Cakrawala

Kepemimpinan Akhlakul Karimah, Belajar dari Sejarah Islam

Masalah moral atau akhlak belakangan   ini menjadi topik perhatian masyarakat. Setelah kepulangan dari pengasingan di  Arab Saudi Imam Besar Habib Rizieq menyatakan akan mengadakan revolusi akhlak untuk membawa kehidupan masyarakat dan bernegara lebih baik.

Masalah pembangunan akhlak merupakan cita-cita Islam sejak misi pertama kerasulan  Nabi Muhammad. Diktum  yang paling terkenal dari pernyataan Nabi Muhammad adalah ” Aku di utus ke dunia ini untuk menyempurnakan akhlak manusia” .

Kalau Nabi menyatakan bahwa akhlak sebagai missi kerasulannya, maka Nabi secara konsisten menerapkan dalam kehidupannya sehari-hari dan dalam memimpin sahabat dan pengikutnya. Bahkan, sebelum Nabi menjalankan misi kerasulannya beliau sudah dikenal sebagai orang dipercaya, amanah, dan berbuat serta berkata yang benar. 

Dalam masa dakwahnya baik ketika di Makkah maupun di Madinah, Nabi menghadapi cobaan yang berat. Cobaan itu bukan saja disakiti secara verbal dengan kata-kata, namun juga kekerasan fisik dengan melukai tubuh dan penyiksaan. Namun, semua itu dihadapi Nabi dengan sikap sabar dan memaafkan.

Demikian juga ketika Nabi sudah menjadi  kepala pemerintahan di Madinah, sikap dan moral atau akhlak yang baik selalu ditonjolkan oleh Nabi  Bahkan, ketika Nabi menaklukan kota Makkah, tak sedikitpun membalas dendam, melainkan menjamin dan menjanjikan keselamatan    buat seluruh penduduk Makkah.

Setelah Nabi wafat  kepemimpinan dilanjutkan oleh khulafaur rasyidin, yaitu sahabatnya yang empat, yakni Abu Bakar Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Mereka adalah sahabat-sahabat utama Nabi yang selalu menunjukkan kesetiaan yang total dan sepenuh jiwanya pada Nabi. Mereka mengorbankan jiwa dan hartanya membantu Nabi menyebarkan risalahnya.

Rasa cinta mereka pada Nabi tidak terputus, meski Nabi tidak lagi bersama mereka. Karena itu, ketika para sahabat ini menjadi khalifah atau amirul mukminin pasca meninggalnya Nabi, mereka melanjutkan kepemimpinan Nabi dengan teguh berpegang pada tuntunan Nabi.

Mereka menjadi khalifah sebagai ibadah. Semata-mata untuk mengabdi kepada Allah. Mereka tidak terpikirkan sedikitpun jabatan ini sebagai kemegahan duniawi. Karena itu sepanjang jabatan dipegangnya kesejahteraan kaum muslimin semata yang  menjadi tujuan dari pemerintahannya. Kepentingan pribadi dikesampingkan dan disingkirkan. Walaupun posisi mereka sama seperti raja, tetapi hidupnya tidak jauh beda dengan rakyat biasa.

Dalam masa kepemimpinan khulafa ur rasyidin inilah suatu tipe kepemimpinan moral dan akhlakul karimah amat menonjol. Secara sederhana  kepemimpinan akhlakhul karimah atau moral adalah kepemimpinan yang menunjukkan kemuliaan akhlak dan budi pekerti, menunjukkan integritas yang tidak luntur oleh godaan kehidupan duniawi.

Tipe kepemimpinan akhlakul kharimah ini misalnya ditampilkan oleh Abu Bakar, seorang sahabat  Nabi yang pertama masuk Islam. Diawal pengangkatannya ia telah mendeklarasikan visi kepemimpinannya dengan bahasa yang ringkas, tapi jelas. Ia mengatakan, ” Saya telah terpilih menjadi khalifah kamu sekalian, meskipun saya bukan orang yang terbaik di antara kalian. Karena itu, bantulah saya seandainya saya ada di jalan yang benar, dan bimbinglah saya seandainya saya ada di jalan yang salah, kebenaran adalah kepercayaan dan kebohongan adalah penghianatan. Orang yang lemah di antara kalian akan menjadi kuat dalam pandangan saya hingga saya menjamin hak-haknya seandainya Allah menghendaki, dan orang yang kuat di antara kalian akan menjadi lemah dalam pandangan saya sehingga saya dapat merebut hak-hak darinya. Taatilah saya selama saya taat pada Allah dan Rasul-Nya, dan tinggalkanlah saya ketika saya mendurhakai Allah dan Rasulnya”.

Meski disibukkan urusan politik dan pembangkangan umat di awal pemerintahannya–yaitu munculnya nabi palsu dan sekelompok orang yang enggan bayar zakat–Abu Bakar tetap menunjukkan sikap salehnya, membantu orang-orang kecil dan lemah. Kebiasaannya ,sebelum jadi khalifah membantu para orang tua memerah susu kambing dan memberi makan. Pekerjaan ini tetap dilakoninya setelah jadi khalifah. Ia tidak merasa hina mengerjakan untuk orang tua yang tidak berdaya tersebut.

Maknanya, Abu Bakar bukanlah seorang yang sombong dan congkak ketika kursi kekuasaan telah diraihnya  Seorang sahabat  tabi’in bertanya  mengenai pribadi Abu Bakar, sahabat itu menjawab. ” Aku lihat ia seorang raja yang hidupnya serupa dengan orang miskin”.

Dari pribadinya yang sederhana, jujur dan berakhlak mulia tersebut maka Abu Bakar tidak mudah tergoda dengan harta dan kuasa. Sebagai khalifah ia tidak menuntut gaji yang tinggi. Bahkan, setelah diangkat jadi khalifah ia masih mau berniaga kain untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, Namun Umar bin Khattab melarangnya dan minta Baitul Maal memberinya gaji sekadar untuk kebutuhan keluarganya.

Menurut Abu Ubaidah (pemegang kunci Baitul Mal) belanja Abu Bakar sebagai khalifah adalah layaknya golongan pertengahan. “Aku akan menetapkan bagimu uang yang cukup sebagaimana yang dibutuhkan untuk makanan seorang dari kebanyakan kaum Muhajirin yang bukan paling utama di antara mereka dan tidak pula paling rendah di antara mereka. Juga  pakaian untuk musim dingin dan musim panas. Apabila telah usang kembalikanlah kepada kami dan Anda akan mengambil gantinya,” jelasnya. Maka ditetapkanlah oleh Abu Ubaidah, dari Baitul Maal 4000 dirham setahunnya untuk keperluan Abu Bakar.

Namun, ketika Abu Bakar hampir meningal dunia ia berkata. ” Aku pernah berkata kepada Umar bahwa aku merasa khawatir, adakah aku berhak memperoleh makan dari harta ini. Dan Umar telah memaksaku untuk berbuat demikian. Kini, apabila aku meninggal dunia, ambillah bagian hartaku sebanyak delapan ribu dirham dan kembalikanlah itu ke Baitul Maal.

Ketika Abu Bakar membawanya ke hadapan Umar, ia berkata. ” Semoga Allah merahmati Abu Bakar. Ia telah membuat payah orang-orang yang datang setelah dia, dengan  memberikan contoh yang amat berat”.

Menurut riwayat Thabrani dari Hasan bin Abu Thalib dikisahkan sebagai berikut.  Pada waktu Khalifah Abu Bakar sakit yang hampir meninggal, ia  berkata kepada anaknya Aisyah (istri Nabi).  ” Hai anakku Aisyah, peliharalah unta yang kita minum susunya, dan wadah tempat kita memasak makanan, dan pakaian yang aku pakai. Hai anakku,  semua barang ini kita pakai dan kita makan, karena aku mengurusi kaum muslimin, maka sesudah aku meninggal, hendaklah barang-barang itu kembalikan kepada Umar”.

Setelah Abu Bakar meninggal dunia maka Aisyah mengembalikan barang-barang itu kepada Umar. Waktu khalifah Umar menerima barang-barang itu ia berkata. “Mudah-mudahan Allah memberi rahmat kepada Abu Bakar, sesunguhnya engkau hai Abu Bakar mempersusah pekerjaan orang yang sesudah engkau karena meninggalkan teladan yang berat”.

Peristiwa di atas menunjukkan betapa tinggi akhlak Abu Bakar yang tidak tergoda dengan harta dan kekuasaan, dan semata bekerja mengurus dan memimpin rakyat dengan ikhlas karena Allah untuk mendapatkan ridho- Nya.

Dalam kepemimpinan Umat bin Khattab  akhlakul karimah ini juga menonjol. Yang paling mengemuka adalah ia amat memperhatikan keadilan dan kesejahteraan umat. Sebagaimana juga Abu Bakar,  Umar yang disebut Amirul  Mukminin (pelayan orang berman) tidaklah terpedaya dengan harta dan kekuasaan. Hidupnya juga amat sederhana dan tidak jauh dari kehidupan rakyat biasa.

Pada masa pemerintahannya kekuasaan Islam telah melebar ke Syam, Palestina, Mesir, Irak, dan bahkan  sebagian wilayah dua kerajaan besar pada waktu itu ( Romawi dan Persi)  di Jazirah Arab dan Afrika berhasil ditaklukannya

Namun, tidaklah kekuasaan yang besar itu membuat ia sombong dan kehilangan kontrol diri. Islam yang dianutnya dengan teguh dan sepenuh hati membuat hidupnya tetap sederhana, berlaku adil kepada sesama, berpegang pada kebenaran, dan tidak berlaku zalim kepada siapapun.

Banyak kebijakan Umar dalam memerintah dan perilakunya sehari-hari yang pantas diteladani. Kehidupan rumah tangganya sangat sederhana, walaupun jika ingin hidup mewah ia bisa saja melakukannya tanpa ada orang yang mampu mencegah.

Umar menjelaskan dalam salah satu pidatonya menyangkut hak khalifah dalam Baitul Maal. ”  Tidak dihalalkan bagiku  dari harta milik Allah ini melainkan dua potong pakaian musim panas dan sepotong pakaian musim dingin, dan uang yang cukup untuk hidup sehari-hari sama dengan orang Quraisy umumnya, dan setelah itu aku adalah seorang biasa seperti kebanyakan kaum muslimin.

Tentu perkataan Umar itu bukan  sekadar formalitas, tapi ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari dalam praktek nyata. Walaupun ia seorang pembesar, tapi kehidupannya dan keluarganya sama saja dengan rumah tangga keluarga miskin. Ia makan sekadar untuk menolak lapar dan memakai pakaian yang sederhana.

Khalifah Umar sangat berhati-hati dalam hal mengambil belanja dari Baitul Maal yang telah ditentukan baginya, kalau sekiranya tidak mencukupi untuk ongkosnya, ia membuat hutang, dan dibayarnya kembali ketika  ia menerima belanja dari Baitul  Maal. Dia melarang keluarganya  berbelanja lebih dari keperluan.

Pada suatu hari isteri Umar bernama Umi Kalsum (anak Ali dari Fatimah) ingin makan makanan yang bercampur gula. Ia minta suaminya untuk membeli makanan itu, tetapi Umar berkata. ” Saya tidak mempunyai uang buat membelinya, lalu Umi Kalsum berkata. ” Bolehkah saya mengurangi membeli makanan yang lain, dan kelebihan uang itu saya belikan untuk makanan yang saya ingini”.Umar berkata, silakan! Umi Kalsum mengerjakan secara yang disebutkan.

Beberapa hari setelah Umar ingat uang kelebihan itu,  ia bilang kepada isterinya.” Uang kelebihan beli makanan yang dibelikan makanan bercampur gula itu hendaklah kembalikan ke Baitul Maal sebanyak yang dibelanjakan  ” Kita memperoleh nafkah dari harta kaum muslimin, karena itu wajib berbelanja sekedar yang  perlu saja,” kara Umar.

Kesederhanaan itu juga terlihat dalam berpakaian yang hanya memiliki dua pasang pakaian saja, yakni pakaian pada waktu musim panas dan pakaian musim dingin.

Demikianlah contoh kesederhanaan Umar bin Khattab yang sangat hati-hati menggunakan kas negara, dan tidak mau menggunakan sesuka hatinya, walaupun ia seorang kepala negara. Banyak contoh lainnya yang menunjukkan kuatnya Umar berpegang pada kemuliaan akhlak dan moral dalam memimpin, yang semuanya dimotivasi pada ketaatan pada ajaran Tauhid dan Islam, semuanya semata untuk  mencari Ridho Allah.

Pengganti Umar bin Khattab adalah Usman bin Affan. Ia menjadi khalifah cukup lama,12 tahun. Enam tahun  pertama berjalan dengan damai, namun 6 tahun kedua banyak permasalahan yang muncul.

Pada masa Usman kekuasaan Islam semakin luas. Wilayah kekuasaan sampai Afrika. Angkatan perang juga diperkuat, yaitu membangun angkatan laut. Usman tidak hanya memperhatikan kekuasaan teritorial, namun juga pranata hukum dengan mendirikan kantor pengadilan, yang selama ini hanya diadakan di masjid.

Wilayah pemerintahan juga ditata berdasarkan provinsi yang dipimpin seorang gubernur. Ada 10 provinsi dengan masing -masing seorang gubernur. Usman dulu seorang saudagar yang kaya. Ia masuk Islam melalui Abu Bakar. Usman yang beristerikan dua puteri Rasulullah dan dijuluki Zu an- Nuurain,  artinya yang memiliki dua cahaya. Usman seorang hartawan yang dermawan. Ia membiayai banyak peperangan di masa Rasulullah, memerdekakan budak, dan berwakaf untuk kepentingan kaum muslimin.

Di masa Usman dilakukan renovasi atau perluasan Masjid Madinah maupun Masjid Haram Makkah untuk menampung jumlah jamaah haji maupun yang shalat yang makin membludak.

Jasa Usman yang sangat besar adalah usahanya membukukan Al-Quran yang kemudian terkenal dengan sebutan mushaf. Ada lima mushaf yang dikirim ke  Makkah, Suriah, Basra, Kufah dan Madinah. Yang di Madinah disebut Mushaf al Imam atau Mushaf Usmani.

Usman sahabat yang tergolong as-Sabiqun al -Awwalun ( yang pertama masuk Islam) dan dijamin masuk surga. Usman bin Affan dikenal sangat mencintai Al-Quran,dan tidak pernah lepas waktunya membaca wahyu Allah ini. Bahkan, pada saat dibunuh oleh pemberontak Usman dalam keadaan membaca Al-Quran dan berpuasa.

Usman bin Affan digantikan oleh Ali bin Abi Thalib. Ia adalah pribadi yang paripurna. Ini dibuktikan dengan beberapa julukan yang dilekatkan kepadanya, antara lain Asadullah yang berarti Singa Allah sebagai julukan keberanian dan kehebatan dalam berperang, kemudian Babul Ilmu karena keluasan pengetahuannya, dan Karamullahu Wajhah, karena kemuliaannya. Ali bin Abi Thalib adalah keponakan Nabi, dan orang pertama masuk Islam dari kalangan pemuda.

Ali bin Abi Thalib adalah contoh pemimpin Islam yang mempertaruhkan seluruh hidupnya bagi tegaknya agama Allah. Untuk itu ia tidak ragu-ragu memberikan apa yang dimilikinya, bahkan nyawanya sekalipun. Ketika Rasulullah dikepung kafir Quraisy dan bermaksud hendak dibunuh, Ali dengan berani menggantikan posisi tempat tidur Nabi sehingga kafir Quraisy berhasil dikelabuhi.

Ali bukan hanya cemerlang karena keberaniannya, tapi juga komitmennya terhadap Islam ditunjukkan sepanjang hidupnya dengan menyertai perjuangan Rasulullah baik dalam masa yang penuh dengan pergolakan maupun ketika sudah damai.

Dalam masa perjuangan fisik atau peperangan melawan kafir Quraisy yang dilakukan oleh Rasulullah hampir seluruhnya disertai Ali, kecuali dalam peperangan Tabuk ia ditugasi  Rasul mengurus kaum muslimin. Dalam Perang Badar ia juga yang pertama kali terjun ke medan laga. Dalam tradisi masyarakat Arab bila terjadi peperangan secara massal, sebelum perang terbuka berlangsung,  maka didahului perang tanding seorang lawan seorang. Pada waktu peperangan Badar (perang pertama dalam Islam) maka Ali yang mendapat kehormatan berperang tanding dengan tokoh dari kafir Quraisy. Pada waktu itu ada tiga pasang yang bertarung, dari pihak Islam diwakili semuanya keluarga Nabi yaitu Hamzah Abdul Muthalib, Ali bin Abi Thalib dan Ubaidah, sedangkan dari pihak kafir Quraisy diwakili Syaibah, Utbah dan al-Walid (putra Utbah).

Sikap ksatria dan keberanian Ali bisa dilihat dalam berbagai peristiwa sebagai berikut. Pertama, ia turut dalam semua peperangan dalam masa Rasul, kecuali waktu Perang Tabuk. Sewaktu peperangan Uhud hanya Ali yang konsisten bertahan di atas bukit sebagaimana diperintahkan Nabi, sementara yang lain turun ke bawah mengejar musuh dan berebut harta ghanimah (rampasan perang). Sewaktu peperangan Khaibar berkat keberanian Ali maka musuh bisa ditaklukan.

Dalam.hal ini i ada sebuah cerita, ketika tentara Islam disiapkan untuk peperangan Khaibar, Rasul bersabda.” Sesungguhnya aku akan memberi bendera peperangan besok kepada laki-laki yang ia akan menaklukan negeri ini dengan izin Allah dan Rasulnya, aku kasih kepada laki-laki itu, dan ia akan kasih pula kepada Allah dan Rasulnya.

Pada malam itu tiap-tiap orang Islam mengharap akan dapat bendera peperangan, dan mereka saling menerka, kepada siapakah bendera akan diberikan oleh Nabi. Ternyata bendera itu diberikan kepada Ali.

Selain dikenal satria yang memiliki keberanian Ali juga  orang yang pemaaf, tidak memiliki dendam sekalipun kepada musuh-musuh yang sangat nembenci dirinya. Adalah Marwan bin Hifan, seorang yang sangat memusuhi Ali dalam peperangan Jamal, waktu ia tertangkap Ali melepaskannya.

Demikian juga Abdullah bin Zubair, yang selalu menjelek-jelekan Ali di muka orang ramai. Pernah ketika membaca khutbah di Basrah ia berkata.” Seorang yang jelek dan busuk telah datang kepadamu,” katanya. Tentu, yang dimaksudnya adalah Ali. Dalam Perang Jamal Abdullah bin Zubair berhasil ditawan dan dibawa ke muka Khalifah Ali, dan ia diberi maaf dan dibebaskan oleh Ali.

Penduduk Basrah sangat membenci Ali dan selalu memeranginya, namun ketika negeri itu ditaklukan, Ali tidak membalas dendam perlakuan buruk tersebut, bahkan memberikan maaf.

Ketika terjadi peperangan antara tentara Ali dengan Muawiyah berada di tempat yang terdapat air, sementara tentara Ali berada di padang pasir yang gersang Tentara Muawiyah berkata. “Jangan diberikan air kepada tentara Ali, biarlah mereka mati kehausan,”

Mengetahui mereka bisa mati kehausan maka tentara Ali berjuang merebut tempat yang mengandung air itu dari tangan tentara Muawiyah, dan berhasil menguasainya. Di antara tentara Ali itu mengusulkan supaya membalas perlakuan kejam tentara Muawiyah dengan membiarkan pula mereka mati kehausan sehingga tidak perlu lagi bertempur. Namun, dengan jiwa seorang kesatria Ali berkata.” Demi Allah, saya tidak suka mengerjakan seperti yang mereka lakukan kepada kita, pedang telah cukup buat kita untuk menaklukan mereka” katanya.

Ali juga memerintahkan pasukannya untuk tidak berlaku kejam dalam peperangan. Itulah sebabnya, sebelum berperang ia  berpesan pada tentaranya,  seperti pada waktu Perang Jamal.” Apabila kalian berhasil memukul mundur mereka, janganlah membunuh seseorang yang sedang melarikan diri dan jangan menghabisi nyawa orang yang terluka dan jangan pula membuka aurat seseorang”.

Kemudian setelah kemenangan yang dicapainya, ia melaksanakan shalat jenazah atas para syuhada dari kedua belah pihak dan menguburkan mereka bersama-sama dengan penghormatan yang sempurna. Adapun segala harta benda yang ditinggalkan oleh pasukan lawannya, ia telah menolak–dengan penolakan yang tegas– untuk menganggapnya sebagai harta rampasan perang.  Sebaliknya, ia telah mengumpulkan itu semua di Masjid Jam’i di Basrah dan mengumumkan di kalangan penduduk. ” Barangsiapa dapat mengenali hartanya, , hendaknya ia mengambil kembali”.

Demikian pula Ali telah memperlakukan Sayyidah Aisyah, yang pada waktu itu merupakan panglima sebenarnya dari kelompok yang terkalahkan –dengan perlakuan yang sangat penuh penghormatan, dan setelah itu memulangkannya ke kota Madinah di bawah penjagaan, pengawalan serta penghormatan yang sempurna.

Selain pemaaf Ali juga dikenal seorang yang pemurah memberikan bantuan kepada orang-orang miskin yang sangat membutuhkan makanan, bahkan tidak jarang karena tingginya semangat berkorban itu ia rela memberikan barang yang dimilikinya sekalipun itu milik satu-satunya.

Sebuah contoh kedermawanan Ali dan keluarganya diabadikan menjadi sebab turunnya ayat Al-Quran (asbabun nuzul). Ceritanya sebagai berikut, Sayyidina Ali kehabisan makanan sehingga keluarganya menderita kelaparan. Untuk itu Ali pergi ke rumah seorang Yahudi mengambil benang untuk ditenun oleh istrinya Fatimah (puteri Nabi Muhammad).

Upah menenun itu dibelanjakan dan memperoleh tiga mangkok gandum, satu mangkok gandum diolah menjadi tepung untuk dimakan. Ketika Sayyida Ali hendak makan datang seorang miskin yang meminta-minta, lalu ia beri satu mangkuk. Pada hari kedua datang pula seorang anak yatim diberi pula satu mangkok, dan pada hari ketiga datang lagi seorang yang baru keluar dari tawanan meminta makanan, lalu Sayyidina Ali memberinya pula satu mangkok, karena  habis akhirnya Sayyidina Ali dan keluarganya hanya minum air untuk menahan lapar.

Dari peristiwa yang terjadi dalam keluarga Ali ini turunlah ayat Al-Quran yang memuji amal perbuatan keluarga Ali tersebut. ” Dan mereka memberikan makanan yang sangat dicintainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan (al-Insan ayat 8).

Sejarah kepemimpinan moral atau akhlakul karimah yang diusung sejarah kepemimpinan Islam ini menjadi teladan yang baik untuk saat ini. Jika sekarang  ada yang  mempopulerkan   revolusi akhlak atau revolusi mental maka yang pertama perlu di revolusi adalah perilaku beragama kita. Yaitu proses atau tahap revolusi itu harus  menuju kesempurnaan melalui tahap menjadi Muslim (menyerah diri kepada Allah), Mu’min (beriman teguh), Shalihin (berbuat kebajikan), Muttaqin ( bertakwa),  menjadi Imam lil Muttaqin ( contoh bagi muttaqin lainnya), dan sampai pada derajat Muqarrabin, yang terdekat kepada Allah ( Hamka, Tafsir Al Azhar Juz VIII hal. 57).

Itulah,  yang tepat disebut revolusi akhlak, menjadi manusia yang dicintai Allah.

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda