Tasawuf

Pujian Allah untuk Penggiat Malam

Ketahulilah bahwa kemuliaan seorang mukmin adalah karena dia melakukan sembahyag malam, sedangkan kehormatannya adalah karena dia tidak membutuhkan (menggantungkan diri kepada) orang lain  (H.R. Thabrani)

“Mengapa orang-orang yang melakkan sembahyang tahajud menjadi orang-orang yang berwujud paling bagus?” Demkian pernah ditanyakan kepada Al-Hasan al-Bashri

Ulama dan tokoh sufi besar di era kekhalifahan Abdul Malik dari Dinasti Umaiyah itu menjawab, “Karena mereka menyendiri bersama Yang Maha Pengasih, kemudian Dia menurunkan cahaya-Nya kepada mereka.” Pelopor gerakan hidup zuhud ini juga pernah mengatakan, “Saya belum pernah menemukan sesuatu yang lebih berat dalam beribadat melebihi salat tengah malam.”

Bagi para ahli ibadah, malam merupakan saat-saat yang bagus untuk menyaksikan keagungan dan kemuliaan Allah.  Nabi s.a.w.  bersabda, “Tuhan kami Tabaraka wa Ta’ala (Mahaberkat dan Mahatinggi) senantiasa turun di setiap malam ke langit dunia, ketika masih tersisa sepertiga malam terakhir. Dia berfirman, ‘Barang siapa meminta kepada-Ku, akan Aku kabulkan. Barangsiapa memohon ampunan-Ku, akan Aku ampuni’.” (Bukhari). Dalam hadis lain disebutkan, “Barangsiapa bangun malam hari, lalu membangunkan istrinya, lalu keduanya salat dua rakaat, mereka akan dicatat sebagai laki-perempuan yang banyak zikir kepada Allah.” (H.R. Abu Dawud).  Allah pun memberi pujian kepada penggiat qiyamul lail atau sembahyang malam. “Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; sedangkan pada dini hari memohon ampunan.” (Q.S. 51: 17-18).

Imam Al-Ghazali (Ihya Ulumiddin) mengutip sebuah hadis yang mewartakan bahwa seseorang menginformasikan kepada Rasullah tentang seseorang yang selalu tidur sepanjang malam hingga memasuki waktu pagi. Maka Rasulullah pun bersabda, “”Itulah orang yang telah dikencingi setan pada telinganya.”  Hujjatul Islam juga mengutip sabda yang lain, “Dua rakaat yang dikerjakan seorang hamba pada tengah malam adalah lebih baik baginya daripada dunia dan seisinya. Kalaulah tidak memberatkan umatku, niscaya aku mewajibkannya kepada mereka.”

Menurut Al-Qasimi dalam kitab tafsirnya Mahasinut Ta’wil, hikmah diistimewakannya waktu menjelang subuh tak lain karena waktu itulah kesempatan yang paling senggang bagi manusia untuk mencari ‘embusan’ dzat Maha Pengasih dan kelembutan Dzat Yang Maha Suci. Saat itu, kata mufassir ini, melaksanakan ibadat memang terasa amat berat. Tetapi niat menjadi bersih, keinginan menggelora, ditambah amat dekatnya Allah Yang Maha Tinggi dan Yang Maha Kudus. Dalam riwayat Al-Hasan Al-Bashri, Lukmanul Hakim kepada putranya: “Anakku, kamu jangan lebih lemah dari seekor ayam jantan. Ia bisa berkokok menjelang subuh, sementara kamu masih mendengkur.”

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda