Tasawuf

Shalawat Asyghilizh, Doa Menghadapi Zaman Penuh Kezaliman

Written by B.Wiwoho

Belakangan ini kita sering mendengar kumandang shalawat yang dikenal sebagai Shalawat Asyghilizh (Asyghil). Shalawat ini dipopulerkan oleh ulama-ulama di abad ke 13 tatkala kekuasaan Bani Abbasiyyah digilas oleh 200.000 tentara Mongol, Khalifah Mus’tasim di penggal kepalanya, dan kota Bagdad diluluhlantakan. Seluruh warga kota dibunuh kecuali segelintir yang berhasil meloloskan diri. Tentara? Ditumpas habis. Dalam situasi seperti itulah para ulama sufi, tampil menggerakkan perlawanan rakyat seraya mengumandangkan shalawat tersebut.

Sahabatku, guna menyegarkan ingatan sejarah, ijinkanlah saya mengangkat kembali tulisan lama yang pernah dimuat di Facebook tahun 2011, di blog Tasawuf Jawa dan kemudian diterbitkan dalam buku Bertasawuf di Zaman Edan, Penerbit Republika 2016 sebagai berikut:

“Beberapa sahabat mengeluhkan hiruk pikuk keadaan sosial politik di tanah air beberapa tahun belakangan ini, dan menanyakan doa atau zikir apakah yang sebaiknya kita panjatkan kepada Gusti Allah agar kita segera memperoleh pertolongan-Nya, serta diselamatkan dari kezaliman para elite yang tidak amanah, bahkan munafik dan zalim.

Saya jadi teringat, Ustadz K.H. Moehammad Zain dari Bekasi, yang sejak tahun 2004, dalam berbagai pertemuan sering mengajak para hadirin untuk melantunkan sebuah shalawat, yang sering saya dengar dikumandangkan di masjid-masjid Betawi – Jabodetabek tetapi jarang saya dengar di daerah lain.

Saya juga pernah bertanya kepada Prof. K.H. Ali Yafie, apa yang beliau ketahui tentang shalawat tersebut. Menurut beliau, shalawat itulah yang digelorakan oleh ulama-ulama tasawuf dunia Arab khususnya Iraq tatkala Iraq diluluhlantakan oleh pasukan Mongol Hulagu Khan.

Sejarah mencatat, pada tahun 1258M, lebih dari 200 ribu tentara Mongol menyerbu Iraq serta menumbangkan kekuasaan Bani Abbasiyyah, bahkan khalifahnya yaitu Al-Mus’tasim dipenggal kepalanya.

Mengerikan sekali. Bukan hanya istana yang dihancurkan, tapi seluruh bangunan di Baghdad diratakan dengan tanah, seluruh warga kota dibunuh, kecuali segelintir yang berhasil meloloskan diri, semua buku-buku perpustakaan terbesar di dunia, dimusnahkan dan dibuang ke Sungai Tigris, sampai-sampai air sungai berwarna hitam oleh tintanya.

Praktis pada masa itu Asia Tengah dikuasai Mongol dan tentara Islam hancur. Di saat seperti itulah bangkit para pahlawan tasawuf. Mereka mengorganisir kelompok-kelompok gerilyawan dan bersama Pasukan Mameluk dari Mesir, berhasil membendung ekspansi Pasukan Mongol, bahkan untuk pertama kalinya mengalahkan mereka dalam pertempuran dahsyat yang dikenal sebagai Pertempuran Ain Jalut di Palestina pada 3 September 1260.

Sungguh Gusti Allah Maha Adil, Hulagu Khan yang menghancurkan kekhalifahan Islam dan kemudian mendirikan Dinasti Ilkhan, sang cucu Ahmad Teguder, yang menjadi raja ke-3 dinasti tersebut, justru memeluk Islam, sayang sekali ia hanya berkuasa selama dua tahun (1282-1284) karena dibunuh oleh saudaranya.

Alhamdulillah, Raja ke-7 yaitu Ghazan (1295-1304), memeluk Islam menjadi Mahmud Ghazan. Mulai periode kekuasaannyalah, posisi umat Islam kembali memperoleh keleluasaan, dan peradaban Islam dibangun kembali meski harus mulai dari nol lagi.

Dalam masa-masa kritis seperti itu, tatkala kekuatan militer secara formal tidak berfungsi, para pahlawan sufi tidak berpangku tangan, tapi terjun langsung ke masyarakat mengorganisir serta menggelorakan semangat juang sambil mengumandangkan shalawat :

”Allahumma shalli ’ala sayyidina Muhammad,
wa asyghilizh zhaalimien bizh zhaalimien (2X)
wa akhrijnaa min bainihim saalimien,
wa’ala aalihi washahbihi ajma’ien”

Semoga rahmat dan berkah Allah dicurahkan kepada Nabi Muhammad Saw
Ya Allah, adu dombalah orang-orang zalim dengan sesama orang zalim (2X)
Dan keluarkanlah kami dari mereka dalam keadaan selamat.
Semoga rahmat dan berkah Allah dicurahkan kepada keluarga dan para pengikut setia Rasullah Saw”. Amin.

2xاللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَأَشْغِلِ الظَّالِمِينَ بِالظَّالِمِينَ . وَأَخْرِجْنَا مِنْ بَيْنِهِمْ سَالِمِينَ وَعلَى الِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِي

Ingin mencoba?

About the author

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda