Tasawuf

Kumpul Bareng Alim Soleh

Agama seseorang itu mengikuti agama temannya. Maka salah seorang  di antara kalian harus selalu memperhatikan dengan siapa dia berteman.

Bergaul dengan orang saleh, alias alim soleh kumpulono, merupakan jalan kelima yang mesti ditempuh seseorang  untuk mencapai derajat kesalehan. Dengan bergaul dengan orang alim nan saleh, diharapkan seseorang akan ketularan jadi orang saleh pula. Ibarat kita masuk kumpulan orang-orang yang wangi, maka kita akan tercium wangi pula.Ya sama, misalnya, jika Anda masuk kandang ayam,   Dan konon ke mana pun orang saleh melangkah maka dia akan bertemu dengan orang yang saleh pula.

Berkata Umar ibn Khaththab r.a.,  “Engkau harus bersahabat dengan orang yang  jujur, sebab engkau akan berada di sisi mereka, sebab mereka merupakan hiasan ketika dalam kesenangan, dan menjadi bekal pada saat bencana. Dudukkan urusan temanmu sesuai dengan kebaikan-kebaikannya, sampai dia membawakan untukmu sesuatu yang engkau benci dari dirinya  Dan tidak ada sahabat terpercaya kecuali orang yang takut kepada Allah. Janganlah engkau bergaul dengan orang durjana – dikhawatirkan engkau belajar pada kedurjanaannya. Dan janganlah engkau bergaul dengan orang durjana – dikhawatirkan engkau belajar pada kedurjanaannya. Dan jangan engkau membuka rahasiamu kepadanya. Mintalah nasihat kepada mereka yang sangat takut kepada Allah.”

Ibnul Qaiyim al-Jauziyah, mengutip pendapat para ulama, mengemukakan enam manfaat bergaul dengan orang-orang saleh,  yaitu dapat mengubah diri kitai :

  • Dari ragu-ragu menjadi yakin
  • Dari riya  menjadi ikhlas
  • Dari lalai menjadi ingat (zikir)
  • Dari cinta dunia menjadu cinta akhirat
  • Dari sombong menjadi tawadhu (rendah hati)
  • Dari buruk perangai menjadi orang yang  siap menerima nasihat

Hadis berikut ini mengungkapkan bahwa di akhirat pun sahabat-sahabat kita yang saleh di dunia masih ingat kepada kita.

“Ketika Allah telah membersihkan orang-orang mukmin dari neraka, sedangkan mereka tetap beriman,  tidak pernah ada perdebatan salah seorang di antara kalian dengan temannya dalam masalah haknya di dunia lebih sangit daripada perdebatan orang-orang mukmin itu dengan Tuhan mereka, tentang nasib teman-teman mereka yang telah dimasukkan ke neraka. Mereka berkata, ‘Tuhan, teman-teman kami dahulu juga salat, puasa, dan berhaji bersama kami, kemudian Engkau memasukkan mereka ke neraka.’ Dia (Allah) menjawab, ‘Pergilah dan keluarkanlah di antara mereka orang yang kalin kenali.’ Lalu orang-orang mukmin itu mendatangi sahabat-sahabat mereka, dan berusaha mengenali wajah mereka. Ada yang wajahnya tidak tersentuh api alias utuh. Ada juga yang sudah termakan hingga separo pundaknya. Sementara yang lainnya sudah terlalap hingga kedua mata kaki mereka. Kemudian mereka mengeluarkannya.  Mereka berkata, ‘Tuhan kami telah mengeluarkan orang yang telah Engkau perintahkan kepada kami.’ Dia )Alah) lalu berfirman, ‘Keluarkanlah orang yang dalam hatinya masih ada keimanan seberat satu dinar, lalu orang yang dalam hatinya masih ada keimanan seberat setengah dinar, lalu orang yang dalam hatinya masih ada keimanan seberat satu biji sawi’.” (H.R. Riwayat Ibn Majah)

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda