Adab Rasul

Tak Ada Hasil Baik Dari Sesuatu yang Tidak Baik

Written by B.Wiwoho

Kita sering mendengar, dan banyak orang mengutuk sebuah doktrin politik, “tujuan menghalalkan cara,” yang diajarkan Niccolo Machiavelli (1469 – 1527) di abad ke 16 di Italia. Doktrin politik yang dituangkan dalam bukunya Il Principe (Sang Penguasa) sempat dikutuk banyak orang, bahkan sampai sekarang, karena dianggap tak bermoral. Meskipun demikian, dalam kenyataannya, banyak orang dan penguasa yang mempraktekkan.

Jauh sebelumnya, ulama Al Ghazali (1058 – 1111) juga sudah menulis dan memberikan Nasihat Bagi Penguasa (al-Tibr al-Masbuq fi Nashaih al-Muluk), namun dengan arahan yang sebaliknya. Para penguasa harus berpegang pada nilai-nilai moral, kemuliaan dan keadilan serta menghindari hal-hal buruk.  Intinya berpedomanlah pada sesuatu yang baik, yang thoyib.

Ia menggabungkan negara dan moral menjadi “Negara Bermoral”, yang dinamakan “Siyasatul Akhlak.” Sama dengan para pemuka Kristen, ia berpendapat bahwa unsur agama harus diperoleh dan dipertahankan dalam negara. Namun demikian tidak berarti perlu “Negara Agama”, bahkan Al Ghazali menentang negara dipimpin dan dikendalikan oleh pendeta atau guru agama, (Etika Dan Moral Kepemimpinan, Ahmad Mubarok dan B.Wiwoho, Bina Rena Pariwara 2003).

Perihal sesuatu harus berasal dari yang baik, Abu Hurairah  menuturkan sabda Rasulullah saw., “Sesungguhnya Allah Mahabaik, tidak menerima kecuali yang baik. Kemudian beliau menyebutkan ada seseorang melakukan perjalanan jauh dalam keadaan kusut dan berdebu. Dia mengangkat kedua tangannya ke langit seraya berkata, ‘Ya Tuhanku, ya Tuhanku,’ padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan kebutuhannya dipenuhi dari sesuatu yang haram, maka (jika begitu keadaannya) bagaimana doanya akan dikabulkan.” (Riwayat Muslim).

Hadis tersebut diperkuat dengan firman Allah yang  memerintahkan kepada kaum mukminin sebagaimana perintah kepada para Rasul, “Wahai sekalian para Rasul, makanlah yang baik-baik dan beramal solehlah, sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan (Q.S al-Mukminun:51)

Hadits yang diungkapkan Abu Hurairah di atas  juga menunjukkan bahwa Allah memiliki nama-nama yang indah dan baik. Mahabaik dalam segala hal,  dalam dzat-Nya, sifat-sifat, maupun perbuatan-Nya. Allah tersucikan dari segala macam bentuk aib, cela, dan kekurangan. Tidak serupa dengan makhluk. Tidak ada sesuatu pun yang menyamainya.

Perbuatan Allah seluruhnya baik. Apa yang Allah takdirkan pasti baik dan mengandung hikmah. Allah Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik. Karena itu, ibadah yang diterima Allah adalah hanya ibadah yang thoyib, yang baik. Demikian pula sebaliknya,  doa atau pun ucapan yang tidak baik, tidak akan diterima kecuali doa dari orang yang terzalimi; amal perbuatan tidak akan diterima di sisi-Nya selain yang baik, dan keyakinan pun tidak diterima di sisi-Nya selain yang baik. Tidak ada seorang pun yang masuk surga selain yang sudah jelas baiknya.

Berdasarkan kaidah dan tatanilai itulah, maka para ulama sufi menggariskan kepada para murid, saliknya, bahwa tidak ada sesuatu yang baik yang dihasilkan dari sesuatu yang tidak baik atau thoyib apalagi haram. Thoyib dan haram bukan hanya sebatas pada kata benda, dalam hal ini makanan dan minuman, namun juga pada perbuatan dan cara dalam memproses sesuatu.

Pada suatu malam menjelang pertengahan tahun 1997,  di kamar depan yang terletak di antara masjid dan dapurnya, di Semengko – Mojokerto, Abah Thoyib berpesan kepada penulis, “Camkan ini, pikiran kita, keringat, darah, daging, tulang dan perbuatan kita akan dipengaruhi oleh makanan dan minuman yang masuk ke tubuh kita. Makanan dan minuman haram akan membuat darah kita panas. Semua bergejolak mencari-cari persoalan. Dan ingat, yang saya maksud haram di sini bukan hanya terbatas pada daging babi, bangkai dan minuman keras saja, tetapi pada semua jenis rezeki yang diperoleh secara tidak halal dan tidak thoyib, yang tidak dengan jalan yang baik.” Oleh karena itu pula Abah khawatir , kita bangsa Indonesia nanti akan bergolak, akan ribut berdarah-darah.

Tersentak dengan kekhawatirannya, penulis memancing Abah dengan cara mendebat, Abah tidak perlu khawatir berlebihan, karena orang Indonesia sekarang makin rajin beribadah. Di berbagai daerah banyak dibangun masjid. Di bulan Ramadhan salat tarawih bersesak-sesakan. Jemaah umrah dan haji terus bertambah.

Namun itulah yang justru dikuatirkan Abah, karena bertambahnya kaum munafik yang bukan hanya menipu sesamanya tetapi juga menipu Allah Yang Mahatahu. Mereka itu ganteng-ganteng dan cantik-cantik, bajunya bagus-bagus, namun itu berasal dari rezeki (dan perbuatan) yang diharamkan Allah.

Darah mereka akan bergolak panas menghasilkan pikiran dan perbuatan yang panas, yang jahat. Rezeki seperti itu  membuat yang bersangkutan sulit menerima kebenaran, susah jika diberi nasihat kebaikan. Percayalah, hukuman Allah akan datang kepada mereka, ujarnya. (B.Wiwoho, Bertasawuf di Zaman Edan, Penerbit Republika 2016).

Peringatan Abah Thoyib mengingatkan kita pada sejumlah hadis tentang berbagai hal yang tidak thoyib apalagi haram, misalkan kutukan malaikat kepada siapa yang di dalam tubuhnya ada zat-zat yang seperti itu, yang tidak akan diterima amal-amalnya. Dalam hadis riwayat Ibnu Umar dan Ahmad, Rasulullah bersabda, “Siapa saja yang membeli pakaian dengan sepuluh dirham, sedang di dalamnya terdapat dirham dari sesuatu yang haram, maka Allah tidak akan menerima salatnya selagi pakaian itu ada pada dirinya.”

Semoga kita senantiasa dijauhkan dari segala hal yang tidak thoyib dan yang haram, senantiasa memperoleh hidayah dan inayah-Nya, memperoleh petunjuk dan pertolongan-Nya. Amin. 

Allahumma shalli wa sallim ‘ala Muhammad.

About the author

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • hamka
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • 23-april-19972-1024x566
  • Hamka
  • tabloid-panjimasyarakat