Adab Rasul

Jangan Benci Atau Kagum Berlebihan

Entah kekuatan apa yang sedang merasuki sebagian masyarakat dewasa ini, sehingga media sosial banyak dipenuhi postingan yang di satu pihak sangat menyenangi , mengagumi sampai bagai memuja kelompok dan tokoh idolanya, di lain pihak sangat membenci bagai hendak melumat habis atau menelan hidup-hidup kelompok dan tokoh lawan.

Tokoh dan kelompoknya dipuja bak malaikat yang tanpa setitik noda, sampai-sampai air bekas cuci kakinya pun ibarat air sari bunga nan suci wangi semerbak. Sedangkan sang lawan yang berseberangan dihakimi, dicari –cari aibnya, dicaci-maki dengan sejuta umpatan dan sebutan jelek, disumpahi bak iblis yang tak punya setitik pun kebaikan – entek amek kurang golek – kehabisan ya ngambil lagi, kurang ya cari lagi. Orang-orang arif tempo dulu melarang kita berbuat seperti itu, dalam bahasa Jawanya nanti bisa keweleh, dibalikkan keadaannya oleh Allah sehingga kita malu luar biasa.

Junjungan kita Kanjeng Nabi Muhammad saw. mengajarkan agar kita mencintai seseorang atau sesuatu dengan sewajarnya, karena boleh jadi suatu hari bisa berbalik menjadi orang atau sesuatu yang kita benci. Demikian pula apabila kita tidak menyukai seseorang atau sesuatu, hendaklah yang sewajarnya saja, karena boleh jadi suatu hari apa yang kita benci berbalik menjadi yang kita cintai. (HR Tirmidzi).

Dari Abdullah bin Amr, Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh semua hati manusia berada dalam kekuasaan Allah yang Mahapengasih, seperti satu hati. Dia menggerakkan hati sesuai kehendak-Nya.” 

Kita tidak tahu masa depan dan hati seseorang apalagi kelompok, maka bisa jadi seseorang atau kelompok yang kita cintai atau kita puja, suatu hari terjadi masalah sehingga mengakibatkan perpecahan satu sama lain. Bertolak belakang dengan keadaan semula.

Selain larangan menyenangi sesuatu secara berlebihan, hadis tadi juga memberikan panduan agar orang Islam tidak berlebihan dalam membenci sesuatu, sesuai firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 216, “…..boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Keweleh, yang semula kita puja dan bela mati-matian berbalik menabur noda atau bahkan menghina-dinakan kita, sementara yang kita benci luar biasa, dengan kasih sayangnya menjadi dewa penolong kita

Allah melarang orang bersikap berlebihan, baik dalam hal ibadah maupun dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Apapun yang berlebihan itu tidak baik, sebagaimana tertuang dalam QS.Al-Maidah: 77, ”Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat sejak dahulu, dan mereka telah menyesatkan banyak (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.”

Peringatan lain tertuang dalam Surat Al-Araf ayat 31, “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah disetiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”.

Berdasarkan ayat-ayat dan keteladanan Rasulullah sehari-hari Khalifah Umar menasehati barang siapa: (1) menyingkiri berlebih-lebihan dalam bicara, maka dianugerahi hikmah; (2) menyingkiri berlebih-lebihan dalam melihat, maka dianugerahi hati nan khusyuk; (3) Menyingkiri berlebihan dalam makan, maka dianugerahi kelezatan ibadah; (4) menyingkiri berlebihan dalam tertawa, dianugerahi kewibawaan; (5) meninggalkan bergurau,  dianugerahi wibawa yang anggun; (6) menyingkiri kecintaan dunia, dianugerahi kecintaan akhirat; (7) menyingkir dari kesibukan meneliti aib orang lain, dianugerahi perbaikan aib dirinya sendiri; (8) meninggalkan pengintaian terhadap tata cara Allah, dianugerahi terhindar dari kemunafikan.(Imam Nawawi Al-Banteniy dalam Nashoihul ‘Ibad).

Maka, marilah kita patuhi perintah Allah Swt. dan kita teladani adab kehidupan serta perilaku Rasulullah agar kita jangan sampai menyenangi dan mengagumi sesuatu secara berlebihan, dan sebaliknya juga jangan membenci berlebihan. Yang terbaik adalah sedang-sedang saja. Tidak ada sesuatu di dunia ini yang sempurna. Tidak ada yang abadi. Kanjeng Nabi Muhammad saw. bersabda: “khairul umur ausathuha, urusan yang terbaik itu adalah yang di tengah-tengah.” Kemudian Rasulullah berdoa: “Ya Allah yang maha menggerakkan hati. Gerakkan hati kami untuk beribadah kepada-Mu.” (HR Muslim).

Allahumma shalli wa sallim ‘ala Muhammad.

About the author

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda