dikangkangi, tapi untuk diedarkan. Nabi pernah menasihati Asma binti Abu Bakr, dan tentu saja kita semua: “Janganlah kamu mengumpulkan harta dan kemudian menumpuknya. Jika kamu berbuat demikian, Allah akan berbuat sebaliknya. Jangan pula kamu kikir.  ……Berilah sebatas kemampuanmu.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda