Adab Rasul

Mimpi Umar bin Abdul Aziz Tentang Pembunuhan

Dalam kepemimpinan Islam  dikenal ada lima khalifah yang  termasyhur dan dimuliakan, terpuji adab serta perilakunya, yakni memimpin berturut-turut Abubakar Shiddiq (632 – 634M), Umar bin Khattab (634 – 644M), Utsman bin Affan (644 – 656M) , Ali bin Abi Thalib (656 – 661M)  dan 56 tahun berikutnya Khalifah Umar bin Abdul Aziz (717 – 720M).

Tentang kelima khalifah tersebut banyak kisah menarik yang dituturkan sahabat-sahabatnya, yang bisa dijadikan suri tauladan dalam kehidupan. Kali ini penulis ingin menukilkan satu contoh yang relevan dengan keadaan kita dewasa ini, sebagaimana diriwayatkan Abu Hazim, yang melihat Umar bin Abdul Aziz tertidur setelah menghadapi masalah besar. Mendadak Umar menangis dalam tidurnya, tapi sesaat kemudian tertawa.

Setelah dia bangun, Abu Hazim bertanya, “Apa yang telah terjadi, kenapa dalam tidur engkau menangis, lalu sesaat kemudian tertawa.?” “Apakah anda mengetahui kejadian itu?” ia balik bertanya. “Ya benar. Bahkan semua orang yang di sekitarmu ini mengetahuinya,” jawabku.

Maka Umar bin Abdul Aziz berkata, “Saya bermimpi seolah-olah hari kiamat telah tiba. Semua manusia berbaris terbagi menjadi seratus duapuluh barisan. Delapan puluh baris di antaranya adalah dari Muhammad. Tiba-tiba  ada seruan memanggil Abdullah bin Abu Quhafah (nama asli Abu Bakar Shiddiq). Maka bangkitlah ia seraya disambut malaikat, lalu dihadapkan kepada Tuhan dan dihisab dengan sangat mudah. Kemudian dia dibawa ke surga.

Demikian pula kedua kawannya, Umar dan Ustman. Berikutnya dipanggil Ali bin Abi Thalib, juga dihisab sangat ringan, lalu dibawa ke surga. Tatkala tiba giliranku dan dipanggil namaku,  mengucurlah peluhku. Aku dibawa para malaikat untuk dihadapkan kepada Allah. Maka aku ditanya tentang semua hukum putusanku, kemudian dimaafkan bagiku, serta dibawa aku ke sebelah kanan. Tiba-tiba aku melihat bangkai yang terbuang di jalanan, sehingga aku bertanya kepada malaikat, “Bangkai siapa ini?”

“Tanyakanlah kepadanya, ia akan menjawab,” balas malaikat. Lalu bangkai itu aku tendang dengan kakiku,  dan ketika ia telah mengangkat mukanya, aku bertaya, “Siapakah engkau?”. Dia pun bertanya, “Siapa kamu?”.  “Umar bin Abdul Aziz,” jawabku.  “Bagaimana keadaanmu?” tanyanya lagi. “Aku mendapat karunia rahmat Allah sebagaimana yang didapat oleh para sahabat nabi saw,” jawabku. “Untunglah kamu,” kata dia. “Dan kamu siapa?” tanyaku kemudian. “Aku Al Hajjaj bin Yusuf. Ketika aku menghadap Allah, Dia murka kepadaku. Maka dia bunuh aku tiap-tiap pembunuhan yang aku lakukan dahulu, satu per satu, dan telah membunuh padaku karena aku membunuh Said bin Jubair tujuh kali pembunuhan, dan kini aku menunggu sebagaimana yang dinantikan oleh orang yang bertauhid dari Tuhan mereka, ke surga atau ke neraka,” jawab Al Hajjaj. Demikian Umar bin Abdul Aziz menceritakan mimpinya. (Drs.H.M.Sya’roni, “Membuka Aib Saudara,”dari kitab Durratun Nashihin dan Irsyadul Ibad,  Mutiara Pustaka 1999).

Al Hajjaj bin Yusuf adalah penguasa, politisi, dan menteri pertahanan dari kekhilafahan Umayyah yang hidup pada  661 M/ 40 H – 714 M/ 95 H. Dia merupakan sosok yang kontroversial dan pelik dalam sejarah awal umat Islam, yang dikenal sebagai seorang penguasa yang cerdas namun keras dan sangat kejam, yang bertanggung jawab atas kematian ribuan jiwa.

Sahabat-sahabatku, dalam beberapa bulan terakhir ini kita mendengar serta membaca sejumlah peristiwa pembunuhan anak manusia, di beberapa daerah di tanah air. Dalam kaitan itu, ijinkanlah penulis menghimbau, jangan sedikitpun senang, mentertawakan apalagi mensyukuri peristiwa pembunuhan. Tak peduli siapapun korban, dan apapun alasannya. Sebab bukan tidak mungkin hal seperti itu bisa menimpa siapa saja termasuk diri kita dan orang-orang yang kita cintai, bahkan juga pada diri si pembunuh dan keluarganya. Kali ini menimpa si A, si B, si C. Besok, lusa??? Naudzubillah.

Tuhan yang seluruh jiwa, nasib dan kehidupan hamba-hamba ciptaan-NYa senantiasa berada dalam genggaman-Nya, memberi perumpamaan terhadap seorang pembunuh sebagai berikut: “…barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya…” (QS. Al-Maidah: 32).

Tentang dasar keharaman membunuh, selain ayat tersebut, masih ada ayat al-Qur’an dan hadis yang menyatakan keharaman membunuh tanpa suatu sebab yang dihalalkan syarak. Rasulullah bersabda, ”Pembunuhan terhadap seorang mukmin menurut Allah membandingi pemusnahan dunia” (HR. Ibnu Majah dari Al Barra). Berdasarkan ayat-ayat dan hadits yang melarang menghilangkan nyawa orang lain yang disebutkan di atas, ulama sepakat menyatakan bahwa perbuatan menghilangkan nyawa orang lain tersebut hukumnya haram.

Kanjeng Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih lanjut menjelaskan besarnya dosa pembunuhan, “Lenyapnya dunia lebih ringan di hadapan Allah  daripada membunuh seorang Muslim. (HR at-Tirmidzi dan an-Nasâ`i dan dishahîhkan al-Albâni dalam Shahîh at-Targhîb wa at-Tarhîb no. 2438).

Larangan ini tidak hanya berlaku pada jiwa kaum muslim, namun juga pada semua jiwa yang dilindungi dalam syariat Islam, sebagaimana dijelaskan Rasulullah , “Siapa yang membunuh orang kafir yang memiliki perjanjian perlindungan (mu’âhad), maka tidak mencium wanginya surga. Sungguh wangi surga itu tercium sejauh jarak empat puluh tahun (HR al-Bukhâri).

Demikianlah , ayat dan hadis yang pada dasarnya melarang sesama umat manusia untuk saling membunuh. Allah menciptakan manusia dan menurunkan benih ke dalam rahim ibu bukan untuk saling membunuh tapi untuk  saling berlomba menegakkan kebaikan, mewujudkan rahmat bagi semesta alam dan berlomba dalam ketaqwaan kepada-Nya. Betapa pedih hati ibu menerima kenyataan anak yang dikandung dan disusuinya dibunuh orang.  

Satu hal yang paling sederhana sebetulnya adalah bagaimana kita ber teposeliro, mengukur diri seandainya hal itu terjadi pada diri kita, pada ibu kita dan  orang-orang yang kita cintai. Apakah hal itu tidak mungkin. Siapa bilang? Maaf, jangan takabur. Naudzubillah.

Allahumma shalli wa sallim ‘ala nabiyyina Muhammad.

About the author

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda