Adab Rasul

Berbohong, Sumber Segala Keburukan dan Kezaliman

Sebuah kafilah yang bergerak dari Hamdan di wilayah Iran menuju Baghdad, tiba-tiba dikepung oleh 60 orang pengendara kuda, yang merampok semua anggota rombongan kecuali seorang anak yang beranjak remaja.

Seorang perampok sambil lalu menyapa anak itu dengan menyebutnya fakir, seraya bertanya mempunyai apa? Si anak menjawab, “Terjahit dalam sakuku di bawah ketiakku.”  Si perampok tak peduli dengan jawaban tersebut, demikian pula perampok lain yang melakukan yang sama terhadap si anak, karena menyangka anak tersebut mengejeknya.

Ketika para perampok mulai membagi hasil rampokan, Sang Pemimpin Perampok tiba-tiba memperhatikan si anak, dan mengajukan pertanyaan,

“Apa yang anda bawa?”     “Empat puluh dinar,” jawab si anak anak.   “Di manakah itu,?” tanyanya kemudian. “Terjahit dalam saku di bawah ketiakku.”

Lalu diperiksa, dan mereka mendapatkan apa yang si anak katakan. “Mengapa anda mengatakan yang sebenarnya,? tanya pemimpin perampok. “Karena ibuku menasihati supaya selalu berkata benar dan jujur, dan aku tidak akan menyalahi janjiku,” jawabnya.

Tiba-tiba pemimpin perampok itu menangis dan berkata, “Anda tidak mengkhianati janjimu kepada ibumu, sedang kami telah bertahun-tahun menyalahi dan melanggar larangan Allah. Maka sejak hari ini kami bertaubat kepada Allah.”

Semua angota kawanan perampok itu kemudian mengikuti bertaubat, “Engkau pemimpin kami dalam perampokan. Maka kamu juga  pimpinan kami dalam bertaubat.” Selanjutnya harta  yang mereka rampas dikembalikan kepada pemiliknya. (Dari buku “Membuka Aib Saudara. Kisah-kisah Teladan dari Kitab Darratun Nashihin dan Irsyadul Ibad, Mitra Pustaka – 1999).

Sahabatku, ini adalah kisah perjalanan seorang anak remaja yang mau belajar menimba ilmu agama di Baghdad. Anak tersebut di kemudian hari tumbuh menjadi seorang mursyid, ulama sufi termasyhur yang pengikutnya tersebar di seluruh penjuru dunia termasuk di Indonesia. Ia adalah Syekh Abdul Qadir Jailani (1077 – 1166M atau 470 – 561H).

Berbekal kejujuran, lawan dari dusta dan kebohongan, remaja Abdul Qadir Jailani telah tumbuh menjadi tokoh panutan yang dihormati, sesuai dengan sabda Rasulullah sebagaimana dikisahkan Ibnu Mas’ud sebagai berikut, “Sesungguhnya  kejujuran itu menunjukkan kepada kebajikan dan kebajikan menunjukkan  ke surga. Seseorang yang membiasakan diri berkata jujur, akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang benar-benar jujur. Sedangkan kebohongan, menunjukkan kepada penyimpangan, dan penyimpangan menunjukkan ke neraka. Sesorang yang membiasakan dirinya berkata bohong, akan dicatat di sisi Allah sebagai pembohong berat, “(HR.Bukhari dan Muslim).

Selanjutnya beliau juga mengingatkan, “Tidaklah ada akhlak yang lebih dibenci oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam daripada dusta.” (Shahih, lihat Silsilah ash-Shahihah 2052). Terkait itu, dalam surat Al Jatsiyah ayat 7, Allah pun memberi ancaman pada orang-orang yang gemar berdusta, “Kecelakaan besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa.”

Sahabatku, pernahkan anda untuk sesuatu urusan penting dibohongi oleh orang lain? Duh, betapa sakitnya. Berkata atau perkatan yang tidak jujur atau berbohong atau berdusta, adalah sumber segala keburukan. Dusta yang satu biasanya diikuti dengan dusta-dusta yang lain.

Dusta adalah perbuatan maksiat yang menimbulkan dosa besar, sebab termasuk perbuatan pengkhianatan terhadap kepercayaan orang lain. Oleh karena itu Allah dan Rasulullah mengharamkan serta mengancam pelakunya dengan berbagai hukuman. Kanjeng Nabi saw. bersabda, ” Sesungguhnya bohong itu akan menunjukkan kepada kezaliman, dan kezaliman itu akan mengantarkan ke arah neraka.” (HR. Bukhari – Muslim).

Mengapa tidak jujur, dusta dan berbohong dianggap sebagai sumber segala keburukan?  Sebuah pasukan yang hendak menyerbu musuh mengirimkan pasukan pengintai untuk mengetahui keadaan medan tempur dan sikon lawan. Sang pengintai melaporkan pasukan akan melewati sebuah sungai  dangkal dengan arus lemah yang mudah dilalui dengan berjalan kaki atau berkuda, yang jauh dari penjagaan pasukan lawan.

Ia berbohong sebab  tidak meneliti dengan benar sikon sungai yang sesungguhnya berlumpur dalam dengan arus yang kuat, bahkan tidak sampai menyeberangi sungai sehingga tidak melihat ada basis-basis pertahanan lawan. Apa lacur, pasukan tidak siap dengan kenyataan sehingga cerai berai menghadapi gangguan alam sekaligus serbuan musuh.

Kebohongan dalam skala besar yang menyangkut kepentingan masyarakat luas, nasib bangsa dan negara, akan membawa akibat yang jauh lebih besar dibanding kebohongan atas persoalan antar individu. Karena itu dalam pendidikan kepemimpinan yang Islami, diajarkan untuk meneladani 4 sifat Rasulullah yang dikenal dengan singkatan FAST dari kata (1).Fathonah yang berarti cerdas, pintar; (2).Amanah yakni terpercaya, terutama dalam memegang janji, kekuasaan dan pengelolaan kekayaan negara serta nasib kehidupan masyarakat; (3).Shidiq atau jujur dan menegakkan kebenaran, baik yang berupa perkataan maupun perbuatan; (4).Tabligh yakni menyampaikan. Menyampaikan segala firman Allah yang ditujukan untuk manusia, termasuk menyampaikan kebenaran.Tidak ada yang disembunyikan meski itu menyinggung Nabi.

Masalah kejujuran dan kebohongan, sesungguhnya bukan monopoli ajaran Islam, melainkan juga menjadi pegangan pada agama-agama serta tatanilai masyarakat yang menjunjung tinggi etika dan moral. Karena itu pula di negara-negara maju, seorang pejabat publik diancam hukuman atau sanksi berat apabila melakukan kebohongan kepada publik.

Bagaimana dengan para elit Indonesia yang sebagian besar beragama Islam? Yang kitab sucinya menganggap berbohong adalah perilaku orang yang tidak beriman? “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah pembohong.” (Surat An Nahl : 105).

Semoga Al-Haq, Allah Yang Mahabenar lagi Mahaadil, menganugerahkan hidayah kepada mereka para elit, kepada kita bangsa Indonesia,  sehingga bisa dipegang kata-kata dan janjinya. Semoga kita dianugerahi pemimpin-pemimpin masyarakat, bangsa dan negara yang tidak suka berbohong, yang jujur dan adil, yang bisa diteladani perilaku dan perbuatannya, sehingga memudahkan datangnya pertolongan, rahmat dan berkah-Nya. Amin.

Allahumma shalli wa sallim ‘ala Muhammad.

About the author

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda