Cakrawala

Dakwah di Era Digital

Written by Arfendi Arif

Era digital membawa banyak perubahan terhadap aktifitas dalam masyarakat. Dalam bidang bisnis begitu drastis perubahannya,  dimana transaksi perdagangan dilakukan secara online. Pedagang dan pembeli tidak lagi bertatap muka, namun  cukup via online dan ponsel, pesanan bisa di antar langsung ke rumah. Ini adalah sebuah contoh saja dari sekian banyak perubahan yang terjadi di era revolusi digital sekarang ini.

Perubahan juga dirasakan dalam bidang dakwah dan syiar agama. Jika sebelumnya dakwah bersifat tatap muka antara para da’i dan jamaah, berkumpul di masjid, sehingga perlu sedikit energi untuk melakukannya. Jamaah datang ke rumah ibadah,  berjalan kaki atau naik kendaraan. Demikian juga yang dilakukan da’i dan  mubaligh perlu sedikit  tenaga ekstra untuk menyampaikan dakwah.

Namun, kini di era teknologi digital menikmati dakwah jauh lebih mudah. Baik para da’i maupun jamaah cukup bermodal gawai bisa mendengarkan   dakwah agama dengan berbagai macam materi dan metodenya. Demikian juga daya jangkau   dakwah digital cukup luas baik dari segi kuantitas pemirsa maupun secara geografis semuanya bisa dicakup.

Berkah dari revolusi teknologi komunikasi ini juga telah melahirkan banyak da ‘i dan mubaligh kondang. Dua di antaranya yang melambung namanya adalah Ustadz Dasa’ad Latif dan Ustadz Abdus Somad. Padahal, sebelumnya ia hanya  dikenal di tingkat lokal saja. Demikian juga beberapa nama lain seperti Ustadz Haikal,  Ustadz Tengku Zulkarnain dan lainnya.

Tetapi, dakwah digital bukan tidak ada masalah, karena antara  audiens dan pembicara tidak berada dalam satu ruang yang saling berhadapan, maka pemahaman dakwah bisa terjadi kurang  mendalam. Jika ada hal yang diragukan oleh jamaah tidak bisa minta penjelasan secara langsung. Dan ini tentu bisa mengakibatkan kekurang dalaman dalam pemahaman.

Dalam dakwah digital tidak ada pembagian audiens berdasarkan tingkat pengetahuannya. Ibarat belajar dalam kelas tidak ada kelas SD, SMP, SMA maupun yang sudah di perguruan tinggi. Dakwah disampaikan secara terbuka tergantung minat audiens untuk mendengarnya. Minat ini bisa saja ditentukan karena materi dakwahnya maupun karena nama mubalighnya yang populer.

Konsekuensi dari situasi seperti digambarkan di atas adalah bisa saja dakwah itu tidak mendapatkan sambutan dari pemirsa, tetapi bisa juga ada yang meminati namun dengan pemahaman yang kurang memadai sehingga timbul salah cerna karena belum memiliki dasar-dasar pengetahuan agama yang kuat.

Kedua, dakwah yang disampaikan secara digital terkadang bisa disalah pahami oleh kelompok lain, bahkan oleh kalangan sendiri yang tidak paham secara detil. Misalnya penggunaan kata ” kafir” yang sebelumnya tidak ada masalah, belakangan pernah dipersoalkan,  dianggap menyinggung kalangan agama tertentu, sehingga ada yang mengusulkan diganti kata “non muslim” untuk kata kafir, padahal kata ini ada dalam Al_Quran.

Demikian juga kata jihad, sering diartikan perang, padahal tidak selamanya jihad berarti perang  Bisa saja makna jihad adalah kerja  sungguh-sungguh, kerja keras  dan berjuang. Dalam dakwah melalui digital kesempatan dialog untuk memperjelas masalah relatif sulit sehingga pemahaman selanjutnya tergantung persepsi audiens atau pendengar.

Dakwah yang diproduksi melalui digital memang mudah disebarluaskan. Tiap orang yang mendengar dakwah melalui  ponsel dapat menshare atau menyebarluaskan kepada orang lain di medsos sehingga dibaca banyak orang. Kalau yang diekspos dakwah agama yang lurus dan sesuai dengan ajaran agama yang benar, tentu tidak masalah. Persoalannya menjadi lain kalau dakwah itu berisi paham yang menyimpang dan menyesatkan, tentu akan merusak dan berbahaya bagi kehidupan. Misalnya, panggilan azan yang dirubah menjadi “hayya alal jihad ” yang belakangan viral dan akhirnya berurusan dengan pihak berwajib.

Ketiga, dalam dakwah digital dengan pemirsa yang massif, peluang dan potensi kontroversial ,serta pro dan kontra cukup besar. Terutama jika pelaku dakwah membahas masalah yang bersifat khilafiyah, masuk ke  wilayah bersifat politik, dan apalagi jika dinilai mubaligh punya kecenderungan “berpihak” dalam melihat masalah politik dan kebijakan negara.  Hal ini akan menimbulkan keterbelahan dalam masyarakat.  Situasi seperti ini tentu tidak menguntungkan. Dalam era keterbukaan dan ketelanjangan informasi melalui medsos  saat ini, apapun akan dikomentari oleh masyarakat. Disinilah subur berkembang pro dan kontra yang mengarah pada saling menghujat dan rapuhnya persatuan bangsa.

Isu agama merupakan hal yang paling sensitif dan peka. Mudah menimbulkan ketegangan dan konflik. Karena itu diperlukan sikap bijak dalam mempublish dan mensyiarkan kegiatan dakwah via elektronika.

Menurut saya, penyebaran dakwah digital perlu memperhatikan beberapa hal mendasar, terutama dengan melihat situasi terkini yang dihadapi bangsa secara politik, ekonomi dan sosial.

Pertama, dakwah sebaiknya  menekankan pada semangat persatuan dan integrasi sosial bangsa.  Sejak adanya pilpres, masyarakat terbelah dan terpecah. Melalui media sosial masing-masing simpatisan saling hujat, merendahkan dan bertikai. Situasi ini berlangsung hingga sekarang, ditambah perpecahan ini terjadi pula  dalam menyikapi UU KPK dan UU Cipta Kerja. Perlu dijelaskan, di era digital ini muncul istilah buzzer yang membuat situasi makin panas, karena provokasinya untuk menjatuhkan dan menyanjung seseorang, kelompok maupun tokoh.

Kedua, dalam situasi sulit karena keterpurukan ekonomi sebagai dampak Covid 19 dan lainnya, dakwah sebaiknya berperan membangun rasa kebersamaan, tolong menolong, terutama terhadap kalangan ekonomi lemah dan mereka yang paling rentan terpukul oleh sempitnya  dan terhambatnya  mata pencaharian dan kegiatan berusaha.

Ketiga, dakwah sebaiknya ditekankan  pada himbauan beramal saleh dan perbuatan amal kemanusian, yang hal ini secara kongkrit amat dibutuhkan dalam situasi kehidupan ekonomi yang tertekan dan banyaknya penderitaan masyarakat akibat terpapar wabah virus corona baik yang meninggal maupun diisolasi.

Keempat, dakwah yang ramah dan santun akan lebih diharapkan saat ini untuk membantu menciptakan keharmonisan dalam masyarakat,  bukan dakwah yang bernada keras dan menimbulkan situasi sosial yang kaku atau  rigid.

Tentu saja terbangunnya situasi yang kondusif dalam kehidupan bernegara dan berbangsa kita bukan hanya ditentukan oleh masyarakat, tetapi yang utama diprakarsai dan diberikan teladan oleh para elitnya, baik yang duduk di eksekutif, legislatif dan tokoh masyarakat. Kalau mereka mencontohkan akhlak dan perilaku yang baik maka masyarakat otomatis akan mengikuti. Allahu ‘alam bish- shawab

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda