Cakrawala

Kisah Khalifah Umar bin Khattab Menghukum Keluarga Pejabat

Written by Arfendi Arif

Dalam sejarah Islam Umar bin Khattab adalah sahabat yang masuk Islam secara istimewa. Awalnya, dikenal sebagai musuh Islam dan amat ditakuti. Namun, ia mendapat hidayah karena   terpesona dengan isi  Al-Quran, dan langsung mengucapkan syahadat meyakini Allah dan Muhammad sebagai Rasul Allah.

Tarikh Islam menggambarkan  bahwa Umar adalah Khalifah yang memiliki tingkat kesempurnaan kepribadian dan akhlak yang nyaris  sempurna.  Dalam dirinya terhimpun sifat tegas,cerdas, jujur, adil, sederhana dan lainnya.

Dalam konteks keislaman, ia seorang yang takut kepada Allah dan sekuat mungkin berusaha  menjalankan setiap pekerjaan menurut kehendak Allah, Rasul-Nya dan perintah Al-Quran.

Dalam soal keadilan inilah yang paling cermat ia lakukan. Terutama amat jelas ketika ia menjabat khalifah atau amirul mu’minin. Keadilan itu ia tunjukkan menyangkut fasilitas buat dirinya sendiri, keluarganya dan terhadap rakyatnya. Keadilan buat diri dan keluarganya adalah ia hidup sangat sederhana, tidak mau memanfaatkan sedikitpun fasilitas negara.

Sebuah kisah menggambarkan kesederhanaan hidup Umar bin Khattab. Kaisar Romawi mengutus seorang laki-laki ke Madinah untuk mengetahui keadaan Umar bin Khattab. Ketika sampai di Madinah ia bertanya ke penduduk. ” Di mana rajamu tinggal,”? Muslim itu menjawab”, Kami tidak mempunyai raja, cuma seorang Amir dan sekarang sedang berjalan keluar kota”.

Kemudian laki-laki itu terus berjalan keluar kota mencari Khalifah Umar bin Khattab. Ia dapati Khalifah Umar sedang tidur di atas pasir yang panas dengan meletakkan kainnya yang telah usang di bawah kepalanya untuk jadi bantal, dan keringat keluar dari badannya, hingga membasahi pasir.

Ketika laki-laki itu melihat keadaan Khalifah Umar, muncullah rasa kagumnya. Ia berkata, ” Beginilah keadaan laki-laki yang ditakuti oleh sekalian raja-raja. Raja kami berjalan dengan pengiring yang banyak, tidur dengan penjaga tetap di rumah dengan jumlah cukup. Itu karena raja kami banyak aniaya , mementingkan diri sendiri, memboroskan harta benda rakyat, berkelakuan sombong,  tidak memperhatikan kesengsaraan rakyat. Itulah sebabnya raja kami tidak tenang, berjalan selalu dalam keadaan takut  karena itu selalu dijaga. Sedang Khalifah Umar, ia tidak memakan harta rakyat, tidak aniaya, selalu mementingkan urusan mereka dan tidak pula sombong, karena itulah ia tidak takut dianiaya orang, ia tidak takut berjalan dan tidur dimana saja ia sukai”. (El-Ustadz H.Mahmud Aziz, Sejarah Khulafa-ur-Radyidin, Jakarta,Pustaka Islam, 1962).

Keadilan dan ketegasan Umar juga menjadikannya  tidak pandang bulu dalam menjatuhkan hukuman. Siapapun yang bersalah dijatuhi hukuman yang setimpal. Bahkan, ia tidak perduli terhadap keluarga pejabat sekalipun, bila bersalah bakal tidak lolos dari jerat hukum   Beberapa kisah yang dramatis menunjukkan ketegasan Umar.

Putera Gubernur Mesir Amir bin Ash kalah dalam lomba pacuan kuda dengan seorang penduduk biasa. Karena merasa anak seorang pembesar ia tidak menerima kekalahan tersebut dan memukul rakyat biasa tersebut dengan cambuk. Tidak menerima perlakuan tersebut sang warga biasa melaporkan kasusnya kepada Umar bin Khattab.

Setelah khalifah mendengarkan pengaduan tersebut ia berkirim surat kepada gubernur Mesir Amir bin Ash. “Pada waktu haji tahun ini, hendaklah engkau datang ke ibu kota dan bawalah anakmu,” begitu bunyi surat khalifah.

Lalu Amir bin Ash memanggil.puteranya  seraya berkata.”Apakah engkau telah membuat perkara, dan berbuat jahat?”. Anak itu menjawab,” Tidak!”

“Kalau begitu kenapa Umar menulis  tentang dirimu!”. Amir dan puteranya kemudian datang menghadap Umar bin Khattab.

Setelah melakukan penyelidikan dan ternyata benar apa yang dilaporkab orang Mesir tersebut maka Umar berkata kepadanya. “Amibillah cemeti ini, dan sekarang pukullah anak pembesar ini,”perintahnya.

Warga Mesir tersebut memukul putera Amir bin Ash sehingga mengaduh kesakitan. Kemudian Umar melanjutkan,” Sekarang pukul juga si Amir. Demi Allah, ia tidak akan memukulmu, kalau ia tidak berkuasa”. Namun, warga Mesir tersebut menolak. ” Cukuplah, ya Amirul Mu’minin , sebab ayahnya tidak pernah  memukul begitu kepadaku”.

Lalu cambuk itu diserahkannya kembali kepada Khalifah. Waktu menerima cemeti itu keluarlah ucapan Khalifah Umar bin Khattab.” Hai Amir, sejak kapan kalian memperbudak manusia, padahal ibu mereka melahirkannya sebagai orang merdeka”.
Kemudian Umar berpaling kepada orang Mesir itu seraya berkata. “Pergilah engkau dengan aman. Kalau kamu merasa was-was, maka tulislah surat kepadaku!”.

Menurut Buya Hamka, ucapan Umar bin Khattab tentang manusia yang dilahirkan merdeka di atas telah menjadi kata bersayap dalam menentukan hak-hak hidup manusia, sampai sekarang ini dan seterusnya menjadi dasar perjuangan hidup manusia.

Cerita lainnya mengenai keadilan Umar bin Khattab terjadi pada kasus Djabalah bin Aiham, Raja dari Jufnah yang baru masuk Islam. Suatu hari ia naik haji dengan segala kebesarannya. Pada waktu  thawaf seorang dusun tanpa sengaja menginjak pakaiannya sehingga ia merasa terhina dan marah dengan menempeleng penduduk dusun tersebut.

Merasa sakit hati dengan perlakuan  raja tersebut orang dusun itu menemui Umar bin Khattab yang kebetulan sedang naik haji, dan menceritakan perlakuan yang diterimanya. Kemudian Raja Jabalah dan orang dusun tersebut dihadapkan di muka pengadilan yang diketuai Umar bin Khattab. Setelah dilakukan pemeriksaan maka diambil keputusan Raja Jabalah diharuskan menginjak kaki orang dusun itu, dan orang dusun tersebut diharuskan memukul Raja Jabalah. Artinya, diberlakukan hukum qisas.

Raja Jabalah sangat heran dan merasa putusan itu tidak tepat. “Hukuman ini tidak pantas, karena saya adalah seorang raja yang besar dan ia hanya seorang dusun,” ujarnya dengan sombong.

Mendengar jawaban tersebut Umar tetap teguh dengan putusannya, seraya berkata.” Sesungguhnya dalam Islam itu tidak ada perbedaan antara raja dengan hamba sekalipun,” tandasnya.

Dalam hatinya Raja Jabalah kagum dengan keadilan hukum Islam, dan belum pernah melihat dan merasakan ketinggian nilai undang-undang tersebut, namun egonya tetap tidak mau menerima putusan tersebut. Karena itu ia berdalih minta putusan ditunda hingga esok hari, ternyata itu hanya akal liciknya untuk mencari kesempatan melarikan diri di pagi buta dan minta perlindungan kepada Kaisar Romawi, dan hidup di pengasingan.

Demikianlah keadilan Khalifah Umar dalam memberlakukan hukum yang sama diperuntukkan buat semua orang, tanpa ada yang memiliki previlese atau hak-hak istimewa. Dalam istilah hukum sekarang disebut equality before the law, yaitu semua orang sama di mata hukum.

Memang, keadilan hukum seperti yang dilakukan Umar bin Khattab rasanya seperti hil mustahil–meminjam guyonan seorang pelawak– di dunia ini. Hanya, pasti ada di pengadilan akhirat nanti.

Kalau kita baca berbagai pemberitaan tentang hukum sekarang ini hanyalah ironi yang acap kita temukan. Yaitu, adanya rasa keadilan masyarakat yang tercederai.  Dalam dunia hukum, Hermann Mostar, menulis dan mendokumentasikan cerita soal peradilan sesat  di berbagai penjuru dunia. Bukunya yang berjudul “Peradilan Sesat” terdiri dari 13 cerita dalam kurun waktu tahun 1834-1946.

Di negara kita buku yang mirip ditulis Hermann Mostar tentang peradilan sesat adalah “Elegi Penegakan Hukum”, terbitan Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2010. Bercerita tentang beberapa kasus yang menghebohkan dunia hukum  yaitu Kasus Sum Kuning, Kisah Sengkon  dan Karta, Kisah Lingah, Pecah dan Sumir, Kasus Pak De, Kisah Marsinah, Kisah Muhammad Fuad Fachruddin, Kisah Prita Mulyasari dan lainnya. Semuanya ini menyangkut orang kecil yang berhadapan dengan hukum, dan merasakan ketidak adilan.

Dengan membaca keadilan hukum Khalifah Umar bin Khattab, semoga dapat menyentuh nurani penegak hukum untuk menempatkan keadilan di atas segalanya  Sesuai adagium, tegakkan keadilan meski langit akan runtuh. Aalahu ‘alam.***

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda