Tafsir

Tafsir Tematik: Misi yang Mulia dan Sederhana (3)

Written by Panji Masyarakat

Amar makruf nahi mungkar  berhukum fardu kifayah. Sebab Amar makruf nahi mungkar tidak cocok kecuali untuk orang yang tahu apa yang makruf dan apa yang mungkar, tahu pula prioritas masalah  dan tahu menegakkannya.

Hendaklah ada dari  kalian suatu umat yang menyerukan kebaikan dan memerintahkan yang makruf serta mencegah dari yang mungkar. Merekalah orang-orang beruntung. (Q. 3: 104).

Hanya Para Ulama

Syahdan. Dalam pengertian sementara pencatat, perintah ayat ini ditujukan kepada para warga suku-suku Aus dan Kahzraj, dua komponen penduduk asli Madinah. Tetapi perintah kepada mereka adalah perintah kepada seluruh umat mukmin sampai hari kiamat – jadi dalam ushul fiqh, redaksi seperti itu merupakan “penujuan khusus dengan maksud umum”. Tapi bisa juga sebaliknya: ini penujuan umum, dan dalam yang umum itu masuk Aus dan Khazraj (Abu Haiyan: II: 20). Tetapi apakah yang umum itu membebankan kewajiban yang dibawanya kepada tiap kepala? Apakah amar makruf nahi mungkar harus dilakukan oleh setiap muslim?

Sebagian pendapat menyatakan, tidak. Itu sudah jelas dari kata-kata “dari kalian” (minkum) di awal ayat. Min (dari) di situ dipakai untuk penunjukan parsial (tab’iidh). (Zamakhsyari, I: 432). Adh-Dhahhak bahkan menganggap bahwa, baik bisa diterima maupun tidak, ayat ini ditujukan khusus kepada para sahabat Nabi s.a.w.,  “sebab merekalah yang belajar dari Rasul ‘alaihis salam dan mengajar orang.” Maka takwil ayat itu menjadi: “Jadilah kamu (para sahabat) suatu kelompok (umat) yang besepakat dalam memelihara sunah Rasul dan pengajaran agama.” (Al-Fakhrur Razi, VIII: 182).

Yang lain lagi menganggap perintah amar makruf nahi mungkar itu ditujukan kepada para ulama dan penguasa. Seperti juga dengan yang di atas, makna ayat lalu menjadi: “Hendaklah ada sebagian kamu…. “ (Khazin, I: 268). Itu berarti bahwa amar makruf nahi mungkar berhukum fardu kifayah , yang kalau sudah ditunaikan sebagian orang gugur dari yang lain. “Sebab amar makruf nahi mungkar tidak cocok kecuali untuk orang yang tahu apa yang makruf dan apa yang mungkar, tahu pula prioritas masalah  dan tahu menegakkannya,” demikian Zamakhsyari.

Orang bodoh, kata pengarang Kasyaf  ini, barangkali justru akan melarang yang makruf dan memerintahkan yang mungkar. Bisa juga ia tahu hukum tetapi hanya menurut mazhabnya sendiri, sementara buta mengenai mazhab saudaranya, lalu melarang sesuatu yang sebenarnya bukan kemungkaran. Bisa juga ia bersikap keras dalam perkara yang ringan dan justru ringan dalam hal yang berat. Atau menyatakan pengingkarannya terhadap sesuatu sehubungan dengan seseorang yang tidak akan menanggapi tindakannya kecuali dengan pertengkaran. Atau melakukan pelarangan yang sia-sia, seperti kepada para penghalang jalan dengan cukai paksa (pungli)-nya. (Zamakhsyari, loc.cit.).

Razi bisa menambahkan: kata min (dari) dipakai karena di antara orang-orang terdapat mereka yang tidak dapat berdakwah  maupun beramar makruf nahi mungkar  — seperti, katanya, para wanita, orang sakit, orang jompo; dan karena  beban itu ditujukan hanya kepada ulama. (Razi, loc.cit.).            

Bersambung Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 28 Oktober  1998.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda