Cakrawala

Dari Kisah Penyamaran Umar bin Khattab

Written by Arfendi Arif

Dalam sejarah Islam Umar bin Khattab dikenal sebagai pemimpin yang adil, tegas, cerdas, inovatif dan amat memperhatikan kehidupan rakyat. Yang terakhir ini menarik diungkapkan bahwa Umar punya kebiasaan terjun ke masyarakat untuk memperhatikan kehidupan rakyatnya.

Sebagai pemimpin yang concern dengan keadilan dan kesejahteraan rakyatnya, Umar tidak puas kalau tidak mengetahui secara mendalam kehidupan rakyatnya. Untuk itu ia punya kebiasaan masuk kampung dan lorong -lorong pemukiman penduduk untuk mengetahui apakah pemerintahannya berjalan baik  dan mensejahterakan rakyatnya.

Dalam metode sekarang bisa disebut ia melakukan penyamaran, berperan sebagai orang biasa bertamu ke rumah penduduk, sehingga dapat mengetahui kehidupan yang sesungguhnya dari rakyatnya. Dan bisa juga ia melakukan secara terang-terangan, hal ini biasanya jika ia mengontrol mengenai kejujuran seseorang yang itu akan berakibat pada rakyat. Antara lain, ia menguji kejujuran pedagang di pasar.

Sebuah  kisah menggambarkan penyamaran Umar bin Khattab untuk mengetahui kesejahteraan rakyatnya. Menurut riwayat Zaid bin Aslam yang ia terima dari bapaknya yang bernama Aslam (bekas budak Umar) dikisahkan sebagai berikut.

“Saya dengan Khalifah Umar bin Khattab berjalan-jalan keluar kota Madinah hingga sampai ke desa “Hurrah Waqim”. Dari ketinggian sebuah bukit kami melihat api yang menerangi salah satu rumah.Karena kedinginan kami segera ke rumah tersebut. Umar mengetuk pintu seraya nengucapkan,” Assalamualaikum”.! Dari dalam terdengar jawaban ,” alaikumussalam”.

“Bolehkah, kami masuk rumah,” pinta Umar mohon izin. “Kami dengan senang hati menerima kedatangan tuan,” balas si pemilik rumah. Maka Umar dan saya pun memasuki rumah tersebut. Dalam rumah kami melihat seorang anak yang sedang menangis dan sebuah periuk diletakkan di atas tungku yang dinyalakan api.

“Apakah yang ada dalam periuk itu, dan kenapa anak itu menangis,” tanya Khalifah  Umar kepada perempuan itu.

“Anak itu menangis karena kelaparan, saya nyalakan api supaya disangkanya saya memasak makanan, kalau telah lama menangis tentu ia akan tertidur,” jawab perempuan tersebut, yang terpaksa mengelabuhi anaknya karena kemiskinan. Kata perempuan lagi, ” Antara kami dengan Umar tentulah Allah akan mengadakan perhitungan di kemudian hari nanti,” ujarnya.

“Apakah Khalifah Umar tidak mengetahui  keadaanmu,” tanya Khalifah Umar bin Khattab. Perempuan itu menukas,” Dia diangkat jadi khalifah untuk memperhatikan basib kami,”.

Mendengar jawaban perempuan itu, lalu Khalifah Umar berkata kepada saya” Mari kita berjalan”. Lalu kami menuju tempat penggilingan tepung. Khalifah Umar mengambil beberapa karung tepung dan daging kemudian ia sendiri memikulnya.

“Aku berkata,” Biarlah saya yang memikulnya. Tapi Khalifah Umar menjawab,” Bisakah kamu memikul dosaku di hari kiamat nanti”. Sesudah itu kami terus berjalan ke rumah perempuan itu.

Setibanya Khalifah Umar dengan saya disana, Khalifah Umar menolong perempuan itu memasak makanan, setelah masak perempuan dan anak itu pun makan sampai kenyang.

Setelah perempuan dan anak itu merasa kenyang, kemudian Khalifah Umar minta izin pulang. Berkata perempuan tersebut,” Mudah-mudahan Allah membalas jasamu dan pekerjaan engkau ini lebih utama dari pekerjaan Umar”.

Meskipun perkataan tersebut menyinggung perasaan Umar sebagai khalifah, tapi ia tidak marah, karena ia sadar dengan kewajibannya. Dan ia berkata kepada saya (Aslam). ” Hai, Aslam sesungguhnya lapar itu adalah musuh, karena aku dapati ia sedang menangis, maka aku suka meninggalkannya dalam keadaan ketawa dan bersuka ria”ungkap Umar.

Pada lain kesempatan Khalifah Umar melakukan penyamaran. Ia memasuki sebuah kampung untuk mengetahui kehidupan rakyatnya. Suatu malam ia menemukan kemah yang baru didirikan di luar kota Madinah.Tertarik untuk mengetahui keadaan di dalamnya Umar masuk ke dalam kemah tersebut. Di dalam didapatinya perempuan sedang menangis, sedang di luar seorang laki-laki berdiri kebingungan. ” Apa yang terjadi, kenapa ada suara orang menangis,” tanya Khalifah Umar.

Kami baru saja datang di kampung ini, istri saya sakit hendak melahirkan, padahal tidak seorangpun yang dapat membantu kami,” jelasnya.

Mendengar perkataan laki-laki itu, Khalifah Umar langsung kembali ke  rumahnya dan menceritakan kepada istrinya Umi Kalsum kondisi yang menimpa musafir tersebut. Kemudian, keduanya segera balik ke rumah orang yang sedang sakit tersebut sambil membawa obat dan keperluan lain  yang dibutuhkan orang yang akan melahirkan. Sedangkan Khalifah Umar membawa periuk  dan bahan makanan untuk dimasak di rumah perempuan itu.

Sedangkan Umi Kalsum, isteri Umar, masuk ke dalam kemah mengurus perempuan yang akan melahirkan itu. Tidak berapa lama keluarlah Umi Kalsum seraya berkata,” Yaa Amirul Mu’minin perempuan itu telah melahirkan seorang anak laki-laki!”.

Mendengar sebutan Amirul Mu’minin suami perempuan yang melahirkan tersebut ketakutan dan langsung minta maaf. “Tidak apa-apa, tugas ini sudah kewajibanku sebagai kepala negara,” jawab Umar.

Setelah selesai Umi Kalsum mengurus perempuan itu, lalu Khalifah Umar bin Khattab menyediakan makanan yang telah dimasak, dan diberikan kepada perempuan tersebut, kemudian khalifah dengan isterinya kembali ke rumahnya, sambil berpesan.” Besok jumpailah  saya, di rumahku,”.Pada keesokan harinya laki-laki itu menjumpai khalifah, dan ia kembali dengan perasaan syukur dan gembira pula.

Sekelumit kisah Umar bin Khattab di atas  menggambarkan jiwa seorang pemimpin yang punya tanggung jawab besar pada rakyat. Ia tidak pernah merasa tenang jika rakyatnya hidup menderita dan susah. Baginya, kebahagiaan rakyat yang lebih utama dari kepentingan dirinya sendiri dan keluarganya.

Semua, dilakukannya bukan saja karena tanggung jawabnya sebagai amirul mu’minin semata, tapi tanggung jawabnya juga  kepada Allah, yang akan menagih pertanggung jawabannya pula  sebagai khalifah. Dan, itulah yang ditakuti oleh Khalifah Umar bin Khattab sehingga ia selalu bekerja untuk kebaikan demi mencapai Ridho-Nya dan Cinta-Nya. Allahu  ‘alam bish-shawabi.

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • 23-april-19972-1024x566
  • tabloid-panjimasyarakat
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • Hamka
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • hamka