Tafsir

Tafsir Tematik: Misi yang Mulia dan Sederhana (2)

Written by Panji Masyarakat

Hendaklah ada dari  kalian suatu umat yang menyerukan kebaikan dan memerintahkan yang makruf serta mencegah dari yang mungkar. Merekalah orang-orang beruntung. (Q. 3: 104).

Mengacaukan Alquran

Teknis skriptural, ada perbedaan pembacaan dalam ayat itu. Pertama, mayoritas imam qiraat membaca kata-kata pertama ayat (“hendaklah ada”) sebagai waltakun. Tetapi Abu Abdir Rahman, Al-Hasan, Az-Zuhri, Isa ibn Umar dan Ibn Haiwah membacanya walitakun {“supaya ada”). Itu tidak mengubah makna.

Kedua, Abdullah ibn Az-Zubair dan Utsman ibn Affan menambahkan, dalam bacaan mereka, kata-kata “dan memohon pertolongan (kepada) Allah terhadap  yang menimpa mereka”(wa yasta’iinuunallaha – atau wa yasta’iinuuna billaahi – ‘alaa maa  ashaabahum) di belakang “memerintahkan yang makruf dan mencegah (orang) dari yang mungkar” (ya’muruuna bil-ma’rufi wa yanauna ‘anil munkar).

Itu serius. Tambahan seperti itu tidak ada dalam semua mushaf resmi. Kata-kata itu sendiri mengandung isyarat mengenai gangguan yang bisa diterima seorang pekerja amar makruf nahi mungkar, seperti difirmankan dalam Q. 31: 17: “…. dan diperintahkan yang makruf, cegahlah dari yang mungkar, dan bersabarlah terhadap yang menimpamu (akibat pelaksanaan tugas itu;  pen) “ (Abu Haiyan, II: 20,21). Di situ ada kemungkinan kejumbuhan atau ketercampuradukan.

Dan itu memang bisa dijelaskan, misalnya oleh Abu Bakr ibn Al-Anbari. Menurut kesimpulannya, tambahan itu sebenarnya adalah tafsir Ibn Az-Zubair – salah satu ucapannya. Tetapi, “sebagian pengutip (layaknya dari imlak; pen) berbuat keliru dengan menyambungkannya dengan lafal-lafal Alquran. Yang jelas, berita bahwa Utsman juga membaca ayat tersebut begitu, sementara ia tidak menuliskannya di mushafnya (padahal khalifah inilah yang melancarkan proyek penyatuan ejaan penulisan naskah Quran; pen) menunjukkan bahwa anak kalimat itu memang bukan Alquran (Syaukani, loc.cit).

Jadi, kalau seorang qari kita, demi memperagakan penguasaannya akan perbeda-bedaan pembacaan, misalnya memasukkan tambahan yang syadzdz (menyimpang) itu, yang memang terdokumentasikan dalam ilmu qiraat, ke dalam salah satu versi yang dibawakannya, di situlah pentingnya keterangan ini sebagai teguran. Ini termasuk untuk semua versi kecil yang tidak bisa tunduk kepada rasm utsmani, bentuk tulisan standar Khalifah Utsman yang disepakati. Jangan mengacaukan Alquran  yang ada dalam kepala dan hati umat muslimin. .             

Bersambung

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 28 Oktober  1998      

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda