Cakrawala

Ketika Hidup Saling Mengunci

Syahdan dua ekor kambing hutan berpapasan di sebuah jalan bertebing yang terjal dan sempit. Di bibir tebing ada jurang yang dalam penuh dengan bebatuan. Tidak ada ruang bagi kedua ekor kambing itu untuk bisa melewati jalan yang sempit secara bersamaan. Kecuali salah satu di antara kambing itu ada yang mengalah. Sementara untuk membalikan badan atau mundur ke belakang sulit untuk mereka lakukan. Sebab badan jalan yang sempit. Pada satu sisi terhalang oleh dinding tebing yang tinggi.  Sisi yang lain adalah jurang yang curam dan dalam.

Tahukah Anda apa yang dilakukan oleh kedua hewan itu agar keduanya selamat sampai tujuan? Salah satu dari kambing itu mengalah lalu berbaring dan membiarkan kawannya untuk lewat. Meskipun ia harus menahan beban dan sakit karena tubuhnya terinjak. Sampai akhirnya kedua kambing itu selamat sampai tujuan. Tentunya akan lain cerita jika kedua ekor kambing saling bertahan, saling seruduk, dan baku hantam.

Fabel di atas memberikan muatan pelajaran yang penuh hikmah. Sebuah pelajaran dari dunia hewan untuk direnungkan oleh makhluk yang paling sempurna bernama manusia. Bahwa hidup akan terasa sesak ketika manusia saling mengunci. Bertahan dengan ego dan pendapatnya. Merasa benar sementara yang lain salah. Tapi ketika hidup saling membuka, segala masalah akan terurai. Meski harus ada yang menahan derita. Karenanya harus ada kemauan, kerendahan hati, dan rela berkorban.

Namun llmu yang tinggi dan pengalaman yang luas kadang tidak menjamin pemiliknya rendah hati dan berjiwa besar. Begitupun dengan kekuasaan yang diemban tak semestinya dijadikan sebagai alat untuk bertindak sesuka hati.

Hidup yang saling mengunci akan menyebabkan kebuntuan yang berlarut-larut. Akan berujung pada kebencian dan fanatisme sempit yang akan membelah persatuan dan persaudaraan. Tidak ada masalah yang tidak bisa dicarikan solusinya. Tetapi jika saling mengunci maka masalah akan semakin kusut dan sulit untuk diurai.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita menyaksikan banyak sekali perbedaan yang membuat orang saling mengunci. Perbedaan pandangan politik, sosial, agama, budaya, dan sebagainya kadang membuat seseorang terjebak dalam sikap saling benci dan memusuhi. Sikap merasa paling benar menjadi dasar seseorang untuk bertahan dengan argumennya. Kebijaksanaan dan keadilan yang menjadi landasarn pengambilan keputusan menjadi pudar karena sikap saling mengunci. Tidak lagi dapat membedakan antara kesalahan dengan kejahatan. Sehingga sikapnya menjadi tidak proporsional dan jauh dari semangat saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

Dalam ajaran Islam, terdapat nilai luhur yang mejadi pedoman dalam menjalin hubungan sesama manusia agar membuka diri dan tidak saling mengunci. Pedoman dalam pergaulan adalah taawun, tawazun, dan tasamuh.

Taawun adalah sikap saling bersinergi dengan kekuatan dan kemampuannya masing-masing. Saling membantu melepaskan kesulitan yang membelenggu orang lain. Membela kaum yang tertindas atau terdzalimi. Yang kaya menolong yang miskin, yang kuat dan berkuasa melindungi yang lemah dan tak berdaya. Dalam surat Al-Maidah ayat 2, Allah SWT berfirman: Dan saling tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan taqwa. “Dan jangan saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan”. Taawun menjadi ajaran Islam dan wujud akhlak mulia untuk menggapai keadilan dan kesejahteraan sosial dalam skala besar.

Sedangkan tawazun serupa dengan taadul, yaitu keseimbangan atau sebuah sikap adil dan proporsional dalam menyikapi sesuatu. Keadilan adalah nilai yang amat dekat dengan taqwa yang menjadi ukuran kemuliaan manusia di sisi Tuhan. Keadilan tidak memandang siapapun. Bahkan rasa tidak benci kepada orang lain tidak boleh membawa sikap yang tidak adil. Sebagaimana yang Allah firmankan dalam surat al-Maidah ayat 8:” Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa”.

Adapun tasamuh adalah semangat untuk saling menghargai dan sikap saling menghormati perbedaan. Baik itu perbedaan dalam betuk pemikiran ataupun perbuatan. Tasamuh alias semangat toleransi adalah wujud dari akhlak mulia untuk mengikis sikap paling mulia atau paling hebat dari yang lainnya. Dalam tasamuh ada pendidikan untuk bersikap sabar dalam menyikapi perbedaan. Ada nilai kerendahan hati untuk menahan diri menghakimi orang lain yang salah dalam menyampaikan pendapatnya. Tasamuh juga memberikan pelajaran tentang pemberian maaf atas kekeliruan yang dilakukan oleh orang lain. Tasamuh tidak hanya ditujukan kepada orang yang berbeda agama tapi juga saudara seagama yang berbeda jalan dan cara pandang dalam memahami agama. Selama cara pandang itu menyangkut perkara khilafiyah dan ijtihadiah.

Tiga pedoman di atas adalah jalan yang diajarkan agama untuk saling membuka bukan saling mengunci. Karena naluri manusia selalu menghendaki perdamaian bukan permusuhan dan kebencian. Namun, jika semangat untuk hidup dalam kedamaian tidak disertai dengan semangat untuk mengalah maka kedamaian dan ketentraman selamanya tidak akan terwujud. Mari kita saling membuka diri. Duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Tidak ada masalah yang tidak bisa di atasi. Kecuali kita memilih untuk saling mengunci

About the author

Saeful Bahri

Alumni dan guru Pondok Pesantren Daar el Qolam, Tangerang, Banten. Pernah belajar di UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten, Universitas Indonesia, dan Universiti Kebangsaan Malaysia. Selain mengajar di almamernya, ia juga menulis beberapa buku di antaranya Lost in Pesantren (2017), 7 Jurus Betah di Pesantren (2019), yang diterbitkan Penerbit Republika Jakarta.

Tinggalkan Komentar Anda