Cakrawala

Siapa yang Mengalungkan Lonceng?

Written by Saeful Bahri

Alkisah di negeri antah berantah. Sekelompok tikus tengah  gundah gulana. Pasalnya, kehidupan mereka terancam oleh seekor kucing durjana. Setiap hari ada saja tikus yang menjadi mangsanya. Kucing ganas itu berjaga di sekitar kediaman para tikus. Sesaat tikus keluar mencari makan, si kucing langsung menyerang dan memangsa mereka tanpa ampun. Jelas, kenyamanan hidup para tikus terancam, jika tidak segera mengambil sikap lama-lama populasi mereka akan punah. Menyikapi situasi tersebut, para tikus mengadakan pertemuan. Mereka bermusyawarah, mencari solusi, dan jalan terbaik untuk melepaskan diri dari ancaman kucing.

Tibalah saatnya rapat digelar. Seekor tikus besar bersuara memimpin rapat.

“Saudara-saudara, apa yang harus kita lakukan untuk menghentikan aksi jahat kucing itu?”

Suasana hening, semua berpikir mencari gagasan. Tak lama kemudian seekor tikus lain bersuara.

“Menurut saya, untuk menghentikan ulah kucing itu kita harus bersatu melawannya. Saya yakin jika bersatu kita dapat mengalahkan kucing itu,” katanya penuh semangat.

Tapi pendapatnya itu tidak disetujui oleh salah satu tikus.

“Bagaimana bisa, jumlah kita tidak seberapa. Sementara tubuh kucing itu lebih besar dan lebih kuat dari tubuh kita. Empat kaki kucing dengan kukunya yang tajam dapat mencabik-cabik tubuh kita yang kecil, belum lagi taringnya yang ganas siap menggerogoti sekujur badan kita. Saya kira gagasan itu akan sia-sia, malahan akan menambah banyak korban di antara kita.”

Tikus lain ikut berpendapat.

“Menurut saya, bagaimana kalau kita pindah dari tempat ini, kita cari tempat lain yang lebih aman dan nyaman?” Katanya.

“Gagasan itu bisa saja menjadi pilihan. Tapi jangan dikira mudah mencari lahan baru. Coba kalian pikirkan lagi, ketika kita semua keluar dari tempat ini untuk mencari tempat lain, si kucing pasti akan menyerang, habislah kita” kata tikus besar yang memimpin rapat.

Semua terdiam, memikirkan gagasan lain yang lebih jitu dan efektif.

Di tengah keheningan berpikir, seekor tikus bersuara.

“Saya punya ide” katanya setengah berteriak.

“Bagaimana kalau kita kalungkan lonceng di leher kucing, dengan suara lonceng itu kita akan mengetahui keberadaannya dan kita akan menjadi waspada,” katanya penuh semangat.

“Bagaimana? Apakah kalian setuju?” tegasnya meyakinkan tikus-tikus lain.

Hampir semua peserta rapat setuju dengan gagasan itu. Semua sepakat lalu bersorak karena mendapatkan gagasan cerdas yang memberi solusi. Tapi di tengah keriuhan itu seekor tikus tua bersuara. Ia membelah sorak-sorai para tikus.

“Tunggu dulu! Tolong dengarkan saya!” pintanya kepada seluruh hadirin.

“Saudara-saudara, gagasan dari kawan kita itu bagus sekali, tapi siapa di antara kita yang berani mengalungkan lonceng di leher kucing?” katanya penuh tanyanya.

Mendegar pertanyaan itu semua tikus terdiam. Wajah mereka menjadi muram. Tidak ada seorang pun yang bersuara mengusulkan diri untuk mengalungkan lonceng di leher kucing. Semuanya takut, tidak ada yang berani dan mau terbebani. Bayangan mereka sama saja dengan bunuh diri menyerahkan nyawa kepada kucing.

Rapat tidak menghasilkan apa-apa, semua ide dan gagasan tak dapat memberikan solusi untuk mengubah nasib mereka. Akhirnya pimpinan sidang menutup rapat, tanpa hasil, tanpa keputusan. Semua tikus terdiam.

Apa pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah di atas? Benarkah semua ide dan gagasan tikus tidak memberi solusi? Sementara mereka belum melakukan apa-apa? Mengapa ide terakhir yang tadinya membuka jalan terang tiba-tiba redup hanya karena tidak ada yang berani mengalungkan lonceng di leher kucing?

Tikus- tikus itu menginginkan sebuah perubahan terjadi. Tapi tidak ada satupun yang berani dan mau terbebani. Para tikus ingin nasib mereka berubah, tapi tidak ada yang berani mengorbankan diri. Gagasan-gagasan akhirnya hanya membiak  dalam kepala.

Mereka inginkan perubahan, tapi tidak mau berubah. Sementara perubahan membutuhkan sosok yang berani dan mau terbebani. Inilah halangan terbesar sebuah perubahan, termasuk yang terjadi pada manusia.

Lihatlah tokoh-tokoh perubahan baik dalam skala kecil maupun besar dimotori oleh individu yang rela memikul beban demi sebuah perubahan. Sejarah para nabi dan rasul terpampang jelas, betapa mereka adalah pribadi-pribadi yang mau terbebani demi perubahan umat manusia.

Dalam belahan dunia yang lain, Mahatma Gandhi, tewas dibunuh oleh Nathuram Godse pada 30 Januari 1948. Ia mengusung perubahan melalui konsep perjuangan tanpa kekerasan. Ia ditembak dari jarak dekat oleh Godse. Karena kesal dengan kebijakan politik Gandhi yang dinilainya membela Islam ketimbang Hindu.

Martin Luther King tewas ditembak di Kota Memphis, Tennessee, Amerika Serikat. Ia adalah tokoh perubahan yang berhasil mendorong gerakan kaum sipil dan menghapuskan diskriminasi rasial.

Nelson Mandela harus rela dikurung dalam penjara selama dua puluh tujuh tahun, demi memperjuangkan hak warga negara kulit hitam di Afrika Selatan.

Anda lihat, meskipun mereka terancam, menderita, bahkan mati, tapi mereka dikenang sebagai tokoh-tokoh perubahan yang menginspirasi dunia. Jika akhirnya mereka mati, hidup mereka akan dikenang sepanjang ingatan. Hidup mereka akan lebih panjang dari usianya. Mari kita lakukan perubahan dari hal-hal yang kecil. Belajarlah dari tokoh-tokoh perubahan di atas, bercerminlah dari mereka, dan jadilah inspirator perubahan.

About the author

Saeful Bahri

Alumni dan guru Pondok Pesantren Daar el Qolam, Tangerang, Banten. Pernah belajar di UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten, Universitas Indonesia, dan Universiti Kebangsaan Malaysia. Selain mengajar di almamernya, ia juga menulis beberapa buku di antaranya Lost in Pesantren (2017), 7 Jurus Betah di Pesantren (2019), yang diterbitkan Penerbit Republika Jakarta.

Tinggalkan Komentar Anda