Tafsir

Tafsir Tematik: Misi yang Mulia dan Sederhana (5)

Memang dakwah sendiri bertingkat-tingkat. Tetapi ada tingkat yang orang muslim bisa saling bernasihat — entah itu mereka pandai atau bodoh. Itulah juga jawabannya, mengapa dakwah dan amar makruf nahi mungkar merupakan perekat  umat. Sebuah tugas yang efektif, luhur, namun sederhana.

Hendaklah ada dari  kalian suatu umat yang menyerukan kebaikan dan memerintahkan yang makruf serta mencegah dari yang mungkar. Merekalah orang-orang beruntung. (Q. 3: 104).

Kitab ini dan Kitab Itu

Ada persamaan antara pendapat ini (Thabathaba’i, red) dan yang dipunyai Maulvi Muhammad Ali dari Ahmadiyah Lahore. Seperti dikatakan pengarang The Holy Koran itu, sejatinya ayat ini (bersama dengan Q. 9: 122) “memerintahkan kepada umat muslimin agar selalu mempunyai golongan yang menjadi juru penyiar agama, yang keinginannya cuma menyebarkan Islam dan menunjuki umat Islam kepada yang benar.” (Djajasugita dan Mufti Sharif, I: 240).

Beda antara keduanya: pada Syi’ah, hierarki keagamaan  — yang lebih jelas membedakan antara kaum awam dan kaum ulama – lebih mudah dipahami sebagai memberikan hak dan kompetensi kepada lapis “rohaniwan” untuk memikul tugas itu. Sebaliknya pemusatan diri pada organisasi yang (dulu) dikenal begitu misioner, pada Ahmadiyah yang egalitarian, dengan gampang memberikan kepada dakwah dan tablig kesadaran spesialisasi.

Memang, masalah ini bisa dilihat dari beberapa sudut, dan hanya sebagian kesimpulan, yang tampak bertentang-tentangan, yang terasa tak cocok. Tetapi penyelesaian Muhamad Abduh-lah, jangan-jangan, yang paling patut dijadikan pengunci. Abduh, seperti juga Rasyid Ridha – penulis tafsir yang berangkat dari pengajian sang guru – dalam garis besar melihat ayat ini dalam kerangka tugas seorang Islam.

Pertama, mengenai min yang heboh itu, Abduh mengatakan bahwa “tampak luar” kalimat  ayat  itu ada pada batas pengertian seperti pada ucapan Liakun lii min-ka shadiiq. Arti harfiah: “Hendaklah ada untukku dari-mu seorang sahabat.” Tetapi, maksudnya tak lain “Jadilah sahabatku”. Di situ min (‘dari’)tidak menunjuk sebagian, tentu. Keumuman perintah amar makruf nahi mungkar itu, kata Abduh, ditunjukkan misalnya oleh ayat-ayat ini: “Manusia dalam kerugian, kecuali …. saling berwasiat dengan kebenaran, dan saling berwasiat dengan kesabaran.” (Q. 103: 2-3).

Wasiat di situ mencakup amr (perintah) dan nahy (larangan). Firman lain: “Dikutuklah mereka yang kafir dari golongan Bani Israil lewat lidah Daud dan Isa anak Maryam…. Mereka tidak saling mencegah kemungkaran yang mereka kerjakan.” (Q. 5: 78-79). Seluruh keterangan tentang bahwa yang beramar makruf nahi mungkar harus orang yang tahu (karena itu, hanya kepada mereka ayat tersebut ditujukan), dan bahwa orang bodoh tidak mengerti hukum-hukum, itu tidak cocok dengan kenyataan diwajibkannya menuntut ilmu atas setiap muslim dan pembiasaan membedakan yang makruf  (“yang diakui kebaikannya oleh akal dan watak yang selamat”) dan yang mungkar, yang sebaliknya.

Itu semua tidak membutuhkan pembacaan kitab ini dan pembacaan kitab itu. Melainkan sekadar penguasaan hal-hal yang memang tak boleh tidak dimengerti orang Islam dan yang menyebabkan dia disebut muslim. Menghalangi jatuhnya perintah dalam ayat itu ke luasan umum berarti membolehkan orang Islam begitu bodohnya sehingga tak tahu yang baik dan yang buruk, yang makruf dan yang mungkar. Memang dakwah sendiri bertingkat-tingkat. Tetapi ada tingkat yang orang muslim bisa saling bernasihat — entah itu mereka pandai atau bodoh. Itulah juga jawabannya, mengapa dakwah dan amar makruf nahi mungkar merupakan perekat  umat. Sebuah tugas yang efektif, luhur, namun sederhana.      

Bersambung

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 28 Oktober  1998.      

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda